Sebenarnya aku belum bisa berterima dengan kenyataan yang menimpaku ini. Aku masih mencintaimu, tapi kenyataannya kau tak mencintaiku. Aku memutuskan untuk pergi menjauh dari kehidupanmu, menghapus kenangan tentang dirimu dan melupakan suka duka bersamamu. Aku mengembara yang pada dasarnya pengembaraanku ini hanya untuk sekedar melupakanmu.

Setelah mengalami perjalanan yang cukup jauh, aku singgah di sebuah kedai kopi yang tak kuketahui nama kedainya apa. Kedai ini berdiri sekitar limaratus tahun lalu. Konon, kedai ini adalah tempat para pengembara beristirahat. Ku lihat banyak pengembara yang sudah selesai istirahat dan menaiki kudanya dan melanjutkan perjalanannya. Karena aku hanyalah sebuah pengembara lata yang hanya pergi mengembara karena putus cinta,dan tidak mempunyai prinsip hidup, jadinya aku mengikuti salah seorang pengembara yang sedang menuju ke daerah selatan.

Kau harus tahu, ini sebuah perjalananku yang menyenangkan meskipun perjalananku ini untuk melupakanmu, tapi sepertinya aku belum bisa melupakanmu untuk saat ini. Pengembara yang aku ikuti semakin jauh dari pandanganku, salah satunya karena adanya badai pasir dan juga pengembara itu memakai kuda sedangkan aku hanyalah menaiki seekor keledai. Tentu perbandingan yang sangat jauh antara pengembara profesional dan pengembara yang lata yang pergi menjauh karena putus cinta.

Sepertinya aku harus beristirahat, tak kusangka badai pasir itu membuatku jatuh pingsan tak  sadarkan diri di atas keledai. Aku harus berterima kasih kepada keledaiku yang menyelamatkanku dari badai pasir. Untung saja aku punya keledai bukan kuda, kalau kuda sudah kupastikan ia akan meninggalkanku dari badai itu. Aku begitu pusing mungkin karena letih dan juga kelaparan. Sejak pingsan keledai itu membawaku tiba di sebuah negeri yang tak ku ketahui namanya.

“Negeri apa ini?” aku bertanya pada salah seorang di negeri ini.

Anehnya dia hanya menatapku dengan wajah yang datar, lalu pergi tanpa berbicara sepatah kata pun, sepertinya aku tidak sopan dalam  berbicara ataukah orang itu yang aneh. Aku mencoba bertanya ke orang lain, namun semuanya hanya menatapku dengan wajah yang datar sama seperti orang yang pertama yang kutanyai. Negeri ini sepertinya memiliki masalah besar. Kenapa semua orang di negeri ini menanggapi pertanyaan dengan wajah datar? Akhirnya aku memutuskan untuk mencari informasi yang akurat di negeri ini dengan membeli buku yang di jual di pedagang kaki lima yang kebetulan lewat, entahlah buku yang aku beli ini apakah betul buku sejarah tentang negeri ini atau hanyalah sebuah buku dongeng yang banyak halusinasi di dalamnya. Aku membaca buku itu di penginapan dan ternyata nama negeri yang ku tempati adalah Negeri Matahari yang katanya matahari selalu berada di atas angkasa dan tidak pernah terbenam.

Sebenarnya aku tidak ingin percaya, tapi aku melihat arloji yang kupakai di tangan kananku sudah menunjukkan pukul enam, entah enam pagi atau enam malam tetap saja matahari di sini lebih suka berdiri di angkasa memancarkan sinarnya dibandingkan terbenam lalu datang lagi esok paginya.

“Aneh,” kataku.

“Ha ha ha. Apa yang aneh anak muda?” Seorang pemuda berambut panjang langsung masuk ke kamarku.

Aku terkejut “siapa kau?”

“Ha ha ha. Aku hanyalah seorang pemberontak di Negeri Matahari ini.”
“Maksudnya,” aku begitu bingung mendengarnya berkata seperti itu.

Tiba-tiba dia langsung melompat dari jendelaku dan langsung menghilang di tengah-tengah orang yang berlalu lalang.

Esok harinya aku berjalan di sekitar penginapanku dan  aku baru sadar orang-orang yang berlalu-lalang tidak mempunyai bayangan, padahal di sini mataharinya selalu tergantung di angkasa dan itulah mengapa dinamai  Negeri Matahari. Seharusnya mereka punya bayangan,bukan hanya orang-orang di negeri itu yang tidak punya bayangan bahkan pohon-pohon tidak mempunyai bayangan.

Aku langsung melihat bayanganku dan untung saja masih ada, tapi yang menjadi kebingunganku adalah kenapa orang-orang di negeri ini tidak mempunyai bayangan sedangkan aku masih mempunyai bayangan, atau bisa saja orang-orang di negeri ini dikutuk oleh Tuhan atau mungkin mereka ditakdirkan tidak mempunyai bayangan sejak meraka lahir.. Tiba-tiba orang di Negeri Matahari semua tunduk dan duduk kesatria layaknya seperti dongeng kerajaan yang menunggu datang rajanya. Aku diseret dalam gorong-gorong oleh orang yang tak kuketahui.dan ternyata orang yang menyeretku adalah orang yang waktu itu datang di penginapanku.

