Parangtambung, Estetika—Semua bermula pada Rabu malam, 28 Agustus 2019, IH (inisial) menyebar foto seorang dosen AA (inisial) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) dari tangkapan layar kemudian memposting di instastory. Tangkapan layar tersebut menunjukkan foto AA, dosen JBSI pada perayaan Dies Natalis ke-58 UNM, mengenakan setelan jas berwarna biru, memakai kacamata. Bagian atas gambar bertuliskan “Dosen Barbar” dilengkapi dengan deskripsi kejadian di sebelah kiri.

“Sungguh tindakan yang sangat tidak terpuji oleh seorang dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM) yang seharusnya memberikan contoh pada mahasiswa tentang nilai-nilai pendidikan yang baik. Dosen satu ini menganiaya salah satu mahasiswa hanya karena persoalan sepele,” tulis IH dalam tangkapan layar tersebut.

Dari tangkapan layar tersebutlah satu per satu mahasiswa tidak berhenti meneruskan postingan melalui status Whatsapp atau Instagram. Imbas akhirnya, seluruh LK FBS UNM berkumpul pada Senin, 2 September 2019 di Lapangan Basket FBS UNM menggelar aksi dengan dua tuntutan utama yaitu (1) Pemecatan salah seorang dosen atas tindak kekerasan dalam lingkup akademik yang telah dilakukan terhadap salah seorang mahasiswinya; (2) Menuntut pembersihan kampus FBS UNM dari tindak kekerasan dosen.

Di tengah massa aksi, ada satu baliho putih yang berdiri kokoh di tengah lapangan membentangkan tulisan, penahannya sebuah bambu dan tumpukan kursi. isi tulisannya: “Lawan! Segala macam bentuk tindak kekerasan.”

Kronologi Pemukulan Mahasiswa Oleh Dosen

Kronologi tindak kekerasan dosen terhadap mahasiswa. Infografik: Renaldi Ramadani/Estetikapers.

AA (48) dosen JBSI FBS UNM diduga melakukan tindak kekerasan terhadap Nadira (bukan nama sebenarnya) yang merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2019, peristiwa itu berlangsung pada Selasa (27/8), sehari sebelum IH menyebar tangkapan layar ke media sosialnya.

BACA JUGA: LK FBS UNM LAKUKAN AKSI TUNTUTAN PEMUKULAN OKNUM DOSEN TERHADAP MAHASISWA

Kami sertakan kronologi berdasarkan data-data yang telah kami rangkum:

Berdasarkan pengakuan tersangka pada kompas.com, peristiwa ini bermula ketika AA mengajar mata kuliah Fonologi. Saat itu, ia mendapati Nadira sedang bermain telepon seluler saat proses perkuliahan yang menurutnya tidak sesuai dengan aturan yang sudah diterapkan di pertemuan pertama.

“Ketika saya mengajar di kelas, yang bersangkutan sedang menggunakan handphone, padahal saya sudah beritahu di pertemuan pertama aturan dalam kelas saya saat mengajar itu agar handphone dinonaktifkan,” kata AA.

Ia mengatakan bahwa saat ia melihat Nadira bermain ponsel. Dirinya berada di belakang mahasiswa tersebut sambil memegang kertas catatan sebanyak empat lembar kertas di tangan kiri. Melihat Nadira asyik bermain ponsel, ia pun memukulkan kertas yang ada di tangannya itu di punggung kiri Nadira.

Namun karena terkejut dipukul, Nadira lalu menoleh ke kiri yang menurut pengakuan AA, kertas yang dipegangnya itu tanpa sengaja mengenai wajahnya.

“Nah pas saya pukulkan kertas itu di punggungnya, saya mengatakan, eh kalau waktu belajar jangan main handphone, begitu saya ucapkan itu, yang bersangkutan langsung balik kiri. Saya pukul punggung sebelah kirinya, secara spontan dia langsung balikkan (menoleh) kepalanya sebelah kiri. Nah ketika balik itu terkenalah ujung kertas tadi di bagian wajahnya,” bebernya. 

Ia mengatakan penamparan yang dituduhkan kepadanya tidak berdasar karena pada waktu itu ia berada di belakang Nadira bukan di depan. AA juga mengatakan, di samping kanan dan kiri Nadira juga ada mahasiswa lain sehingga mustahil untuk menampar. Untuk itu ia pun terkejut setelah mengetahui mata Nadira bengkak karena dugaan tamparan yang dilakukannya.

