Fri. Sep 18th, 2020

BEPPA PITUNRUPA, SALAH SATU TRADISI YANG MASIH DILESTARIKAN DI PINRANG

Pinrang, Estetika – Desa Mattiro Ade, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki begitu banyak tradisi dan kepercayaan dari nenek moyang yang masih sangat kental, dan salah satu tradisi yang masih dilestarikan sampai sekarang adalah ‘Beppa Pitunrupa’.

1. Beppa Pitunrupa merupakan gabungan dari dua kata yaitu Beppa dan Pitunrupa, dimana Beppa berarti kue dan Pitunrupa berarti tujuh macam. Adapun kue yang dimaksud adalah kue khas dari desa Mattiro Ade, seperti;

2. Onde-onde, yaitu kue yang terbuat dari tepung ketan yang diisi dengan gula merah dan dibentuk bulat kecil kemudian diselimuti dengan parutan kelapa.

3. Jompo-jompo, yaitu kue yang bentuknya bundar dan tipis dengan bahan dasar tepung dan gula merah.

4. Sawalla, yaitu kue yang bentuknya sedikit lonjong dan terbuat dari tepung ketan yang dilapisi dengan gula merah yang sudah dipanaskan.

5. Beppa oto, yaitu kue yang berbahan dasar terigu dan gula merah yang dibungkus daun pisang dengan bentuk yang sedikit panjang kemudian dikukus.

6. Dokodoko Cangkuneng, yaitu kue yang bentuknya segitiga dan didalamnya terdapat parutan kelapa yang sudah dicampur dengan gula merah.

7. Didara, yaitu kue yang terbuat dari terigu dan diisi parutan kelapa yang sudah dicampur dengan gula merah kemudian digulung.

8. Kue lapis, yaitu kue yang menyerupai kue bolu tetapi berbentuk segi empat dan setiap lapis berbeda warna.

Source: Int.

Kue yang telah disusun rapi diatas baki diletakkan diruang tamu, kemudian semua laki-laki dan pemuka agama duduk dan makan lebih awal. Setelah mereka selesai, barulah giliran para wanita maju menyantap kue yang ada. Tradisi ini dijadikan sebagai simbol rasa syukur serta kebahagiaan atas apa yang telah diperoleh.

Selain itu, tradisi ini juga biasa dilakukan oleh masyarakat setempat setelah memiliki kendaraan baru, yang tujuannya adalah sebagai penolak bala.

Salah satu tokoh masyarakat yang pernah melakukan tradisi Beppa Pitunrupa adalah Ibu Fitriani.

Menurutnya, Beppa Pitunrupa merupakan tradisi yang  dapat menghindarkan diri dari mara bahaya.

“Saya memang melakukan tradisi ini sebagai penolak bala. Selain itu, tradisi ini sudah ada sebelum saya lahir. Jadi, keyakinan nenek (moyang) kita, sebaiknya dilestarikan agar tidak terlupakan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, menurutnya, Beppa Pitunrupa bukan hanya sebagai penolak bala tapi juga sebagai wadah untuk silaturahim dengan kerabat maupun tetangga.

“Saya rasa tradisi ini juga bisa menjadikan saya atau siapapun yang melakukannya bisa lebih mengakrabkan diri kami satu sama lain dan saya bisa duduk bersama menyantap beppa pitunrupa itu,” tutupnya.

Reporter: Mutmainnah

Leave a Reply

Skip to toolbar