Sumber: Int.

Estetika – World Book Day atau Hari Buku Sedunia di gelar setiap 23 April (dua hari setelah peringatan Hari Kartini dan Sehari setelah peringatan Hari Bumi). Sejarah mencatat, hari buku ini berakar pada kematian Miguel de Cervantes , seorang penulis ternama Spanyol yang meninggal pada 23 April. Karya termahsyur Cervantes berjudul Don Quixote. Pedagang buku di Spanyol memprakarsai hari buku pada 23 April 1923 untuk memperingati berpulangnya Miguel de Cervantes. Barulah di tahun 1995, UNESCO menetapkan 23 April sebagai Hari Buku Sedunia. Banyak penulis dunia yang lahir dan meninggal di tanggal 23 April, seperti: Kematian William Shakespare, Miguel de Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega dan Josep Pla, dan kelahiran Maurice Druon, Manuel Mejia Vallejo dan Halldor Laxness.

Marcus Tulius Cicero (106 SM-43 SM) filsuf sekaligus penyair kelahiran Italia ini pernah mengungkapkan, kehidupan tanpa buku bagai tubuh tanpa jiwa. Jika perkataan Cicero dikaitkan kondisi Indonesia saat ini, maka Indonesia dapat dikatakan negara yang memiliki tubuh tanpa ditopang roh atau jiwa. Pasalnya tahun 2012, UNESCO menyatakan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanya 0,001, dari setiap 1000 penduduk, hanya ada 1 orang saja yang memiliki minat baca. Bukan hanya itu, berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Dikutip dari kompas.com [29/8/2017], Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal dari segi infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Dikutip dari antaranews.com [11/1/2017], Ketua IKAPI Jawa Barat Mahpudi mengungkapkan budaya baca Indonesia rendah akibat tumbuhnya budaya media sosial. Baginya, membaca berkaitan erat dengan waktu atau kesempatan. Orang Indonesia lebih memberikan banyak waktunya untuk mengakses media sosial ketimbang membaca buku.

Pengguna media sosial di Internet berkembang pesat di Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pernah menurunkan data statistik pengguna internet Indonesia tahun 2016 yang menunjukan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta penduduk atau sekitar 51,5% jumlah penduduk Indonesia. Jika dibandingkan di tahun 2014 yang hanya 88,1 juta penduduk pengguna Internet, maka terjadi kenaikan sebesar 44,6 juta dalam kurun waktu dua tahun. Yang mencengankan, pengguna internet sebagian besar mengakses web onlineshop sebesar 82,2 juta atau 62% pengguna internet Indonesia. Apa yang bisa diharapkan dari mereka yang kesehariannya hanya mengakses onlineshop ketimbang membaca artikel atau berita?

Dengan kondisi demikian, seharusnya kita sudah harus mulai berbenah memperbaiki minat baca kita. Sebenarnya, sebagai mahasiswa yang menetap di kota Makassar, kita sudah mempunyai beberapa faktor pendukung untuk meningkatkan minat baca. Pertama, toko buku sudah tersedia diberbagai tempat di Makassar, seperti: Toko buku Pelangi Ilmu, Intuisi, Alfarabi, Dunia Ilmu, Bina Ilmu, dsb. Tan Malaka dalam bukunya Madilog pernah menegaskan bahwa “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”

Kedua, diskusi-diskusi buku telah menjalar di Makassar, bahkan telah ada event Makassar Internasional Writer Festival (MIWF) yang menyediakan ruang untuk mendiskusikan seputar buku. Ketiga, tumbuh berbagai perpustakaan kreatif, seperti: Kata Kerja, Pohon Pustaka Bestra, Komunitas Pecandu Buku, Perpustakaan bawah pohon FBS UNM. Dengan fasilitas yang memadai ini, hal yang perlu kita tanamkan untuk mendukung minat baca kita ialah kemauan dan kesadaran mengenai pentingnya budaya membaca. Setiap pengetahuan lahir dari kemauan seseorang untuk membaca. Kalau kita masih bersikukuh memberi banyak waktu mengakses internet dan mencari barang-barang mewah di onlineshop ketimbang membaca buku di waktu luang, kita telah belajar menghancurkan bangsa ini secara perlahan.

Dan akhirnya kita hanya perlu bertanya kepada diri masing-masing, apa yang bisa kita harapkan dari negara yang hanya memiliki minat baca 0,001%?

Ditulis oleh Redaksi Estetika dalam memperingati Hari Buku Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 April 2017.

Estetika Tim