Tatanan khayalan tidak bisa dipertahankan dengan kekerasan, oleh sebab itu sebuah khayalan diciptakan dalam mengubah ataupun mempertahankan hal tersebut. Setiap kelompok manusia memiliki cara tersendiri dalam memandang dunia hukum, sosial, dan politik yang tersebar dalam hamparan bumi manusia. Sebagian besar ahli kebudayaan telah menyimpulkan bahwa setiap kebudayaan memiliki kepercayaan, norma dan nilai khas. Namun, semua itu tidak lebih dari sebuah khayalan kolektif.

Apakah ada yang bisa menunjukkan bentuk dan warna itu? Nilainya tidak ada dalam struktur kimiawi yang artinya kesemuanya adalah bukan kenyataan materil melainkan produk psikologis. Ketika penguasa di suatu masa mulai membayangkan wilayah kekuasannya, maka ia akan menciptakan sebuah khayalan bersama pengikutnya, mulai dari nilai, norma, hingga kepercayaan. Pada dasarnya semua negeri adalah khayalan para pendirinya. Benedict Anderson, salah seorang yang melihat nasionalisme sebagai sebuah ide komunitas yang dibayangkan (imagined communities). Menurutnya, nasionalisme adalah sebuah komunitas politik berbayang yang dibayangkan sebagai kesatuan yang terbatas dan kekuasaan yang tertinggi.

Dalam bahasa sederhananya ‘gemah ripah lo jinawi’ ini memang hanya dikhayalkan dan masih berkonsep cita-cita di kepala saat itu. Sumpah palapa dari Patih Gajah Mada merupakan impian yang selalu dipelihara dan diperjuangkan bersama. Dalam jejak sejarah, khayalan nasionalisme pernah menyatukan bangsa hingga melawan penjajah dengan bersimbah darah dan akhirnya kepercayaan itu mampu mengantar kita dalam memproklamirkan kemerdekan. Buah khayalan kolektif telah menyelamatkan kita dari cengkaraman penindasan yang silih berganti.

Dalam tatanan khayalan selalu membutuhkan orang-orang yang teguh beriman kepadanya. Khayalan-khayalan seperti itu selalu ada disekeliling kita. Kita mencoba menarik rana sistem pemerintahan, misalnya mengubah sistem khayalan pemerintahan ketika merasa dirugikan. Salah satunya cukup untuk tidak memercayainya. Barangkali ini yang dipahami oleh golongan utopis komunis tentang bagaimana kekuasaan Tsar di Rusia hancur ketika revolusi Bolshevik 1917 dengan munculnya Lenin sebagai pemimpin tertinggi komunis. Dengan cara ini revolusi membuka jalan bagi terciptanya persatuan republik sosialis soviet tahun 1912 (komunis menghancurkan khayalan lama dan menciptakan khayalan baru).

Hal yang paling sulit diorganisir dan dibayangkan adalah kekerasan sehingga khayalan tersebut harus diciptakan. Misalnya pada saat pribumi Indonesia tidak mengakui khayalan negara (Hindia Belanda) dalam nusantara yang akhirnya berujung pada persembahan dan pertumpahan darah sepanjang pulau-pulau Nusantara yang sekarang disebut Indonesia. Khayalan itu terkadang dipelihara baik oleh suatu kelompok. Meskipun sejatinya sebagian dari anggota kelompok berada dalam kekerasan atau menjadi kambing hitamnya. Sekarang, mengapa kita takut? Misalnya, takut mempersembahkan darah untuk sebuah sistem (khayalan) yang tidak berkeadilan. Mengapa kita menerimanya? mengapa kita mengimaninya?

Masyarakat diwajibkan beriman pada sistem dan membangun tatanan khayalannnya untuk mencapai keteraturan. Namun, masalahnya terkadang kita terjebak pengimanan sesuatu yang kita anggap baik namun, baik itu ternyata adalah sebuah khayalan yang juga keliru. Dalam ranah politik, tokoh yang bertarung dalam kontestasi politik tidak menyia-nyiakan pemahaman tentang keberhasilan tatanan khayalan dalam mengontrol sekelompok orang. Salah satu metodenya adalah janji utopis kampanye. Khayalan itu sangat cocok untuk kalangan mana saja. Terlebih bagi mereka yang mengalami penindasan (kalangan miskin). Janji sudah cukup untuk membangun khayalan kolektif mengenai impian ideal yang akan segera diwujudkan.

Dengan leluasa, para tokoh itu mengumandangkan khayalan-khayalannya untuk duduk di kursi khayalan dan menikmati jabatan khayalan (maksudnya jika kita tidak mempercayai kursi dan jabatan itu maka ia tidak ada). Jadi segala penindasan yang terjadi dalam suatu masyarakat tak terlepas dari khayalannya sendiri. Akibatnya, masyarakat di tindas oleh khayalan mereka. Ini adalah gambaran sirkulasi khayalan disekeliling kita.

Untuk melakukan suatu proses perubahan, tatanan khayalan haruslah diperbaiki. Seandainya Fir’aun yang kejam masih dipercayai sebagai titah Ilahi yang menciptakan kedamaian, ia akan tetap ada hingga sekarang bersama dengan budak dan tokoh yang mengimaninya. Seandainya surat pengampunan dosa yang diperjualbelikan untuk mengampuni dosa-dosa para pendosa oleh Pastor pada abad pertengahan, maka para pelacur adalah orang yang paling rajin menyisihkan uangnnya untuk membeli tiket pengampunan dosa tersebut. Namun, khayalan itu lambat laun tersadari akibat kejanggalan rasionalitas karena tatanan khayalan telah berevolusi sehingga prakteknya mengalami perubahan. Maka jika hendak mengubah sistem pemerintahan, maka sistem khayalan adalah daerah paling vital bagi sistem.

Ketika kepercayaan rakyat dari hari ke hari semakin menyusut maka konsekuensi logis kedepannya, sistem itu akan musnah dan hilang, layaknya Sistem Fir’aun dan Doktrin abad pertengan silam. Sepanjang perjalanan sejak kemerdekaan, masyarakat sebagian mulai tersadar bahwa khayalan itu tetaplah khayalan. Realisasi janji tak pernah selesai teraktualisasi hingga akhir periode menjemput. Sehingga saya melihat khayalan yang muncul ditengah masyarakat yaitu ketidakpercayaan kepada segenap kedamaian oleh jaminan sistem. Dan khayalan itu mungkin menjadi pemicu berdengungnya golput di tengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini.

Konon di Swiss, orang golput karena sistem politik sudah mapan. Memilih atau tidak, tidak akan merubah apa-apa. Segalanya akan berjalan baik-baik saja. Di Indonesia, dengungan golput yang marak sekarang yang saya perhatikan bukan dari golongan itu. Gerakan ini tersadari dan termotori wacana kritis sebagian dari kalangan terdidik dan kritis. Golput bukan karena memilih atau tidak akan tetap baik. Tapi memiih atau tidak akan tetap tidak baik. Khayalan kedamaian bernegara sudah mulai mengalami keruntuhan dan digantikan khayalan baru yang menjadi akar permasalahan.


 

Penulis: Arisnawawi, mahasiwa Program Studi (Prodi) Sosiologi Universitas Negeri Makassar (UNM).

Estetika Tim