[intense_dropcap font_color=”#000000″] C [/intense_dropcap]atatan-catatan kecil ini akan menjadi sebuah rotasi sejarah yang akan mengantarkan mahasiswa dalam pergolakan untuk mencari identitas dirinya sebagai bagian dari lapisan masyarakat. Harapan terbesar dari perjalanan sebuah peradaban Bangsa ini adalah mahasiswa yang berjalan dalam kesadarnya yang utuh. Terlepas dari sebuah kepentingan-kepentingan kecil yang terlalu politis, mahasiswa menjadi penopang aspirasi dalam memberikan modal semangat kepada seluruh rakyat Indonesia. Dalam posisi tersebut, skema kebijakan Negara ini yang diciptakan oleh beberapa elitis tiran menjadi permasalah yang semestinya dipecahkan oleh segenap mahasiswa yang mengemban amanah intelektualitas yang lahir dari sudut-sudut laboratorium ilmiah yang disebut sebagai kampus.

Sejarah dari Bangsa ini seharusnya menjadi referensi yang kongkrit dalam hal layak positif dari Mahasiswa yang sadar akan eksistensinya sebagai makhluk sosial yang intelektual dan kritis. Sehingga nilai dari gejolak kritis mahasiswa yang variatif mampu untuk menjadi langkah taktis dalam menjalankan gerakan-gerakan yang berujung kepada kemenenangan akan kepentingan rakyat yang termarjinalkan. Gerakan- gerakan tersebut mampu untuk terciptakan jika kesadaran akan tanggungjawab mahasiswa dapat diketahui melalui beberapa medium yang hadir dalam diri secara objektive maupun potensi dari objek eksternal lainnya. Realitas membuktikan bahwa mahasiswa di era milenial ini telah terjerambak ke dalam dimensi keterpurukan akan sistem yang mengharuskan tanggungjawab itu meleleh menjadi sebuah ketakutan-ketakutan. Tentunya sistem tersebut tidak terlepas dari konstruk akan kondisi kampus yang makin memperihatinkan.

Sistem pendidikan saat ini menjadi senjata ampuh bagi pemerintah untuk menciptakan lulusan-lulusan dari sarjana, magister atau doctor yang berkualitas dalam posisinya sebagai konsumen sekaligus produsen komoditas yang mandiri. Persaingan dalam merebut sebuah nilai “A” menjadi gambaran kongkrit dari sistem pasar yang menjadikan persaingan sebagai tolak ukur kemenangan kualitas komoditasnya. Standarisasi itu menjadi dogmatis dalam diri setiap mahaisiswa untuk ikut serta dalam menjalankan sisitem titipan politik dari pasar global sehingga orientasi dari mahasiswa pasti akan berujung kepada proses persaingan kerja secara kualitas, mekanis serta taat akan kedisiplinan palsu yang dikonstruk. Sistem pendidikan tersebut menjadi oposisi biner akan sistem pendidikan yang dibangun oleh para leluhur Bangsa ini.

Melirik sedikit tentang arah sistem pendidikan dari kaca mata sejarah di Indonesia, bahwa secara filosofis sistem pendidikan yang dititipkan oleh para leluhur bemuarah kepada pencerdasan secara kognitif, afektif dan psikomotorik terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah alat mobilisasi politik dan sekaligus sebagai penyejahtera umat. Dari pendidikan akan dihasilkan kepemimpinan anak bangsa yang akan memimpin rakyat dan mengajaknya memperoleh pendidikan yang merata, pendidikan yang bisa dinikmati seluruh rakyat Indonesia. Jiwa populis Ki Hajar Dewantara sudah mendasarinya untuk menyatu dengan rakyat, sehingga meski beliau keturunan bangsawan yang pada waktu itu terdapat jurang yang lebar dengan kehidupan wong cilik, tetapi beliau berusaha menutup celah itu. Sebuah kehidupan yang demokratis yang bisa dinikmati rakyat banyak (Abdurrachman Surjomihardjo, 1979: 98-194).

