Sat. Sep 26th, 2020

SARASEHAN NUSANTARA SEBAGAI AJANG PENGENALAN KEARIFAN LOKAL NUSANTARA

Bali, Estetika – Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia (IMBASADI) kembali menggelar kegiatan Sarasehan Nusantara ke-IV 2018 di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar (IHDN Denpasar), Bali, selama lima hari, Jum’at-Selasa (20-24/4).

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama (HMJ PBSA) IHDN Denpasar sebagai penyelenggara kegiatan sarasehan nusantara tahun ini mengusung tema “Simfoni Bahasa Daerah sebagai Wujud Sinergitas Budaya Nusantara”.

Kegiatan yang dilaksanakan di Bumi Dewata ini diikuti oleh empat belas universitas se-Indonesia, tak terkecuali Universitas Negeri Makassar (UNM), yang mendelegasikan Suriani Dafi, Nur As’adiyah, Ririn Sulastri Dewi, dan Nurdelisa mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) Fakultas Bahasa dan Sastra(FBS).

Pelatihan menulis aksara daerah di Aula IHDN Denpasar, Bali, Minggu (22/4). Foto: instagram @imbasadi_official.

Dalam sarasehan nusantara IMBASADI ini terdapat berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pengenalan nilai-nilai kebudayaan  dan lokalitas daerah seperti pameran kain tradisional, perlombaan membaca puisi berbahasa daerah, lomba karaoke nusantara, pelatihan menulis lontar, wisata tradisi, dan pagelaran kesenian.

Harianti Rahman, presiden IMBASADI periode 2017-2018, mengatakan tujuan dari sarasehan nusantara itu untuk membahas isu-isu kebudayaan  dan wadah untuk memperkenalkan kebudayaan nusantara melalui gebyar budaya.

“Untuk membahas isu-isu kebudayaan yang ada di daerah masing-masing anggota IMBASADI dan sebagai wadah untuk memperkenalkan kearifan lokal yg ada di nusantara melalui gebyar budaya yg dilaksanakan tiap tahun,” kata mahasiswa yang sering disapa Anti ini.

Delegasi dari UNM sendiri, Suriani Dafi, dalam pameran kain tradisional, memperkenalkan kain tradisional daerah, yaitu lipa sabbe. Ia menjelaskan dari mana asal kain tenun cora’ lebba tersebut, apa makna dan filosofi dari lipa sabbe.

As’adiya dalam lomba puisi daerah, membawakan puisi lama “Mattojang”, yakni nyanyian suku Bugis-Makassar untuk menidurkan anaknya.

Dalam event ini dipilih putra-putri IMBASADI. Terpilih dua mahasiswa dari universitas yang berbeda, putra IMBASADI dari Universitas Pendidikan Ganesa sedang putrinya dari Universitas Pattimura.

Kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan aksara Bali melalui pelatihan menulis aksara daerah Bali pada Minggu (22/4) di Aula IHDN Denpasar.

Suriani Dafi, delegasi UNM mengatakan bahwa dengan mengikuti arasehan nusantara IMBASADI, ia lebih termotivasi dalam melestarikan bahasa daerahnya, dan bangga berada  diantara orang-orang yang mempertahankan bahasa daerah.

“Kesanku setelah mengikuti IMBASADI yaitu lebih termotivasi untuk melestarikan bahasa sendiri. Sangat bangga menjadi salah satu diantara orang-orang yang mempertahankan bahasa daerahnya,” ungkap mahasiswa angkatan 2015 ini.

Selain itu, Harianti Rahman, Presiden IMBASADI, berharap agar IMBASADI harus bisa menjadi sebuah wadah dalam rangka pelestarian kebudayaan-kebudayaan daerah yang ada di Indonesia.

“Semoga IMBASADI mampu menjangkau dan menggalakkan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pelestarian kebudayaan daerah, mampu mengawal isu-isu kedaerahan yang ada di Nusantara,” ungkapnya.

Reporter: Siti Arisa E

Leave a Reply

Skip to toolbar