Wed. Sep 23rd, 2020

KEMAH LONTARA III SEBAGAI AJANG PENGENALAN LEMBAGA DAN MELATIH SOLIDARITAS

Maros, Estetika – Kemah Lontara adalah kegiatan pengkaderan rutin yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) Dewan Mahasiswa (Dema) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) yang bertujuan untuk pengenalan lembaga dan pembentukan karakter mahasiswa baru program studi (Prodi) PBSD, Jumat-Minggu (30/3 – 1/4).

Berbeda dengan Kemah Lontara sebelumnya, Kemah Lontara III yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Surandar, Maros, kali ini dirangkaikan dengan milad ketiga HMPS PBSD DEMA JBSI FBS UNM yang jatuh pada Sabtu (31/3).

Suasana persiapan senam pagi peserta di lokasi kemah lontara, Sabtu (31/3). Foto: Dokumentasi Pribadi/HMPS PBSD

Pada hari kedua di subuh hari, Sabtu (31/3), peserta dibangunkan untuk menunaikan sholat subuh. Selang beberapa jam, Peserta dikumpulkan di lapangan untuk senam pagi dilanjutkan dengan penerimaan materi hingga masuk waktu ashar.

Setelah sholat ashar, peserta diberi waktu untuk latihan persiapan yang akan ditampilkan di malam milad ketiga HMPS PBSD.

Pemotongan Tumpeng Simbolis Hari Jadi HMPS PBSD yang Ke-3

Pemotongan tumpeng oleh ketua umum HMPS PBSD, A. Fatwa Anugerah, menjadi simbol hari jadi HMPS PBSD yang ketiga. Potongan tumpeng tersebut diberikan kepada setiap demisioner ketua umum.

Setelah acara milad ditutup, dilanjutkan dengan makan bersama oleh peserta, panitia, dewan senior, para tamu, dan fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan (LK) se-FBS yang sempat hadir di malam milad HMPS PBSD.

Saat pemberian arahan setelah senam pagi di Perkemahan Surandar, Maros, Sabtu (31/3). Foto:  Dokumentasi Pribadi/HMPS PBSD

Pentas seni oleh masing-masing kelompok peseta Kemah Lontara dihelat setelah makan bersama. Penampilan peserta didominasi oleh musikalisasi puisi dan drama. Pembacaan puisi “Pesan Sang Ibu” karya Wiji Tukul oleh panitia menjadi penanda ditutupnya rangkaian acara pentas seni.

Keesokan harinya, Minggu (1/4), tepat pukul 03.00 Wita, peserta dibangunkan untuk evaluasi materi. Evaluasi dilakukan perkelompok hingga pukul 06.30 Wita. Usai evaluasi berlangsung, peserta kembali dikumpulkan untuk dikukuhkan secara resmi sebagai anggota HMPS PBSD.

Filosofi Pallise dalam Pengukuhan Peserta Kemah Lontara III

Para peserta dikukuhkan dengan cara disuapi pallise (baca: isian yang terbuat dari kelapa dan gula merah) oleh Ketua Umum HMPS PBSD dan mencium bendera himpunan.

A. Fatwa Anugerah, Ketua Umum HMPS PBSD, mengatakan filosofi pallise yang diberikan kepada para peserta agar usai dari Kemah Lontara pemikiran peserta tallise (baca: terisi) dengan apa pun yang baik-baik yang telah diberikan dalam Kemah Lontara III.

Penciuman bendera HMPS PBSD sebagai simbolis peserta yang dikukuhkan, Minggu (1/4) Foto: Dokumentasi Pribadi/ HMPS PBSD.

“Harapan kami memberikan pallise semoga pemikiran peserta setelah kegiatan ini (baca: Kemah Lontara III) dapat tallise dengan hal-hal baik yang telah mereka dapatkan di kegiatan ini,” ungkap mahasiswa asal Soppeng ini.

Lebih lanjut, mahasiswa angkatan 2016 ini juga menjelaskan makna dari pallise yang dibuat dari golla na kalulu (baca: gula dan kelapa).

“Orang Bugis mengatakan -sengeka golla nausengeki kaluku- atau dalam bahasa Makassar mengatakan -rampemama golla nakurampeko kaluku- yang maknanya hubungan yang baik. Jadi, harapan kami dengan isian kelapa dan gula ini peserta mengingat hal-hal manis yang ada di Kemah Lontara dan tetap menjaga hubungan baik antara peserta maupun panitia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ia mengatakan bahwa perpaduan antara gula dan kelapa akan menciptakan cita rasa yang enak.

“Gula dan kelapa juga bahan makanan yang apabila disatukan akan terasa enak,” tutupnya.

Kegiatan outbound menjadi kegiatan akhir dari Kemah Lontara III yang berisi berbagai macam kegiatan, seperti games untuk menguji kekompakan dan solidaritas peserta.

Mukarramah, Kordinator seksi acara, mengungkapkan alasan outbound di laksanakan setelah pengukuhan karena merupakan ajang seru-seruan.

“Outbound dilaksanakan setelah pengukuhan untuk menambah solidaritas antar peserta dan sebagai ajang seru-seruan. Setelah outbound, peserta diarahkan ke sungai untuk bersih-bersih diri dan saling berpegang tangan agar solidaritas dapat dirasakan oleh peserta,” kata mahasiswa berwajah oriental ini.

Kegiatan Kemah Lontara III ini diakhiri dengan foto bersama antar peserta, demisioner dan panitia.

Reporter: Siti Arisa E

Leave a Reply

Skip to toolbar