Makassar, Estetika Talkshow Silent Culture menjadi salah satu rangkaian acara dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2019 yang digelar di gedung I La Galigo, Benteng Fort Rotterdam, Rabu (26/7).

Mengusung tema ‘Disability proud! A journey of Self Acceptance’, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran terhadap penyandang tunarungu dan mensosialisasikan bagaimana bahasa isyarat sebagai budaya identitas tunarungu. Dihadiri sekitar 40 peserta dari komunitas tuli dan pengunjung MIWF, kegiatan ini mengundang Bambang Ramadan dan Filemon Aloysius Limba, sebagai pemateri yang didampingi oleh dua penerjemah bahasa isyarat serta dimoderatori oleh Septi Rosa Utami.

Suasana talkshow Silent Culture di gedung I La Galigo, Benteng Fort Rotterdam, Rabu (26/6). Foto: Nur Rahmi/Estetikapers.

Filemon Aloysius Limba, salah seorang pemateri, menjelaskan dengan menggunakan bahasa isyarat bahwa tuli merupakan suatu budaya seperti halnya manusia normal yang memiliki budaya.

“Tuli dalam bahasa dokter ialah Sudden Sensorineural Hearing Loss. Tuli adalah identitas sosial. Sebenarnya bagi kami ketulian merupakan identitas maupun budaya, dengan cara menggunakan bahasa isyarat mengaplikasikan tangan kami, kami berkomunikasi satu dengan yang lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, lelaki yang akrab disapa Emon ini juga mengatakan bahwa orang tuli pun memiliki hak dan kemampuan yang sama dengan orang pada umumnya.

“Banyak yang menganggap kami sebelah mata karena kami tidak bisa mendengar. Kami hanya tuli, dan orang tuli bisa melakukan apapun yang dikakukan orang biasa, kecuali mendengar,” katanya.

Filemon Aloysius saat menjadi pembicara pada talkshow Silent Culture, Rabu (26/6). Foto: Adim/Estetikapers.

Bambang Ramadan, pemateri lainnya mengungkapkan bahwa kesadaran dan fasilitas masyarakat tentang orang tuli di Makassar masih sangat kurang.

“Saya masuk di universitas pun susah, karena saya tuli. Saya mau magang pun susah cari di Makassar. Akhirnya saya daftar di Bali, saya magang enam bulan menjadi penyaji makanan di hotel, dan saya bisa menjalankannya dengan baik. Di Makassar belum ada hal seperti itu,” terangnya.

Mahasiswa tingkat akhir Politeknik Pariwisata Makassar ini pun mengungkapkan bahwa orang tuli tak perlu dijauhi.

“Berkomunikasilah dengan kami, itu membuat kami nyaman. Jika tak bisa bahasa isyarat, cukup dengan gestur dan mimik wajah, kami juga bisa membaca pola bibir orang saat berbicara. Jadi jangan pernah jauhi kami karena kami tuli,” terangnya.

Di sisi lain, Andi Reski Hardiati, penerjemah bahasa isyarat pemateri, mengungkapkan bahwa tujuan utama kegiatan ini aitu merubah perspektif ini bahwa tunarungu adalah identitas sosial.

“Kami mau merubah perspektif ini bahwa tunarungu adalah identitas sosial yang sama seperti orang sunda, orang jawa. Yang membedakan hanyalah mereka yang mendengar melalui mata,” ungkapnya.

Reporter: AM Estetika

Estetika Tim