“Disana ada UKT yang mahal, jalur mandiri yang diperdagangkan, sarana dan prasarana yang tak sebanding dengan UKT yang mahal, UKT yang tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi serta pendidikan di UNM sebentar lagi dijadikan sebagai lahan bisnis dengan status BLU yang berorientasi kepada profit-bukan untuk mencerdaskan. Saatnya gema revolusi orange harus digaungkan!”
(Kabinet Revolusi Orange).

Kini, di bawah bayang-bayang kemegahan gedung phinisi. Kalian lahir sebagai embrio pelanjut tongkat estapet bangsa ini, sosok akademisi yang sebentar lagi menjadi manusia yang sejati di tengah kampus yang dinamakan Universitas Negeri Makassar (UNM) atau lebih dikenal dengan kampus Orange. Kami sangat berbangga akibat almamater tercinta ini telah melahirkan bayi-bayi mungil yang sebentar lagi akan menjadi pejuang-pejuang baru di dalam keluarga kami. Tetapi, di sisi lain terdapat duka yang mendalam akibat bertambah mahalnya biaya pendidikan dan semakin sulitnya kalian dalam mengakses dunia pendidikan, sehingga menjadikan kalian sebagai korban pemerasan dan penindasan yang dilakukan oleh beberapa pejabat kampus yang tidak bertanggungjawab.

Sebagai mahasiswa UNM sepatutnya kita dapat mengetahui tentang fenomena yang terjadi di Universitas Negeri Makassar (UNM) agar kita benar-benar dapat menjadi manusia yang bertanggungjawab sebagaimana bunyi firman Tuhan yang termaktub dalam Q.S. Al-Isra ayat 36 “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabnya”.

UKT yang diimplementasikan di UNM ternyata memberikan sinyal terhadap rakyat Indonesia bahwa pendidikan benar-benar harus ditempuh sesulit mungkin. Pendidikan bisa ditempuh dengan meminjam uang ditetangga, pendidikan bisa ditempuh dengan menjual aset-aset warisan keluarga dan masih banyak lagi. Merupakan hal yang wajar ketika ditahun ini banyak mahasiswa yang mengeluh akibat mahalnya biaya pendidikan di kampus ini. Apalagi online system (daring) yang diberlakukan kurang maksimal dan malah mengsubjektifkan pandangan birokrasi kampus dalam menetapkan UKT mahasiswa sebagaimana ditahun-tahun sebelumnya menggunakan sistem wawancara secara lansung dalam penetapan UKT. Padahal UKT idealnya menurut Permenristekdikti No. 39 tahun 2017 pasal 3 ayat 1 “ UKT sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) terdiri atas beberapa kelompok yang ditentukan berdasarkan kemampuan ekonomi (a) mahasiswa, (b) orang tua mahasiswa, atau (c) pihak lain yang membiayainya.” .

Ironinya, UKT di UNM semakin tahun akan semakin tinggi mulai dari tahun 2016 yang memiliki UKT tertinggi Rp. 4.500.000,- hingga ditahun 2018 mencapai 2 kali lipat pada UKT sebelumnya. UKT tertinggi ditahun ini mencapai Rp. 8.500.000,- padahal Muh. Nuh ditahun 2013 telah melontarkan statement bahwa berlakunya UKT malah akan meringankan beban mahasiswa karena subsidi dari BOPTN dan subsidi antar mahasiwa. Tetapi, hal ini berbanding terbalik atas implementasinya. Melihat secara kritis kondisi di Universitas Negeri Makassar maka kita akan bersiap-siap untuk menggigit jari akibat tidak sesuainya Implementasi dan regulasi yang diterapkan di kampus ini. Apalagi hilangnya asas “tunggal” dari UKT menjadi tanda tanya besar akibat banyaknya pungutan lain diluar UKT seperti jas alamater, uang penelitian untuk kebutuhan akademik, KKN dan masih banyak lagi. Padahal di dalam UKT telah dibebankan dan diakumulasi kebutuhan akademik dan non-akademik selama 8 semester. Itulah sebabnya mengapa UKT harus tunggal.

Berbincang tentang dampak dari mahalnya UKT ternyata tidak berbanding lurus dengan kualitas dan kuantitas dari fasilitas kampus. Di tahun ini UNM menerima benih-benih baru yang berkisar 8.683 mahasiswa yang diakumulasi dari 1.836 jalur SNMPTN, 3.102 jalur SBMPTN dan 3.745 Jalur Mandiri. Kesemuanya ternyata tidak berbanding lurus dengan kualitas dan kuantitas ruang proses pembelajaran yang hadir di kampus ini. Padahal UKT yang dibayarkan lumayan meningkat disetiap tahunnya dengan persentase berkisar 15% pertahun. Gedung pinisi dan Akreditasi “A” hanya menjadi simbol omong kosong untuk dibanggakan, padahal didalam kampus ini masih banyak pembenahan fasilitas yang harus dilakukan. Terbukti 6 Gedung yang hadir di dalam kampus ini masih mangkrak bertahun-tahun. Lalu, dimanakah UKT yang dibayarkan mahasiswa selama ini?

Sebenarnya, tulisan ini lahir sebagai pengantar untuk membuka mata hati kalian yang telah dilonta-lantahkan oleh kebohongan publik yang terjadi di Universitas Negeri makassar. Semoga tulisan ini tidak menjadi pajangan di dalam bak sampah tapi mampu dikonsumsi oleh kalian sebagai nutrisi pemikiran, sehingga kemurnihan akal dan hati dapat muncul dalam dunia pendidikan. Sebagai kaum intelektual yang tercerahkan, pemilik garis antara renungkan apa yang telah terjadi diawal kalian terpojok dikasir kampus untuk menyelesaikan kewajiban. Saatnya, hak kalian harus direbut kembali!

Hidup Mahasiswa
Hidup Rakyat Indonesia
Salam Revolusi Orange


Dwi Rezky Hardianto kerap disapa Ari merupakan mahasiswa FBS UNM angkatan 2013. Mantan Sekretaris BEM FBS UNM dan saat ini menjabat sebagai Presiden BEM UNM periode 2018-2019. Tengah menyelesaikan studi S1 pada prodi Sastra Inggris.

*) Opini ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi estetikapers.com.

Estetika Tim