Opini, Estetika – Setiap saat penindasan dalam bentuk intimidasi dan intervensi akademik di beberapa kampus  hadir di Indonesia. Tak henti-hentinya Birokrasi kampus yang seharusnya menjadi orag tua dari mahasiswa rela membuat anaknya menjadi sengsara, tak ada lagi moralitas yang tertuang dalam diri birokrasi. Mereka senantiasa mengedepankan sifat kedewaannya untuk senantiasa menetapkan dan mengesahkan sebuah keputusan yang dianggap mencoreng demokratisasi yang hadir di Indonesia. Wacana Drop Out (DO) adalah senjata ampuh untuk menggugurkan semangat berjuang dari setiap mahasiswa, sehingga hanya embel-embel ketakutanlah yang membuat gerakan mahasiswa menjadi terdegradasi. Akibatnya, kini kata mahasiswa hanya menjadi baju untuk memperlihatkan eksistensinya sebagai makhluk intelektual.

Betul yang dikatakan Eko Prasetyo dalam bukunya yang berjudul Bangkitlah Gerakan Mahasiswa bahwa “kini mahasiswa seperti disulap oleh kampusnya sendiri sehingga meninabobokkan kesadaraan diri kita. Kepatuhan menjadi norma, taat menjadi agama dan Indeks Prestasi menjadi keimanan..”. Label Mahasiswa hanya menjadi sifat kesombongan saja, seakan-akan menjadi heroik dalam setiap permasalahan yang hadir di sekelilingnya, dan lobby demi lobby untuk mengamankan dirinya pun terjadi. Identitas dalam dirinya sudah gugur karena ketakutan yang semakin membeludak. Sehingga penguasa mampu untuk meloloskan segala kebijakan yang dianggap menguntungkan dirinya sendiri.  Alhasil penindasan dan penghisapan yang tajam selalu saja terjadi di sekelilingnya, mereka seakan-akan tuli dan buta melihat ketidakadilan yang hadir di sekelilingnya. Mereka dibentengi oleh konstruk moralitas Kapitalis-birokrat  untuk tetap tunduk dan manut.

Padahal menurut Franz Magnis-Suseno dalam bukunya Filsafat sebagai Ilmu Kritis dikatakan dengan gamblang bahwa “Moralitas adalah keseluruhan norma-norma, nilai-nilai dan sikap seseorang atau sebuah masyarakat. Menurutnya, moralitas adalah sikap hati yang terungkap dalam perbuatan lahiriah (mengingat bahwa tindakan merupakan ungkapan sepenuhnya dari hati), moralitas terdapat apabila orang mengambil sikap yang baik karena Ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan ia mencari keuntungan. Moralitas sebagai sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih” . Beranjak dari itu, moralitas tidak sepenuhnya objektif dan setiap saat masih bisa dikritik melalui etika dari seseorang. Namun, parahnya sebagian besar mahasiswa tidak menyadari dari arti moralitas yang sesungguhnya. Saya katakan bahwa kita telah dibohongi!

Perubahan besar yang hadir di Indonesia tidak terlepas dari peran dari pemuda atau mahasiswa mulai dari pra-kemerdekaan, kemerdekaan, orde lama hingga runtuhnya rezim biadab orde baru. Mahasiswa atau pemuda berperan penting untuk setiap perubahan yang hadir di indonesia seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka bahwa “Kemewahaan terakhir yang dimiliki oleh pemuda adalah Idealisme”. Pengasahan idealisme penting untuk kita yang masih bergelut dengan buku dan lingkaran diskusi. Sebab, kedepannya posisi pemerintahan pasti akan hadir di tangan kita. Namun, bagaimana jika di hari ini mahasiswa masih saja disibukkan dengan nongkrong kosong, shopping, dan bermelankolia? Padahal permasalah terjadi di mana-mana dan akibatnya masyarakat dan diri kita secara tidak lansung merana dan tertindas.

Memang kebudayaan intelektual kita sudah berubah akibat zaman yang menawarkan sebuah peradaban kapitalistik. Kampus yang notabenenya sebagai tempat hadirnya benih-benih revolusioner berubah menjadi tempat yang dipenuhi oleh sekumpulan orang-orang yang hedonis dan resisten. Sehingga arah perubahan bangsa ini menjadi tak tertuju dengan baik. Padahal Tuhan telah memerintahkan kita untuk senantiasa melakukan perubahan di sekeliling kita “…..Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka….” (Q.S A-.Ra’d : 11) dan Tuhan telah menjadikan kita sebagai makhluk yang merdeka (Khalifah) dan fitrah kita adalah mengatur semesta alam “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui(Q.S. Al-Baqarah : 30). Maka, wajiblah kiranya kita sebagai manusia harus senantiasa dan mampu mengubah segala bentuk ketidakadilan yang hadir di muka bumi ini dan terkhsus di kampus kita masing-masing.

Sebagai konklusi, patutlah disadari bersama bahwa kita sebagai kaum intelektual haruslah mampu untuk menetralisir segala bentuk penindasan, penghisapan serta pengungkungan yang terjadi di Indonesia secara umum dan di kampus kita secara khusus. Arah perubahan di bangsa ini hadir di tangan kita. Tak sepatutnyalah kita harus diam apalagi takut jikalau melihat setiap kesewenangan yang hadir di telinga dan mata kita. Saatnya kita harus bangkit dari keterdegradasian dan ketidakmerdekaan kita sebagai mahasiswa untuk senantiasa menolak dan melawan segala bentuk penindasan, penghisapan dan ketidakadilan yang terjadi di negara dan kampus kita. Bangkitlah gerakan mahasiswa, tetap teriakkan kebenaran meski senjata ada di kepala dan ancaman Drop Out (DO) hadir untuk kita.


Dwi Rezky Hardianto kerap disapa Ari merupakan mahasiswa FBS UNM angkatan 2013. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris BEM FBS UNM dan tengah menyelesaikan studi S1 pada prodi Sastra Inggris.


*) Opini ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi estetikapers.com.

 

Estetika Tim