KORIDOR

estetikapers.com

Pagi ini matahari sangat cerah ditemani dengan secangkir kopi dan sepotong roti di koridor kampus telah melengkapi kenikmatan untuk pagi ini, sebelum memulai perkuliahan pada hari ini. Terima kasih untuk kawanku Roy yang rela berbagi roti denganku dan juga terima kasih kepada ibu kantin yang selalu bersedia memberiku diskon kopi, dan juga tak lupa terima kasihku kepada Dam yang menyodorkan sebatang rokok untukku, tapi maaf aku bukan pecandu nikotin.


Seseorang pernah bertanya padakubagaimana caraku bertahan hidup jika minum kopi saja aku butuh diskon untuk mendapatkan segelas kopi. Ku katakan saja rezekiku tidak akan tertukar, hidup dan matiku itu rahasianya, begitupun jodohku. Aku tak perlu khawatir dengan apa yang akan menutupi perut kosongku, karena dengan memiliki beberapa teman itu cukup untuk hidup (kamu pasti mengerti maksudku).

Kadang aku memiliki uang lebih dan kadang seperti ini (mlearat), kemudian muncul lagi pertanyaan seperti ini “kau kemanakan uangmu?” ku jawab saja “aku membeli ilmu” kau tahu lemari yang emmak belikan untuk tempat pakaianku di kost tidak ku pergunakan untuk itu, aku mengisinya dengan buku-buku, ada berbagai buku di sana, ada novel Sci-fi sampai Adventure, ada juga buku Filosofi, Agama, dan bukan hanya itu sampai buku Politik pun aku memilikinya. Jika kau tak percaya kau boleh tanyakan pada Buyung laki-laki yang hidupnya lebih melarat dariku dan kau pasti tak dapat membayangkan bagaimana rupa laki-laki yang lebih melarat itu dan ternyata dia masih bisa hidup sampai sekarang.


Dulu aku memiliki kekasih, ia cantik dan ia memiliki bola mata yang indah yang selalu memikatku untuk memandangnya dan terus membuatku hanyut dalam cintanya. Namun kini tak lagi, setelah kejadian itu dia nampak berbeda, matanya tak lagi memberi cinta dan tak juga tak lagi ada aku di sana. Cukup setahun untuk menjadi bagian hidupnya, kemudian ia pergi dengan alasan ada yang lebih mencintainya daripada aku. Alasan apa itu! Sampai sekarang aku tak pernah menerima alasan itu, karena aku tak pernah yakin bahwa ada yang bisa melebihi cintaku padanya. Namun sudahlah mungkin itu adalah caranya untuk pergi. Namun, hingga sekarang aku tak bisa berhenti mencintainya, rabu kemarin adalah 2 tahun aku dan dia berpisah, dia memutuskan untuk berteman denganku dan meminta agar aku tak mengejar cintanya lagi. BULLSHIT ! aku tak mungkin bisa melupakannya, karena aku sangat yakin dengan cinta yang kumiliki hingga sekarang. Dan 2 tahun juga aku menunggu dan memenjarakan rasa ini untuknya, dan kau meminta mematikannya? Maaf aku tak bisa.

Kemudian dia datang dan duduk tepat di sebelahku, dan bercerita banyak tentang kekasihnya. Bahkan di antara kami nampak tak pernah terjadi sesuatu dan aku hanya perlu berpura-pura seperti ini. Setelah kau pergi dengan alasan yang tidak masuk akal dan mencabik-cabik hatiku, kemudian kau datang dengan senyum dan cerita baru dengan laki-laki lain, kau tahu bagaimana rasanya jadi aku?.