AA juga berharap mahasiswa lain yang berada di samping Nadira saat tindak kekerasan tersebut terjadi dipanggil untuk bersaksi agar tidak ada informasi sepihak.

“Saya kurang tahu kalau dia punya visum atau apa. Malamnya saya dipanggil pimpinan, saya akui ada seperti itu, tapi saya bilang ada keanehan kenapa bisa matanya ini anak bengkak. Nah, di situ saya ingat ketika saya pukulkan kertas di punggung bagian kirinya anak itu respons menoleh ke kiri juga,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Aniaya Mahasiswa karena Main Ponsel Saat Kuliah, Seorang Dosen Dinonaktifkan” ditulis oleh Himawan dan diterbitkan pada 30 Agustus lalu.

Seharian penuh, saat Reporter Estetika mencoba memintai keterangan lebih lanjut dari korban, korban berulang kali menolak untuk diwawancarai. Nadira bahkan tak memberi respon apapun saat kami hubungi, baik melalui pesan Whatsapp maupun pesan suara.

Kami berusaha menghubungi salah seorang teman sekelas Nadira guna mengetahui kronologi kejadian sebenarnya. Salah seorang teman sekelas Nadira, Andi Cindy Batari pada 30 Agustus 2019, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut berawal karena adanya pelanggaran kontrak kuliah yang dilakukan oleh Nadira.

Ia menjelaskan bahwa Nadira duduk di bangku belakang, sedangkan ia berada di depan. Saat mata kuliah berlangsung, tiba-tiba terdengar suara AA dari arah belakang menyuruh Nadira keluar dari ruangan.

“Di depan ka duduk hari itu, adapi suara dari belakang baru ka kaget. Sebelum itu, ada makalah yg mengarah ke mukanya Nadira, entah dipukul atau ditampar, karena ndak kuliat saya. Setelah kejadian, merah matanya Nadira,” ungkapnya.

Melalui teman sekelasnya ini pula lah kami mendapatkan kabar, bahwa Nadira baru akan memberikan keterangan setelah adanya keputusan hasil rapat jurusan pada Senin (2/9).

Pada 2 September, saat kami berhasil mengkontak AA, kami telah membuat janji bertemu di kampus UNM Gunung Sari. Saat kami mendatanginya di kampus UNM Gunung Sari, guna menemui AA, namun saat kami berada di lokasi dosen AA sudah keburu pulang. Kami melakukan kontak dan meyakinkannya berkali-kali, AA hanya menyarankan kami untuk langsung menemui Dekan FBS UNM.

“Saya bukannya tidak ingin bicara, tadi sudah sepakat, supaya tidak simpang siur informasinya saya serahkan kepada Dekan. Apapun informasinya kan dari sana. Informasinya yang disampaikan itu kan sama,” sarannya melalui sambungan telepon.

Ia juga mengungkap penyesalannya terkait kasus tersebut.

“Saya sangat menyesal atas kejadian itu, karena tidak seperti yang saya perkirakan. Saya menyesal dan kejadian itu menjadi pelajaran yang sangat berharga,” katanya saat diwawancarai melalui sambungan pesan suara.

Sebelumnya di hari yang sama, reporter Estetika juga berkesempatan mewawancarai Nadira di depan ruangan DG 101 FBS UNM mengenai kasus kekerasan yang ia alami. Akhirnya ia mau menjelaskan kejadian yang terjadi, menurut Nadira, memang sejak awal, AA telah membuat kontrak perkuliahan perihal larangan menggunakan handphone pada saat proses perkuliahan berlangsung.

Namun pada saat itu, Nadira mengaku menyalakan handphonenya dengan alasan untuk melihat jam dan menonaktifkannya kembali. AA yang terlanjur marah langsung memukul Nadira dengan makalah yang telah dijilid. 

“Dikontrak perkuliahan beliau tidak boleh menggunakan ponsel dalam kelas, tapi adaji juga beberapa teman yang menggunakan ponselnya, sedangkan hpku ada di dalam laci, mau melihat jam dan menonaktifkan dan beliau langsung datang dari arah belakang, memukul pakai makalah, makalah merah yang sudah dijilid,” jelasnya.

Akibat kejadian tersebut, Nadira mengalami pendarahan di mata sebelah kirinya karena terkena tusukan peluru stapler dari makalah tersebut.

