Mon. Sep 21st, 2020

DISKUSI DAN BEDAH KARYA IRFAN PALIPPUI “ORASI AIR MATA”

Makassar, Estetika – Biro Kegiatan Mahasiswa Jurusan (BKMJ) Bengkel Sastra (Bestra) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Bahasa dan Sastra(FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Bumi Literasi di Panggung Daeng Pamatte FBS UNM, Selasa (13/3).

Kegiatan yang mengusung tema diskusi sastra “Orasi Air Mata” karya Irfan Palippui, eks mahasiswa FBS UNM angkatan 2004 yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNM pada tahun 2008-2009.

Pos pengisian daftar hadir peserta diskusi sastra dan daftar pembeli buku Orasi Air Mata, Selasa (13/3). Foto: Suhartini Lestari/estetikapers.

Diskusi buku Orasi Air Mata menghadirkan sosok penulis itu sendiri, Irfan Palippui. Selain si Penulis, juga turut hadir Ahmad Wildan, Amal Akbar dan Imran sebagai pembicara.

Dengan dipimpin oleh Jusiman Dessirua, selaku Moderator, diskusi dimulai dengan pengenalan para pembicara yang akan menjadi bagian dari pembedah buku Orasi Air Mata.

Sekitar pukul empat belas menjelang sore hari, panggung Daeng Pamatte sudah dipenuhi oleh para peserta diskusi yang tidak hanya berasal dari FBS UNM tetapi juga dihadiri oleh Mahasiswa dari Fakultas maupun kampus lain.

Persembahan musikalisasi puisi dari Bengkel Sastra dan HMPS Sasindo menutup kegiatan diskusi sastra sore tadi, Selasa (13/3). Foto: Suhartini Lestari/estetikapers.

Satu persatu pembicara diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya terhadap buku Orasi Air Mata.

Irfan Palippui, mengatakan bahwa kata “Orasi Air Mata” dijadikan sebagai judul buku antologi puisinya karena sudah melekat di ingatan khalayak.

“Orasi Air Mata menjadi judul buku ini karena orang lebih tahu tentang Orasi Air Mata dibandingkan isi bukunya sendiri,” jelasnya.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih selama sepuluh tahun, akhirnya buku dengan tebal 104 halaman, berisi puisi-puisi yang lahir dari pengalaman si Penulis, selesai digarap dan telah hadir.

Buku ini juga merupakan metafora untuk merepresentasi apa yang dibayangkan oleh Penulis dari peristiwa yang Ia tuliskan. apakah sebagai penderitaan, kesengsaraan, kebahagiaan atau protes tentang sesuatu persoalan krusial, pendidikan. Ditambah dengan latar belakangnya yang merupakan alumni Mahasiswa sastra FBS UNM.

“Karena saya anak sastra, dan merupakan tuntutan bahwa anda intelektual. Di samping ini, menjadi jejak perjalanan saya sendiri yang ditulis selama sepuluh tahun lebih”, ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa FBS adalah jantung literasi atau pusat gerakan literasi, dan Ia menghimbau Mahasiswa untuk terus membaca dan menulis.

“FBS harus menjadi jantung literasi dan benar-benar menjadi jantung dari semua gerakan literasi. Membacalah dan menulislah,” pungkasnya.

Rostan Yuniardi, selaku Ketua Umum HMPS Sasindo, mengatakan bahwa buku Orasi Air Mata karya Irfan Palippui kaya akan diksi.

“Karya ini besar bukan hanya karena diksi tetapi ada tindakan di dalamnya,” ungkapnya.

Nurul Fajrianti, salah satu peserta diskusi, mengatakan bahwa diskusinya sangat menarik karena dilihat dari orang-orang yang mengikuti diskusi bukan hanya warga FBS, Mahasiswa dari kampus lain ataupun fakultas lain juga turut hadir.

Sebagai penutup, Bestra mempersembahkan sebuah musikalisasi puisi berjudul Petang yang Kalut, karya Irfan Palippui.

Reporter: Elva

Leave a Reply

Skip to toolbar