“Ouh, jadi kau lagi orang pemberontak,” sahutku.

“Ha Ha Ha. Kau masih mengingatku?”

“Kenapa kau menyeretku ke tempat yang gelap dan bau ini?”

“Aku menyelamatkanmu dari penguasa bayangan di negeri ini. Hati-hati, jika bayanganmu di ambil oleh orang itu, maka kau akan sama halnya orang-orang di atas yang hanya patuh pada perintahnya. “

“Apa maksudmu?”

“Negeri ini sebenarnya dulu adalah negeri yang damai, negeri yang merdeka dan bebas berpendapat tapi kedatangan si penguasa bayangan membuat negeri ini hancur. Orang-orang sekarang hanya diam dan akan bicara jika si penguasa bayangan yang menyuruhnya.”

“Jadi orang-orang yang tidak memiliki bayangan di Negeri Matahari bisa dikatakan hanya sebuah boneka yang bernyawa yang patuh kepada penciptanya?”

Dia tertawa dan berkata “Kau cerdas anak muda, bisa di katakan seperti itu.”

“Jadi kau masih punya bayangan kan?”

“Tentu saja, aku masih punya.”

Ini mungkin terlalu sulit bagiku, aku baru menjadi seorang pengembara tapi langsung mendapatkan masalah seperti ini, Kau harus tahu seberapa banyakpun masalah yang aku dapat di Negeri Matahari, masalah yang paling besar adalah aku tetap mencintaimu. Aku lihat para pemberontak itu sedang berdiskusi dengan teman-temannya dan pastinya diskusi meraka membahas bagaimana caranya untuk mengalahkan penguasa bayangan. Sementara itu, aku berpikir bagaimana caranya keluar dari negeri ini dengan selamat dan berhenti jadi pengembara, apa lagi sekarang aku tidak tinggal di Negeri Matahari, melainkan di gorong-gorong gelap yang hanya dihuni oleh tikus, para pemberontak, dan juga aku

“Ha ha ha. Kau tidak bisa keluar dari Negeri Matahari jika tidak mengalahkan si penguasa bayangan,”

Aku terkejut, kenapa dia bisa tahu pikiranku?

“Santai saja, aku sebenarnya tidak bisa membaca pikiran orang, aku hanya menebak-nebak saja apa yang kau pikirkan, karena pastinya semua orang mau keluar dari gorong-gorong, dan Negeri Matahari jika kondisinya seperti ini.”

“Lantas apakah kau sudah punya rencana untuk mengalahkannya?”

“Untuk mengalahkan si penguasa bayangan hanya ada satu cara yaitu membuat matahari tidak bersinar di negeri matahari dan seketika penguasa bayangan serta pasukan-pasukannya akan menghilang.”

Seketika dia melempar sebuah kain kepadaku.

“Kau mau cepat keluar dari negeri matahari ini kan? Gunakan kain itu untuk membuat matahari tidak memancarkan sinarnya di negeri ini, hanya orang-orang pendatang  yang mampu melakukan hal itu, ikuti gorong-gorong ini dan saat ada cahaya, tutuplah memakai kain itu dan segera keluar dari Negeri Matahari.”

Aku terus berjalan melewati gorong-gorong dan mencari cahaya yang dikatakan si pemberontak dan tiba-tiba aku menemukan cahaya yang sangat besar, terang dan panas sekali. Saat aku dekati, aku langsung saja menutupnya memakai kain dan mengikatnya dengan kuat agar kain itu tidak terlepas. Seketika itu aku langsung berada di Negeri Matahari, aku melihat ada pasar malam sepertinya matahari di negeri ini sudah tidak ada, dan orang-orang di negeri ini semua sudah bebas bicara dan sangat sopan . Tapi aku masih ingat aku akan keluar dari negeri ini dan berhenti jadi seorang pengembara. Aku mau pamit kepada si pemberontak tapi aku tidak menemukannya.

Kau harus tahu, aku telah keluar dari Negeri Matahari dan menyelesaikan masalah di negeri itu. Sepertinya aku ingin berhenti menjadi pengembara, aku ingin kembali bersamamu. Satu hal lagi pastinya penguasa bayangan akan tetap abadi, sebab kain yang kupakai untuk menutup cahaya itu akan terbakar dengan mudah karena cahaya itu terlalu panas dan tentu si pemberontak sudah tahu hal itu.

Aku telah lupa jalan untuk pulang, maaf sudah membuatmu khawatir, tapi tenang saja sepertinya aku tetap mencintaimu.


Ayatullah Patullah merupakan mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2017.

Estetika Tim