Wed. Sep 23rd, 2020

PENULIS MUDA FBS BICARA SEPUTAR PROSES KREATIF KEPENULISAN DALAM PEKAN SASTRA II

Makassar, Estetika – Pekan Sastra II yang diadakan oleh HMPS Sasindo menggelar diskusi pertama setelah pembukaan bertajuk Pecandu Literasi FBS dengan mengangkat tema “Politik Sastra”. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa FBS, diantaranya Nurasiyah, Muhammad Arifin, dan Wahyu Gandi. Kegiatan ini dijadikan sebagai ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman serta mengapresiasi karya penulis muda khususnya di FBS UNM.

Bagi pembaca pemula disarankan oleh pemateri untuk membaca bacaan yang bersifat ringan. Salah satu pemateri, Nurasiyah mengungkapkan bahwa seseorang yang tak diberikan ruang, maka kitalah yang harus menciptakan ruang itu. Sebagaimana seperti dalam realita mahasiswa FBS lebih memilih komunitas dibandingkan dengan lembaga dalam kampus. Saat berbicara mengenai proses kreatifnya, ia mengakui bahwa Ibunya yang menjadi sumber bertanya untuk menghasilkan karya-karyanya.

“Proses kreatif saya ketika menulis cerpen dan puisi lebih banyak bertanya pada mama saya, karena orang dulu selalu mempunyai cerita menarik untuk dikaji. Penting dalam suatu penulisan karya sastra terlebih dahulu melakukan riset kecil-kecilan dan observasi sebelum menuliskannya, ” ujar perempuan berkacamata ini.

Pemateri Pecandu Literasi FBS, dari kiri ke kanan: Muhammad Arifin, Nurasiyah, Wahyu Gandi, Kamis (16/10). Foto: Zul/estetikapers.

Berbeda dengan pembicara pertama, Wahyu Gandi seorang pecandu sastra FBS UNM mengungkapkan proses kreatifnya berawal dari seorang Bapak yang telah mendidiknya.

“Saya dibesarkan oleh seorang Bapak yang mendidik saya dengan keras, seperti pada masa penjajahan Jepang. Jika saya melakukan kesalahan maka saya akan dikurung dan dikunci dalam kamar. Sebelum kamar ia kunci beliau memberikan kertas dan menyuruh saya menulis apa yang saya inginkan. Semenjak itu saya berpikir bahwa kata-kata tidak hanya sebagai pengungkap perasaan. Kata-kata bisa mengubah pandangan kita, namun saat kita diam pun tetap mempunyai arti,” ujar penulis buku Saat ini.

Sementara Muhammad Arifin menyampaikan bahwa setiap penulis memiliki kepribadian sendiri dalam menulis. “Karakter seseorang dalam menulis berbeda-beda, Bergantung dari kepribadian dia menulis,” ujarnya.

Reporter: Riska Aprilia

Leave a Reply

Skip to toolbar