Sun. Sep 27th, 2020

PUISI-PUISI YUSMITA FEBRIANA Y: PENYUARA RINDU UNTUK IBU

Penyuara Rindu untuk Ibu

Pengasuh raga pemberi jiwa

mengasingkan perih terasa

dari ribuan cerita kuno yang abadi

aku tak temui dirimu terpaut

 

Sejak saat kau berjuang

napas terbuang diganti sayang

lalu jiwa-jiwa keras pergi

entah dibawa lekang atau kenang

dan dalam penerangan

memecah belah penat

suara emas didapat pula

dalam kecanduan merindukan ibu

 

Ratusan sebab ku tanya

dari mana datangnya cinta

kasih mengikut jua

mengapa jerah mengusap sendu

tentang cinta dan perjuangan

lemah melanda kering menderu

dijuang dipuja disayang-sayang

pengusir kasih menjelma jiwa

demi kisah lain dalam kesemuan

palsu sudah dirayu sesaat

ibu tak pernah menyayat dada

 

Hingga dipenghujung usia

selang keranda di tengah

ibu sukar melupa

tentang anak berat rasanya

 

Sekarang ku bayang ku tau merasa

setelah tiada aku kemana

banyak tanya belum menyapa

ketika hendak engkau sedang dalam dekapanku

 

Ibu, anya rindu penangkap doa

Ibu, akar penopangku

detakku mungkin tak bisa berhenti sejenak

Ibu, pecandu kasihmu aku terpaut

dengan kata jua cinta

Ibu, sumber ketidaktahuanku untuk melukisnya dengan sajak

Makassar, 2017


Rindu Dalam Sumbing Kemuakan

Debu debu rindu

mengepal menyatu dalam darah

kala kami berjuang membangun mimpi

menyeberangi luapan emosi meraung rimba

 

Kala itu,

kami mengayun dalam suka

kami aman dalam dekapan

kami lupa seakan dunia punya alur

suara kami beradu menyatu bersama zaman

 

Lalu lingkaran kami abadi

saat sorakan di jemari

menawan satukan tuju

lalu terhimpit oleh luka bersenandung

tapi bungkam dengan harimau yang jinak

kala itu, satu tuju satu arah kami

melambungkan api membara di dada

kami disengit isak bahwa kami selalu menang

 

Lalu tiba-tiba sang anjing meraung

disusul anak-anaknya

memimpin kami bak roda berkawat

diterpa angin hebat menyesakkan jiwa

yang katanya akan abadi dalam damai

tetapi hancur entah kemana

seraya mengapit kekuatan kami

 

Lingkungan kami malang

digelari bentrok berkepanjangan

sambutlah lagi semua kawan kami

nun mati dan rusuh ditelan amarah

kami rindu,

kami menangis tapi pemimpin kami buta

kami berteriak tapi mereka sungguh penoda

 

sajak pilu kami

dengarlah wahai dunia

sembari ceritakan bahwa kami amat lara

Makassar, 2017


Yusmita Febriana Y atau biasa disapa Mita, lahir di Jeneponto, 21 Februari 1999. Gemar menulis puisi dan memiliki ketertarikan dalam dunia sastra sejak duduk dibangku sekolah menengah. Puisinya pernah menang saat lomba cipta puisi antar sekolah tingkat SMA se-kabupaten. Saat ini tengah menyelesaikan studi di Sastra Inggris FBS UNM.


sumber gambar: harian.analisadaily.com

Leave a Reply

Skip to toolbar