“Pertamanya langsung sakit, kaya pusing. Kaya sedikit penglihatan itu buram tapi sekarang tidakmi,” tambahnya.

Nadira juga mengatakan bahwa ia sempat disarankan oleh dokter untuk ke spesialis mata jika luka di matanya menyebar. 

“Itu saja na bilang dokter. Dilihat saja perkembangannya kalau memang hari ini menyebar ini sampai terkena mata hitam, pergi ke spesialis mata, tapi sampai saat ini tidakji,” terangnya.

Ia sempat memperlihatkan surat hasil pemeriksaannya dan matanya yang masih terluka itu pada reporter Estetika saat mewawancarainya langsung di Gedung DG 101.

Sementara itu, Ketua Jurusan BSI, Mayong Maman, menjelaskan bahwa kasus ini sempat akan dibawa ke jalur hukum namun diurungkan dan diselesaikan secara kekeluargaan.

“Saat mau ditempuh jalur hukum saat itu dan jalurnya itu harus ke Polsek untuk mendapatkan keterangan berdasarkan surat keterangan itu lalu dilanjutkanlah visum oleh polisi. Akan tetapi karena mahasiswa (korban) itu merasa kasihan sama dosennya, sehingga tidak jadi melakukan proses hukum dan akhirnya diselesaikan dengan proses kekeluargaan. Mereka sudah bertemu dan hal itu dekan yang tahu persis,” jelasnya saat ditemui di Ruangan Jurusan BSI pada Senin (2/9).

Sepak Terjang (Dosen) Tersangka di FBS UNM

Di hari yang sama, Reporter Estetika menemui Syukur Saud, Dekan FBS UNM. Syukur menjelaskan bahwa awalnya ia tak tahu menahu persoalan tersebut hingga salah seorang mengiriminya foto korban dengan mata merah. Ia pun langsung memanggil dosen AA untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

“Jadi, saya panggil dia hari Rabu, saya tiba dari bandara langsung ke sini, saya langsung ketemu dengan beliau. Saya tanya bagaimana kronologinya, dia akui bahwa memang karena dia emosi melihat mahasiswanya memainkan handphone,” terangnya.

Ia pun menambahkan bahwa dosen AA juga pernah tersandung kasus Plagiat.

“Pernah Pak AA ini kena kasus plagiat, dan sudah selesai hukumannya. Sudah lama,” ucapnya.

Dikutip dari makassar.tribunnews.com, dalam wawancara dengan Dekan FBS UNM, Syukur Saud, AA saat ini tengah dinonaktifkan sebagai dosen hingga kasus tindak kekerasan ini selesai. Ia juga mengatakan bahwa AA sendiri dikenal sebagai dosen yang memiliki catatan buruk di kampus.

Hal tersebut diamini, Menteri Sosial Politik (Mensospol) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FBS UNM, Muh. Fadel Rachman, ia mengatakan bahwa AA sempat dimutasi mengajar ke kampus UNM Pare-pare karena kasus plagiasi yang menimpanya dulu.

Buntut Tindak Lanjut Kasus Kekerasan, LK FBS Gelar Aksi

Suasana aksi tuntutan tindak lanjut kasus kekerasan dosen terhadap mahasiswa, Senin (2/9). Foto: A. St Aisyah/Estetikapers.

Menuntut adanya tindak lanjut atas peristiwa kekerasan dosen terhadap mahasiswa, LK FBS UNM dan mahasiswa FBS UNM menggelar aksi aksi di Lapangan Basket FBS UNM, Patangtambung, Makassar, Senin (2/9).

Sebelumnya Presiden BEM FBS UNM, Fadil Abdillah, bersama presiden Dema JBSI FBS UNM, Amastasya, telah menemui Dekan FBS UNM, Syukur Saud, untuk mengeluarkan surat intruksi kepada jurusan agar melakukan rapat bersama dosen JBSI lainnya. Syukur pun mengeluarkan surat instruksi pada Kamis, 29 Agustus 2019.

BACA JUGA: TINDAK LANJUTI KEKERASAN DOSEN TERHADAP MAHASISWA, DEKAN FBS: KAMI SERAHKAN SERAHKAN PADA KOMDIS

Namun, pihak JBSI baru akan melaksanakan rapat pada Senin (2/9). Dianggap sempat mandek, LK FBS UNM turun langsung melakukan aksi pada hari yang sama guna mengawal rapat tersebut.

