Rumata’ Art Space

Makassar, Estetika – Rumata’ Art Space bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Institut Kesenian Jakarta mengadakan Pameran Manoeskrip Sadjak Sapardi Djoko Damono di rumah budaya Rumata’ Art Space, Jalan Bontonompo No. 12 A, Gunung Sari, Makassar. Pameran tersebut dihelat selama sepekan mulai dari 16 Mei hingga 23 Mei 2017.

Dalam kegiatan tersebut, dirangkaikan pula dengan kegiatan “Selamat Pagi Puisi” dengan mendatangkan langsung Sapardi Djoko Damono sebagai pembicara yang dimoderatori Aslan Abidin pada Rabu-kamis (17-18/5) pukul 09.00-11.00 WITA.

Acara ini menjadi hal yang sangat dinanti-nanti karena peserta dapat berbincang langsung secara lebih dekat dengan penyair ternama Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Sapardi baru-baru ini juga menerbitkan tujuh bukunya di acara ulang tahunnya yang ke-77.

Dalam perbincangan yang dihelat selama dua jam ini, Sapardi berpendapat, bahwa generasj zaman sekaranag lebih mudah menghasilkan suatu karya dan menjadi seorang penyair karena perkembangan teknologi.

“Dulu jaman saya itu ya kan susah buat jadi penyair, untuk cari bacaan (referensi) itu susah. Tapi sekarang kan udah ada internet, mau karya china dari 2000 tahun yang lalu tinggal ketik saja ada. Dulu saya ngirim puisi ke majalah-majalah, ditolak. Ngirim lagi ditolak lagi. Sekarang kan sekali ngetik bisa dibaca ribuan orang,” ungkap pensiunan dosen UI ini.

Selain itu, ia juga menyinggung minat baca generasi muda yang menurun. Beliau menegaskan, bahwa minat baca tidak hanya dari buku saja, tetapu juga dari banyak sumber.

“Minat baca itu bisa berkembang bukan cuma dari buku, minat baca juga bisa dari internet. Internet kan banyak yang bisa dibaca di situ. Semuanya ada, tinggal bagaimana kita mau atau tidaknya mengakses,” tambahnya.

Dengan adanya kegiatan ini mahasiswa memiliki tambahan pengetahuan tentang Sastra Indonesia. Hal ini dibenarkan oleh salah seorang peserta yang akrab di sapa Enchi, ia mengungkapkan bahwa dirinya sangat senang dapat mengikuti acara tersebut, terlebih ia mendapatkan banyak tambahan pengetahuan terutama dalam lingkup kajian sastra indonesia.

“Iya, senang sekali ya. Apalagi bisa bertemu Pak Sapardi langsung, baru pertama kali saya liat langsung. Apalagi saya juga sangat tertarik dengan karya sastra Indonesia, terutama karya-karya beliau. Saya banyak dapat tambahan ilmu dari sini, tapi sayangnya tadi saya ga sempat foto”, ujar lulusan pascasarjana UGM ini.

Reporter: Tirta Ningtyas Alifia

Estetika Tim