IBU

Wanita yang pernah meniduriku
Sosok bidadari yang menyusuiku
Aku tidak tahu harus berkata apa padamu
Dengarlah wahai ibu

Dulu aku sangat ingin mencumbuimu
Hingga tak akan pernah melepaskanmu
Pernah aku bertanya padamu
Apa itu mencintai?

Mencitai itu kau takkan melepaskan seseorang hingga kau berlumuran darah
Rela mati untuk dia
Kalau begitu
Aku mencintaimu ibu

 

SANG PENCARI NAFKAH

Fajar datang menampakkan diri
Mempercantik wajahnya
Bermodalkan pelita
Yang terang benerang

Dusunku seakan tersenyum
Dengan berlesungkan pipi yang indah
Bernyanyi riang menyambut pesonanya
Kaki kusut terus melangkah

Wajah bahagia terpancar
Dengan swmangat api membara
Kehidupan memang begitu keras
Hingga tulang saling beradu
Layaknya sang jago merah meraung

Apakah ini harus terjadi
Untuk sisa umurmu
Untuk sisa hidupmu
Wahai ayahanda

Alasanya hanya satu
Untuk dirimu
Wahai sang buah hatiku

 

ULAR BERKEPALA DUA

Tunjukan kobaran apimu
Jika engkau ingin melawanku
Tunjukan kejantananmu
Jika engkau berotot

Wahai sang berbisa
Kau tahu pengorbananku
Kau pasti tak akan tahu
Karena kau hanya seekor binatang

Pernahku sebut kau sahabatku
Tapi kini kau tlah berkepala dua
Yang sangat berbisa
Sungguh kejam yang kau lakukan kepadaku

Tapi ingatlah wahai hewan berdesis
Ular tak akan pernah bisa
Menengok ekornya
Walaupun berkepala dua sekalipun

Adim Nur Majid Lahir Bima 05 Desember 1998, Asal Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.  Menurut Adim tidak ada perbuatan baik yang sia-sia.

Estetika Tim