Hal ini diceritakan langsung oleh Fadil Abdillah, Presiden BEM FBS UNM. Ia juga mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh AA ini sangat mencederai instansi pendidikan. 

“Ia mencederai instansi pendidikan yang notabenenya mustinya mencerdaskan. Tidak sepatutnya seorang pendidik melalukan tindak kekerasan (baca: pada mahasiswa) apalagi sudah diatur dalam kode etik,” ujar lelaki yang akrab disapa Vrix ini. Ia berharap, dosen bersangkutan yang menjadi pelaku tindak kekerasan mendapat hukuman yang setimpal. 

Setelah melakukan aksi pada Senin (2/9) mulai dari pukul 10.00 Wita, pihak birokrasi fakultas dan JBSI akhirnya menemui massa aksi mengumumkan hasil rapat jurusan di depan para peserta aksi pada pukul 17.00 Wita.

Hasil rapat tersebut, memuat dua putusan mengenai tindak lanjut kasus kekerasan tersebut, yaitu (1) Menyerahkan tindaklanjutan kasus ini kepada Komisi Disiplin (Komdis) FBS UNM; (2) Meneruskan kebijakan Dekan FBS untuk menonaktifkan tersangka dalam segala aktivitas akademik sampai ada keputusan dari Komdis FBS UNM.

Mewakili massa aksi, Mensospol BEM FBS UNM, Muh. Fadel Rachman, menyetujui keputusan tersebut. 

“Sebenarnya teman-teman setuju, karena kalau di Komdis katanya lebih berat lagi sanksinya. Tadi juga ada bahasanya dekan, supaya dosen ini nantinya tidak lagi mengajar di FBS. Begitupun di luar FBS. Jadi kita terimaji apa keputusannya,” katanya.

“Tapi teman-teman tetap mengawal kasus ini sampai ada keputusan dari Komdis FBS UNM,” tambahnya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa LK FBS UNM akan melakukan strategi lain ketika keputusan akhir tidak sesuai dengan yang diinginkan semua pihak.

“Karena ini baru planning pertama, ketika hasil tidak sesuai yang diinginkan yaitu dimutasi ataupun dipecat, ada lagi strategi atau gerakan yang akan dilakukan teman-teman masyarakat FBS. Dan itu rahasia,” tutupnya.

Dekan FBS UNM: Hanya Komdis yang Berhak Berhentikan PNS

Syukur saud saat diwawancarai di Lapangan FBS UNM, Senin (2/9). Foto: Balqis Syaidina Islami/Estetikapers

Ditemui di tempat yang sama, Dekan FBS UNM, Syukur Saud, menjelaskan bahwa kasus tersebut akan dilimpahkan ke Komdis karena pemecatan PNS tak bisa serta merta dilakukan oleh pihak fakultas.

“Susah dalam memecat PNS, dia harus ke Komdis dengan mengumpulkan data penunjang. Makanya saya bilang, kalau misalnya ada teman yang dapat data akurat  di luar kasus ini yang baru, maka boleh ikut dilampirkan. Supaya menambah rekam jejak di situ (baca:laporan),” terangnya.

Dari kasus tersebut, Syukur Saud berharap mahasiswa dapat mengambil pelajaran. Terutama soal mematuhi kontrak perkuliahan yang telah disetujui bersama dosen. Selain itu,  ia menghimbau dosen agar tak mudah melampiaskan emosi dalam menghadapi mahasiswa.

Berkaitan dengan aturan pemecatan Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS yang dimaksud Syukur Saud seperti yang tertera di atas, UU No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), pasal 87 ayat 1-4 membahas tentang “Pemberhentian PNS”, pasal 87 ayat (2) dan ayat (4) menunjukkan bahwa PNS dapat diberhentikan jika melakukan tindak pidana dengan hukuman penjara atau menjadi anggota pengurus partai, sedangkan pasal 87 ayat (1) berkaitan dengan PNS yang meninggal dunia otomatis diberhentikan atau PNS yang meminta sendiri untuk diberhentikan. Sementara pasal (3) yang kemungkinan bisa menjerat AA berbunyi: “PNS diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri karena melakukan pelanggaran disiplin PNS tingkat berat.”

Reporter: TIM Estetika

***

Seluruh pihak yang  merasa tidak sependapat dengan informasi di atas atau memiliki data tambahan dapat mengirimkan hak jawabnya melalui surel @haloestetika@gmail.com. atau menghubungi kami langsung di nomor 0853-4084-2411. Terima kasih.

Tim Estetika