WARISAN PARAKANG

estetikapers.com

Seorang lelaki renta berdiri menatapku. Sorot matanya seakan ingin menelan habis diriku malam itu. Baju hitam yang melekat di badannya tertiup angin malam, seakan menambah kesan menakutkan pada dirinya. Bulan purnama benar-benar bulat bercahaya tepat di atas kepala. Mungkin ini sebuah kebetulan atau tidak, udara di kampung ini begitu dingin kala itu. Hal ini jarang terjadi, mengingat musim penghujan masih jauh dari pintu gerbang cuaca. Menakutkan.


“Parakang.” Ucapnya lalu beranjak pergi.


***


Namaku Irahmi. Seminggu yang lalu aku baru saja dilamar oleh anak seorang pedagang tersohor kaya di kampungku bernama Asari. Jika kau berkunjung di kampungku, kau akan menemukan rumah-rumah yang seakan saling bersaing untuk memperoleh gelar rumah termewah. Tingkatan rumah sudah tak dihiraukan lagi, emas berkarat-karat sudah tak diindahkan lagi, bagi mereka itu hal yang biasa. Aku hanyalah anak dari seorang guru di kampung ini dan ibuku pedagang sayur di pasar. Kau tentu bingung mengapa calon mertuaku bisa menerima orang kelas menengah sepertiku, sementara ia berasal dari kelas atas. Perjalanan cintaku sudah mengecap asam-manis kehidupan. Asari sudah berhasil meyakinkan orang tuanya perihal cinta dan ketulusannya dalam meminangku. Butuh dua tahun untuk semua itu. Hanya satu pesan orang tua Asari “berjanjilah untuk mewarisi semuanya pada keturunanmu!”.


***


“Parakang!”


“Tolong, tolong ada Parakang.”


“ada Parakang!”


Suara teriakan itu terdengar hingga dalam kamarku. Suara tenang di kampung ini mendadak menjadi gaduh. Aku berlari keluar kamar, sementara kulihat bapakku sedang membongkar seisi dapur untuk menemukan sebuah parang. Ibuku berlari menuju belakang dapur mencari obor sebagai penerang. Kami bertiga berkumpul di ruang tengah lalu menuju keluar rumah.


“kau di sini saja. Tak baik anak perawan keluar tengah malam seperti ini.” ucapnya.


Parakang. Makhluk yang selalu meresahkan orang di kampung ini. Parakang tak sejenis dengan pocong atau hantu yang lainnya. Sepehamanku tak ada seorang pun yang terlahir sebagai parakang. Sebab parakang adalah ilmu yang diwariskan. Keinginan untuk cepat kaya dalam waktu yang singkat menjadi salah satu pilihan seseorang yang buta duniawi untuk mendapatkan segalanya meski dengan menjadi parakang. Jika kau ke kampungku aroma menakutkan kerap terendus, apalagi ketika ada bayi yang baru saja lahir. Bersiaplah, mungkin saja kematian akan menyelimuti. Parakang menghabisi mangsanya dengan menghisap pello. Jika kau termasuk keturunan parakang, kau akan menjadi pewarisnya dengan hanya mengucapkan lemba yang berarti pindah. Maka semua ilmu parakang itu akan pindah.


***


Hari ini adalah pesta pernikahanku dengan Asari, suamiku. Dengan latar belakangnya yang berasal dari keluarga kaya, maka hal yang memalukan bagi mertuaku jika merayakan pesta pernikahan anaknya dengan sederhana saja. Kampung mendadak menjadi ramai, suara biduan menggema di semua sudut kampung. Dari pelaminan, kulihat para tamu dengan emas berlipat-lipat datang menuju tenda pernikahan. Kilaunya begitu menyilaukan. Ini tradisi, selagi ada pesta maka akan menjadi sebuah ritual untuk berlomba-lomba memakai semua perhiasan di sekujur tubuh. Kampung ini sungguh kaya. Jika kau tak percaya, kau harus ke sini dan menyaksikan semuanya. Tapi ingat bau parakang tak akan jauh dari orang-orang yang kaya di kampungku.


***


Pagi masih menyelimuti indahnya malam pertama. Tapi siapa yang menyangka di tengah hiruk piruk kebahagianku, Lariba harus kehilangan anak bungsunya yang masih bayi di depan matanya sendiri. Parakang. Makhluk pengisap pello ini menggegerkan seisi kampung. Kabar yang terendus, ada seorang petani biasa yang kaya raya yang menjadi titik fokus kecurigaan warga kampung. La Rakkang. Untuk menguji kebenarannya, warga sepakat menyimpan belut dan pecahan kaca di selokan-selokan di setiap rumah warga. Konon katanya dengan cara itu maka kita akan tahu siapa parakang yang meresahkan kampung ini.


“kenapa harus belut dan pecahan kaca?” aku menyimpan penasaran.


“sebab dengan hal ini maka parakan akan merasa dirinya sakit dan disiksa.”


Aku mengangguk seakan sudah begitu paham. Suamiku kembali ke rumah untuk mengambil parang. Aku berkumpul bersama warga di depan rumah La Rakkang.

Suara riuh terdengar dari arah rumah mertuaku yang kaya itu. suamiku berlari menuju tempatku berdiri, dia memaksaku untuk pulang ke rumah. Mertuaku tak bisa mengatur napasnya lagi, entah mengapa lidahnya terlujur seperti ular. Rasa-rasanya ia begitu tersiksa. Warga mendadak berkumpul di depan rumah kami. La Yani, dukun di kampung kami mengambil tempat di antara kami yang sedang kebingungan melihat tingkah aneh dari mertuaku itu. tiba-tiba ia memukulkan lidi di kaki mertuaku. Dan tiba-tiba kaki mertuaku bengkak. Aku sempat tak terima. Dukun ini semakin menambah rasa sakitnya. Aku berlari menuju dapur untuk mengambil segelas air minum untuk mertuaku. Dari dalam dapur, terdengar suara yang mengucapkan “lemba”. Aku berlari menuju pembaringan mertuaku, dan di sana kutemui suamiku dengan mata yang memerah dan lidah yang terjulur. Aku terdiam dan teringat akan pesan mertuaku sebelum kami menikah “berjanjilah untuk mewarisi semuanya pada keturunanmu!”. Seorang lelaki renta berdiri menatapku. Sama seperti halnya malam itu.


“Parakang!”


Biodata Penulis: Nur Asiyah merupakan mahasiswa FBS UNM angkatan 2013. Sekarang menjabat sebagai Sekretaris Bengkel Sastra. Sementara menyelesaikan studi di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.