Mon. Jul 13th, 2020

RELEVANSI GERAKAN SOSIAL DAN IMAJINASI POLITIK

Setiap masyarakat kiranya ingin mendapatkan suatu perubahan pada dirinya ataupun lingkungannya yang dapat merubah nasib maupun kesejahtraan mereka. Dalam suatu perubahan yang terjadi dalam diri masyarakat, tentu ada suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu suatu gerakan sosial. Secara garis besar gerakan sosial (social movement) adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok informal yang berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial. Gerakan sosial juga bisa dilihat sebagai upaya bersama massa rakyat yang hendak melakukan pembaruan atas situasi dan kondisi sosial politik yang dipandang tidak berubah dari waktu ke waktu atau juga untuk menghentikan kondisi status quo.

Menurut Peter Burke, seorang Sosiolog Amerika, ada dua tipe gerakan sosial, yaitu gerakan sosial untuk memulai perubahan dan gerakan sosial yang dilakukan sebagai reaksi atas perubahan yang terjadi. Bila dikaitkan maknanya dengan gerakan di Indonesia, maka dapat dikategorikan menjadi sebelum dan sesudah 1966. Pada masa sebelum 1966, mobilisasi gerakan sosial mengarah pada pemberian dukungan terhadap legitimasi negara yang baru berdiri. Sedangkan pada pasca 1966, gerakan yang terjadi lebih mengarah pada kritik atau reaksi terhadap kebijakan negara, seperti peristiwa Malari, Kedung Ombo, Tanjung Priok, dan Gerakan Reformasi 1998.

Secara historis, gerakan sosial di Indonesia dapat dikatakan memiliki akar sejarah yang kuat. Hal itu dapat dilihat dari berbagai gerakan sosial yang dimulai sejak perlawanan rakyat Indonesia pada masa kolonialisme Belanda. Bermula pada saat itu, gerakan sosial telah banyak dilancarkan dan masih berlanjut hingga sekarang, yaitu era yang dinamakan dengan era Neoliberialsme namun dibungkus dalam kemasan Globalisasi.

Sebagai bagian dari sebuah gerakan sosial, gerakan mahasiswa tahun 1998 merupakan sebuah contoh gerakan sosial yang berhasil dalam misinya. Memang tidak semua slogan yang diinginkan dalam gerakan mahasiswa bisa terwujud, namun langkah-langkah dan karakteristik yang diambil dalam aksi unjuk rasa mahasiswa. Dilakukannya gerakan sosial ini dikarenakan mahasiswa menganggap sistem pemerintahan sudah tidak relevan lagi terhadap kepentingan dan kebutuhan masyarakat serta goyahnya sistem perekonomian Indonesia pada waktu itu.

Sekarang ini, realitas politik kita masih terkungkung ke dalam lingkaran imajinasi populer (popular imagination). Istilah imajinasi populer sering dipakai oleh para ilmuwan sosial postmodern untuk menggambarkan satu kondisi sosial yang disesaki oleh perilaku yang bersifat rendahan (kitsch) ahistoris (patische), sarat kepura-puraan (camp) dan menonjolkan citra (image). Dalam hal ini, istilah paradigma berpikir popular sangat cocok untuk menafsirkan imajinasi politik hari ini, yakni cara berpikir yang dipengaruhi oleh berbagai wacana budaya populer media massa, TV, dunia hiburan dan sejenisnya yang dicirikan melalui sifatnya yang dangkal dan menuruti selera massa.

Dalam konteks politik, kita kerap melihat para elite mengemas wacana sedemikian rupa sehingga tampak ilmiah-rasional. Kenyataannya, wacana yang diproduksi tersebut tidak lebih dari sebuah hasil kedangkalan berpikir dan juga eksploitasi simbol populer dan boleh jadi adalah hal yang diyakini paling efektif untuk mendekatkan diri dengan calon pemilih. Sehingga, menjadi wajar jika banyak politisi mengonsumsi gaya hidup (life style) -mulai dari baju, sepatu, kendaraan, sampai musik- yang tengah populer di kelompok masyarakat tertentu yang menjadi target politiknya.

Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat Indonesia yang mendambakan suatu perubahan sosial sangatlah penting untuk mengamati dan melihat secara jeli keadaan negara dan sistem pemerintahan kita saat ini, agar hal-hal yang tidak diinginkan tidaklah terjadi. Sehingga dengan itu, negara dapat maju dan masyarakatnya sejahtera.

Penulis: Akbar, Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar

Leave a Reply

Skip to toolbar