Hari ini ku dengar mereka sudah putus, apa aku nampak bahagia atau turut bersedih karena hubungannya berakhir? Keduanya mungkin saja kurasakan saat ini. dan aku kembali melihat matanya yang kosong dengan senyum pekik yang tergambar jelas di raut wajahnya. Lalu dengan alasan apa mereka mengakhiri hubungannya?, akh sudahlah aku tak mungkin menanyakannya. Tapi aku harus tahu, sebelum ku tanyakan aku melihat genangan penyesalan di bola matanya kemudian semuanya pun tumpah di pundakku. Kali ini aku benar-benar tak bisa berbuat banyak untuknya, semenjak ia bersamaku, aku tak pernah menumpahkan air matanya sedikitpun. Lalu apa yang membuatnya begitu sakit hati?. Aku sama sekali tak tahu harus berbuat apa, aku ingin sekali mengelus kepalanya lalu mengatakan “sudah, semua yang kita miliki akan pergi” namun apa daya aku laki-laki pengecut yang tak pernah memiliki nyali untuk menyentuh wanita. Kemudian aku hanya menyuruhnya pulang untuk istirahat.


Berselang beberapa bulan, ia sudah mulai merasa tenang dan kembali beraktivitas seperti biasanya. Namun tetap saja tak kutemui lagi bola mataku di sana. Seperti biasa dia datang duduk di seebelahku di koridor, namun kali ini dia membawakanku kopi seperti saat kami pacaran dulu. Aku merasa kembali ke 3 tahun yang lalu, akh sudahlah. Kemudian dia memegang wajahku dan menatap kedua bola mataku, aku merasa ada yang aneh kali ini, ia bersikap lebih dari biasanya. “Aku menyesal” perkataan itu keluar dari mulutnya dengan spontan dan penuh penyesalan yang mendalam tergambar jelas di bola matanya dengan genangan kenangan di kantong matanya.


Aku memalingkan wajah dan menelan seteguk kopi yang ia bawa, kemudian ia melanjutkan perkataannya “aku menyesal meninggalkanmu demi dia, padahal kau sudah memberi tahuku bahwa tak akan ada laki-laki yang mencintaiku lebih dari cintamu. Kau benar, tak ada yang bisa mengalahkan cintamu mencintaiku, dan tak ada yang mencintaiku seperti caramu mencintaiku dan memperlakukanku. Maukah kau kembali mencintaiku seutuhnya? Dan kita memulai ini dari awal menjadi sepasang kekasih lagi” lalu ia memegang erat tanganku dan menatapku sangat dalam, aku mencari sesuatu yang hilang dari bola mata itu namun aku benar-benar tak dapat melihatnya lagi, entah bola matanya yang memang sudah tak utuh atau bola mataku yang sudah mulai lelah dengan penantian selama ini.


Ku tepis tangannya dari tanganku, dan ku beranikan diri mengahapus air mata di pipinya kemudian ku angkat dagunya “kamu masih cantik seperti dulu, namun bukankah kau sendiri yang memintaku untuk tidak mengejar cintamu lagi? Dan sejak itu aku mematikan rasaku baik untukmu maupun wanita lain”. Kemudian ia kembali menepis perkataanku. “Bukankah kau pernah mengatakan padaku bahwa kita akan selalu bersama selamanya?”, ucapnya dengan mengingatkanku dengan perkataanku sejak itu “namun itu tak berarti kita harus menjadi sepasang kekasih apalagi sepasang suami-istri, aku hanya mengatakan kita akan selalu bersama menjadi seorang sahabat”.


Air matanya tumpah dan aku benar-benar tidak tau harus melakukan apa saat ini, aku harus melawan emosi dan perasaanku padanya. Kemudian ia kembali berkata, “Maafkan aku, aku benar-benar menyesali perbuatanku, dan aku benar-benar mencintaimu, benarkah kau tidak lagi mencintaiku? Benarkah kau mematikan cintamu untukku dan menutup hati untuk selamanya? Jawab aku, tatap mataku saat kau menjawab semuanya”. Aku menghela nafas panjang kemudian kuberanikan diri menatap matanya meskipun sebenarnya aku tak bisa namun harus kukatakan, “Namun aku bukanlah laki-laki yang kau inginkan, sebab kau yakin dengan alasanmu saat itu bahwa ada laki-laki yang lebih mencintaimu dari cinta yang kumiliki”. Tumpahlah air matanya dengan isak tangis penyesalan yang ia miliki sekarang dan untuk selamanya.


Penulis | Andi Nurul Fatiha A.M Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2014