Parangtambung, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) Dewan Mahasiswa (Dema) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan Kajian Rutin Intelektual dan Religiusitas (Kritis) di depan Gedung DH FBS UNM, Jumat (6/9).

Kajian yang mengusung tema “Individu dan Masyarakat” ini merupakan lanjutan dari kajian yang dilaksanakan pekan lalu (30/8) dengan pemateri yang sama, Dwi Rezki Hardianto.

Suasana berlangsungnya PBSD KRITIS di pelataran DH FBS UNM, Jumat (6/9). Foto: Tim Estetika

Di awal, pemateri menjelaskan proses terbentuknya manusia dilanjutkan dengan bagaimana manusia dan binatang berpikir.

“Berpikir itu proses kerja akal dari tahu menjadi semakin tahu, manusia berpikir menggunakan akal sementara binatang menggunakan naluri. Manusia memiliki masa depan karena dia memiliki sejarah sedangkan binatang tidak memiliki sejarah juga masa depan,” jelasnya.

Lebih lanjut, demisioner Presiden BEM UNM Periode 2018-2019 ini menjelaskan hubungan manusia dan alam dengan mengungkapkan filosofi sulapa appa dan pepatah Kajang.

“Ada lima sudut appa sulapa, di tengah merupakan poros, di situlah manusia di antara keseimbangan air, api, udara, dan tanah. Jangan merusak alam karena kau merusak dirimu sendiri, seperti kata orang Kajang ‘jangan ada ular panjang hitam (aspal) yang tak berujung dan ranting pohon yang ada di atas rumah (kabel listrik), karena itu akan merusak alam,” lanjutnya.

Reporter: Tim Estetika

Estetika Tim