Parangtambung, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Association of English Education students (Access) Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar kegiatan bedah film “3: Alif Lam Mim” di Gedung DH 305 FBS UNM, Jumat (5/10).

Kegiatan ini dihadiri oleh para pengurus HMPS Access, perwakilan pengurus HMPS Persatuan Mahasiswa Sastra Inggris (Prasasti), HMPS Business English (BE) Creative dan mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Kegiatan ini merupakan program kerja dari divisi Pendidikan dan Kemahasiswaan yang dibawakan oleh Salman Azis, Demisioner Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FBS UNM periode 2015-2016.

Suasana pemutaran film “3: Alif Lam Mim” di Gedung DH 305 FBS UNM, Parangtambung, Makassar, Jumat (5/10). Foto: Aenul Fitrah/estetikapers.

Film 3: Alif Lam Mim merupakan film action Indonesia yang menceritakan tentang persahabatan, persaudaraan dan drama keluarga 3 orang sahabat yang menjunjung tinggi nilai kebenaran di negara Indonesia pada tahun 2036 yang dipenuhi orang-orang yang radikal.

Helvi Mei Sari, Anggota Divisi Pendidikan dan Kemahasiswaan mengungkapkan bahwa tema kerohanian dari film “3: Alif Lam Mim” diangkat untuk meluruskan bahwa teroris bukan berarti islam, dan islam bukan teroris.

“Topik yang sekarang dengan tema kerohanian dengan judul “3: Alif Lam Mim” diangkat untuk menjelaskan bahwa teroris bukan berarti islam, dan islam bukan teroris,” ungkapnya.

Nurul Qalby, Ketua divisi Pendidikan dan Kemahasiswaan berharap agar penonton film dapat menerapkan pemikiran logis dan kritis pada tiap kejadian.

“Harapan saya agar penonton film bisa berfikir lebih logis dan kritis pada setiap kejadian, semoga pemikiran orang-orang terkait persepsi negatif terhadap agama terutama islam dapat dipecahkan,” ujarnya.

Disisi lain, Mega Madani, salah satu peserta bedah film, berpendapat bahwa film ini sangat menarik dan membuat kita mampu berfikir kritis.

“Pendapat saya tentang film ini sangat menarik karena dapat membuat saya mampu berfikir kritis atas suatu kejadian terutama dalam hal agama,” tutupnya.

Reporter: Aenul Fitrah

Estetika Tim