Kampus FBS UNM baru saja berduka, Nasrullah, salah seorang dosen yang pembawaannya begitu riang harus menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Paru Pettarani Makassar sekitar pukul 01.15 Wita dini hari (11/4). Belum juga cukup sehari duka itu dipikul, peristiwa memalukan kembali menjadi duka di kampus itu, fakultas yang berjuluk kampus ungu tersebut, menurut informasi yang disampaikan pihak keamanan kampus dan diberitakan bahwa kampus FBS UNM diserang sekitar dua puluh mahasiswa. Mahasiswa yang krisis moral ini membakar habis satu sepeda motor dan merusak enam sepeda motor mahasiswa. Celakanya, portal berita yang dikelola salah satu UKM kampus UNM menerbitkan berita yang membuat gaduh linimasa fesbuk mahasiswa FBS, terkait dengan pemberitaannya Kampus UNM Parangtambung Diserang OTK. OTK adalah kepanjangan dari “orang tak dikenal”. Lalu mengapa hanya dengan kata OTK mahasiswa FBS dibuat gaduh? Mari kita bahas di paragraf berikutnya.

J. B. Wahyudi penulis Jurnalistik Televisi mengatakan bahwa berita setidaknya berfungsi untuk menguraikan fakta yang mengandung nilai berita. Data-data berupa fakta tersebut kemudian disusun menjadi sebuah berita yang menjadi medium masyarakat untuk mendapatkan informasi yang akurat. Dari penjelasan singkat itu, penulis berpandangan, kemungkinan yang membuat gaduh mahasiswa FBS persoalan kata OTK karena kata tersebut sama sekali bias dengan fakta. Penulis menduga, reporter yang meliput dan menerbitkan berita ini tidak melakukan klarifikasi mendalam kepada pihak-pihak yang telah ia wawancarai. Tiga berita pendek yang dipotong-potong itu semua memuat kata OTK yang seakan-akan tidak ingin menunjukkan siapa dalang pelaku penyerangan kampus setelah magrib itu. Padahal mahasiswa fakultas sebelah yang menyerang lebih dari dua puluh orang itu terang-terangan melakukan aksinya.

Penggunaan kata OTK bisa saja dimaknai yang menyerang kampus FBS bukan mahasiswa alias orang yang tidak dikenal, padahal fakta yang terlihat menggunakan nalar apapun yang menyerang adalah mahasiswa juga yang kuliah di fakultas sebelah. Jangan-jangan reporter kampus yang bertugas tidak menanyakan dengan jelas siapa yang menyerang?
Pertanyaan akhir di atas jika kita kaitkan dengan tiga berita yang terbit akan terlihat masuk akal, cobalah Anda baca berita itu dengan cermat, narasumber yang diliput hanya pihak keamanan saja yang diberikan kesempatan berbicara mengambarkan kronologi kejadian, padahal pada saat itu situasi yang terjadi disaksikan juga oleh sebagian mahasiswa yang masih berada di kampus. Reporter abai terhadap narasumber yang mestinya ia liput juga, reporter seperti kurang paham bahwa klarifikasi dari berbagai pihak akan sangat membantu dia untuk melahirkan berita yang tidak minim data.

Dampak yang terjadi atas pemberitaan ini menggiring pembaca seolah-olah kasus penyerangan yang sudah berkali-kali dilakukan oleh mahasiswa fakultas sebelah dilakukan oleh oknum yang tidak diketahui identitasnya. Pemberitaan seperti ini akan melegakan pihak pelaku bentrok, mereka akan seenak dengkulnya merusak dan merusak segala fasilitas dan akan duduk ketawa-ketiwi melihat namanya sebagai orang tak dikenal. Andai saja reporter ingin sedikit meluangkan waktu mencari narasumber penjelas, berita yang diterbitkan tidak mungkin sefatal ini. Reporter yang menerbitkan berita ini bisa saja bahagia karena beritannya di klik banyak orang, hanya karena judul tapi melupakan esensi isi, di sisi lain ia tidak pernah tahu, ada sekian banyak mahasiswa yang cuma bisa berteriak di linimasa fesbuk atau status WA dan story Instagram—memaki dan mempertanyakan mutu berita yang bias fakta—karena tak mendapat ruang untuk diwawancarai.

 

Foto: estetikapers.com

Ambisi untuk mengejar klik pembaca memang kadang membuat reporter luput akan akurasi data. Ia seakan dikejar deadline ¬mati-matian, tapi tak memperhatikan apakah berita yang ditampilkan sudah sesuai dengan fakta, apakah berita sudah memberikan kesempatan kepada semua narasumber yang ada. Deadline sudah tentu harga mati, tapi mematikan fakta-fakta yang ada dalam berita sama halnya melupakan tugas utama kuli tinta—menyampaikan informasi yang jelas dan akurat.

Pada akhirnya berita yang akan terbit berikut-berikutnya dalam keadaan bentrok, akan kita temukan kata OTK sepanjang waktu, penggunaan OTK ada kemungkinan bersifat politis dan di framing untuk mengejar ambisi portal berita yang haus klik pembaca. Saya ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa Anda dalam pemberitaan mempunyai hak istimewa yakni hak jawab. Hak jawab itu bisa Anda gunakan untuk mempertanyakan segala isi berita yang diterbitkan portal berita manapun. Hak jawab yang Anda gunakan akan menghindarkan Anda pada berita yang berpotensi hoax. Karena overdosis kita yang suka berkomentar tanpa menanyakan ke pihak yang bersangkutan hanya akan menambah rasa kesal kita sebagai pembaca. Zen RS, editor Tirto.id sudah mengingatkan kita bahwa yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.

Penggunaan kata OTK berkali-kali—sejauh penelusuran penulis, penggunaan kata OTK telah digunakan dalam delapan berita yang terbit—dalam pemberitaan itu akhirnya membuat tulisan ini lahir sebagai respon penolakan atas pemberitaan yang seenak jidatnya menggunakan kata yang bias fakta.

Biodata Penulis
Muhammad Arifin, lahir di Kolaka Utara, 31 Mei 1995. Saat ini tengah menyelesaikan studi pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergelut di Kelompok Belajar Epigram dan relawan di Ruang Ketemu, ruang yang berfokus pada peningkatan literasi.

*) Opini ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi estetikapers.com.

 

Estetika Tim