Mon. Sep 21st, 2020

BEDAH FILM “CAPTAIN FANTASTIC” DARI HMPS PRASASTI UNTUK MASYARAKAT SASTRA INGGRIS

Makassar, Estetika Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Persatuan Mahasiswa Sastra Inggris (Prasasti) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Bedah Film “Captain Fantastic” sebagai salah satu Program Kerja Divisi Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Kesusastraan di Cafetaria, Pasar Segar, Makassar, Kamis malam (3/5).

Acara ini dimulai sekitar pukul 20.00 Wita dengan memutar Film “Captain Fantastic” yang berdurasi sekitar 1 jam 58 menit dan dilanjut dengan sesi diskusi atau bedah film yang dihadiri oleh sebagian besar masyarakat FBS terkhusus mahasiswa sastra Inggris dari berbagai angkatan.

Suasana pemutaran film “Captain Fantastic” di Cafetaria, Pasar Segar, Kamis (3/5). Foto: Rahayu/Estetikapers.

Film “Captain Fantastic” sendiri merupakan film yang ber-genre Drama/Komedi yang menceritakan tentang bagaimana manusia yang awalnya tinggal diperkotaan bisa bertahan hidup didalam hutan dan dapat beraktifitas seperti biasanya layaknya orang yang tinggal di perkotaan, film ini sarat akan nilai pendidikan dan sosial yang sangat bermanfaat.

Dwi Rezki Hardianto, selaku salah satu pembedah film, mengaku telah berulang kali menonton film ini. Ia mengatakan bahwa film ini sangatlah cocok untuk menggambarkan situasi pendidikan sekarang yang dipengaruhi oleh kemunafikan sistem kapitalis yang membuat anak muda sekarang selalu berperilaku konsumtif.

“Film ini membongkar perilaku konsumtif itu, yang dimana interaksi sosial adalah jual beli dan misteri industri pendidikan yang dipengaruhi oleh kemunafikan sistem kapitalis dan mengajarkan kita untuk selalu berperilaku konsumtif,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNM ini menerangkan bahwa dalam film tersebut menampilkan figur seorang ayah yang memiliki cara unik tersendiri dalam mengajari keenam anaknya tentang pendidikan yang menurutnya jauh lebih baik jika diajarkan tanpa ada sistem yang mengatur.

“Dia (Baca: Tokoh Ayah dalam film) menganggap bahwa pendidikan yg ada pada saat ini bukan lagi mencerdaskan anak2 mereka malah menjatuhkan ke jurang kebodohan,” terangnya.

Ditemui di tempat yang sama, Kanatza Medy Rachman, mahasiswi Sastra Inggris angkatan 2016 yang sempat hadir dalam kegiatan tersebut, mengatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat bagus untuk diikuti guna menambah wawasan dan juga dapat mempererat hubungan antara Prasasti dan seluruh mahasiswa Sastra Inggris

“ya, menurutku ini acara bagus sekali selain itu pelayanan panitia dari prasasti sendiri itu sangat bagus dan juga bedah film ini sangat bermanfaat untuk kita dalam menambah wawasan apalagi film ini sangat mengesankan karena tentang pendidikan yang bisa kita dapatkan dimana saja bahkan di dalam hutan,” ungkapnya.

Reporter: TIM ESTETIKA

Leave a Reply

Skip to toolbar