Ironi dari sisitem pendidikan di era ini menjadi dampak akan kehidupan materialistik yang ditanamkan di dalam pikiran Rakyat. Penghianatan atas filososfi pendidikan Negara ini menjadi massif dan tak terkontrol melalui regulasi-regulasi titipan politik hukum para pemodal. Memperhatikan bahwa model pendidikan saat ini lebih mengerucut kepada sistem pola pendidikan pasar yang dibangun oleh Amerika, Inggris dan singapura, dimana mereka merupakan Negara Kapitalis yang menginginkan bangsa ini menjadi pusat eksploitasi secara infrastruktur dan suprastruktur. Sehingga, berbagai konstruk pun berdatangan dan menuntaskannya melalui penghapusan identitas kebudayaan melalui proses hegemoni yang berlebihan.
Pendidikan yang mengena kepada bangsa Timur adalah pendidikan yang humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Tiga hal inilah dasar jiwa untuk mendidik bangsa dan mengarahkannya kepada politik pembebasan atau kemerdekaan. Pengalaman yang diperoleh dalam mendalami pendidikan yang humanis ini dengan menggabungkan model sekolah Maria Montessori (Italia) dan Rabindranath Tagore (India). Dua sistem pendidikan yang dilakukan dua tokoh pendidik ini sangat cocok untuk sistem pendidikan bumiputra. Lalu dari mengadaptasi dua sistim pendidikan itu menemukan istilah yang harus dipatuhi dan menjadi karakter, yaitu Patrap Guru, atau tingkah laku guru yang menjadi panutan murid-murid dan masyarakat (Ki Hadjar Dewantara, 1952: 107-115).

Mahasiswa secara ideal harus menyadari kondisi tersebut, karena secara non-struktural mereka tidak sepenuhnya terikat oleh pemerintahan. Pemahaman akan kesadaran secara objektif akan posisi dirinya sebagai sosok yang mengemban kata “Maha” menjadi konklusi kebebasan mereka dalam berpendapat serta membela kaum termarjinalkan melalui kaca mata kebijaksanaannya. Sejarah tidak pernah berbohong dalam fakta tertulisnya, bahwa pemuda atau mahasiswa memiliki posisi penting dalam mengubah bangsa ini dari penindasan kaum kolonialisme serta otoritarian kepemimpinan yang terjadi dari masa ke masa.

Mahasiswa di era ini memang buta akan sejarah, tanggungjawab dan substansinya sebagai sosok yang terpenting dalam struktur sosialnya, karena dirinya sibuk beronani di dalam kehidupan hingar bingar materialistik. Keterjangkitan oleh virus hedonisme dan pola pikir praktis adalah ciri-ciri mahasiswa hari ini. Pilihan mereka hanya satu yaitu kesenangan, sehingga mereka sangat muda untuk dibodohi melalui sistem tersebut dan tentu kebodohan tersebut merembes kepada lapisan bawah masyarakat. Terjangkitnya kemalasan dalam membaca buku, menulis serta berdiskusi secara ilmiah dan kritis telah merembes ke sudut-sudut kampus dan akibatnya mereka menjadi bodoh, malas dan apatis terhadap lingkungannya. Tentu iklim tersebut akan tidak menghasilkan hal yang baru serta kampus yang dikenal sebagai laboratorium Ilmiah pasti akan kehiangan eksistensinya.
Kampus adalah benteng terakhir mahasiswa hari ini. Kegelapan tentu menjadi wajah mahasiswa yang tak disinari oleh cahaya pengetahuan dan tentu gerakan akan mati serta pemerintah akan semakin merajalela dalam melakukan gencaran agresi penghisapan dan penindasan secara berlebihan. Orang tua akan mengalami penyesalan di kemudian hari bahkan petani, buruh dan masyarakat miskin kota akan semakin sengsara.

Kehidupan kampus menjadi suram dan tak menampilkan wajah idealnya sebagai poros keilmuan. Mampukan kita mengubah kondisi itu ?


Penulis: Dwi Rezky Hardianto, kerap disapa Ari, merupakan mahasiswa FBS UNM angkatan 2013. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris BEM FBS UNM dan tengah menyelesaikan studi S1 pada prodi Sastra Inggris.

*) Opini ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi estetikapers.com.

Estetika Tim