Aku adalah satu-satunya titipan Tuhan yang sangat dijaga baik-baik oleh orang tuaku, dalam kesempatan ini tentu ayah dan bundaku tak akan menyia-nyiakannya  begitu saja. Sebagai bentuk rasa syukurnya ayah dan bunda selalu memberikan kasih sayang dan juga dukungan seratus persen untukku. Karena dukungan yang tak henti-hentinya mengalir dari kedua orangtuaku, aku tumbuh menjadi anak yang begitu percaya diri dengan kemampuanku. Setiap aku jatuh dan gagal ayah dan bunda selalu mendorongku untuk terus maju, tak ada hal yang lebih penting dari orang tuaku untuk memberikan support kepada anak semata wayangnya, apa pun yang aku inginkan dengan mudah aku bisa mendapatkannya hanya dengan mengatakan itu kepada mereka. Ohiya namaku Dinda Aryani, nama itu diberikan oleh orangtuaku saat aku telah lahir melengkapi kebahagiaan mereka, nama itulah yang aku bawa hingga sekarang ini, hingga orang-orang mengenali diriku sebagai seorang putri tunggal, anak pintar, ramah pada semua orang, cantik, berbakat, tapi manja. Itulah yang orang-orang biasa deskripsikan tentang diriku.

Aku punya banyak waktu untuk menunjukkan bakat dan kemampuanku tanpa harus bersaing dengan saudara yang lain karena memang aku tidak punya saudara dan aku memang tidak pernah menginginkan hal tersebut karna aku selalu ingin ayah dan bunda selalu fokus padaku untuk membahagiakanku tanpa harus dibandingkan dengan sosok adik atau pun kakak. iya mungkin terdengar egois tapi orang lain tidak akan pernah mengerti apa yang kita rasakan sebelum dia sendiri yang mengalaminya.

Karena perhatian dan kasih sayang dari keluargaku, aku selalu percaya diri atas apa yang aku lakukan. Menjadi seorang only child tidak hanya membuatku istimewa di keluargaku tapi juga dikalangan teman-teman sekolahku, iya aku selalu menjadi pusat perhatian mereka atas apa yang aku miliki, aku menjadi prioritas mereka karena selain aku punya segalanya dirumah aku juga memiliki segalanya di sekolah, perhatian guru dan teman-temanku bisa dengan mudah aku dapat karena kecerdasan yang diberikan Tuhan kepadaku. Mendengar ceritaku aku merasa akulah orang yang paling beruntung di dunia ini, bagaimana tidak aku selalu menjadi yang utama diantara mereka. Yess… aku benar-benar menikmati hidupku, that i like it.

Aku adalah harapan satu-satunya orang tuaku, saat sekolah sebisa mungkin aku harus berprestasi, dan itu ku buktikan dengan menjuarai lomba-lomba yang pernah aku ikuti yang diantaranya lomba akting yang berhasil aku raih dalam FLS2N dan dari acara tersebut aku dipertemukan oleh sosok ikhwan yang berhasil mengalihkan duniaku, Varis…, orang-orang biasa memanggilnya. Dialah sosok yang selalu memperhatikann gerak-gerikku yang tanpa ku sadari.

Dibalik cerita yang sepertinya dunia ini hanyalah milikku, aku pun juga punya beban dalam diriku, beban yang seharusnya bukan beban. You know? Kenapa selama ini aku selalu berusaha menjadi pusat perhatian, berusaha menjadi yang terbaik diantara teman-temanku, satu alasan karena aku ingin meyakinkan orang tuaku bahwa aku bisa menjadi apa yang mereka inginkan, cukup aku dalam hidup mereka, tidak perlu lagi mereka memiliki buah hati selain aku.  Rasa ketakutan itu selalu muncul dalam benakku, bagaimana jika kelak aku punya adik? Apa ayah dan bunda akan tetap seperti ini? Apa aku masih bisa menikmati indahnya hidupku seperti sekarang ini? Tapi selalu aku tekankan pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan punya adik lagi. Sampai suatu ketika… hari itu tiba.,

*…,
Waktu menunjukkan pukul 14.00, jam pulang sekolahku, seperti biasanya aku langsung pulang kerumah.., uhh lelah sekali setelah seharian beraktifitas di sekolah, tapi rasa lelah itu selalu hilang saat tiba dirumah dengan sambutan hangat bunda, saat itu aku pulang kerumah mendapati ayah dan bunda di ruang tengah, “Dinda, sini dulu nak…” (panggil ayah), “iya yah, ada apa?” (kataku menuju ke ruang tengah) “ada yang ingin ayah dan bunda sampaikan sama kamu sayang, pasti kamu senang..,”(tambah bunda dengan wajah yang berbinar-binar)
dalam hatiku aku merasa bahagia karna kabar baik yang akan disampaikan ayah dan bunda. “apa sih bun…?” (dengan wajah berseri-seri sambil menatap bunda dan ayah. “kamu akan punya adik sayang….” (kata ayah dengan nada suara semangat)
perasaanku saat itu benar-benar berkecamuk, aku bagai disambar petir di siang bolong, dalam hati aku berharap agar ayah atau bunda mengatakan kalau mereka hanya bercanda, tapi tidak faktanya mereka justru menambahkan senyuman semangat di wajah mereka.
“bunda serius…?” (aku memandangi bunda dengan tatapan tajam)
“iyya sayang, kamu senang kan?” (jelas bunda)
“kenapa aku harus senang bun? Berikan aku alasan hhhha….”

Tanpa aku sadari, air mataku menetes yang membuat ayah dan bunda justru bingung dan menatapku dalam-dalam, mungkin mereka berpikir dan sadar bahwa berita bahagia mereka adalah kabar buruk untukku. Karena tidak bisa lagi menahan air mataku, aku berlari ke kamar dan menutup pintu, di dalam kamar aku menangis sejadi-jadinya membiarkan bantalku dibasahi oleh air mata, aku marah-marah tidak jelas dalam kamar yang menjadi saksi kepedihanku, boneka-bonekaku dalam kamar menjadi korban kemarahanku, satu persatu boneka aku lempar ke lantai, hanya dinding yang menjadi saksi bisu bagaimana perihnya hatiku saat itu.

Tok..tokkk..tokkk….

Terdengar suara ketukan pintu kamar, itu pasti ayah atau bunda.. benar saja mereka langsung masuk dan melihat keadaanku,  “kamu kenapa sayang?” (kata bunda yang sebenarnya sudah mengerti bahwa ini adalah bentuk penolakanku pada kehamilannya)
“bun…, kenapa? Kenapa bunda melakukan ini? Apa bunda sama ayah sudah tidak sayang  aku lagi? Kenapa bun?…” (jeritan hatiku pada bunda,)

“Dinda, mana mungkin nak? Kami akan tetap sayang sama kamu, kamu akan tetap menjadi kesayangan kami” (kata bunda dengan nada sedih)
“benar kata bundamu sayang, kamu itu buah hati kami dan apa pun alasannya bunda sama ayah akan selalu sayang sama kamu, jadi kamu ngga usah takut kasih sayang kami akan hilang karna itu ngga akan pernah terjadi nak, Dinda itu prioritas ayah sama bunda” (tambah ayah berusaha meyakinkanku). Terus kenapa bun, yah…? kenapa kalian ingin punya anak lagi? (kataku dengan lantang) “kenapa ? apa kurangku selama ini?’ apa aku kurang jadi anak yang bisa membuat kalian bahagia, aku sudah melakukan segalanya, aku menjadi  seperti ini hanya karena satu hal dan bunda ayah tahu? Aku hanya ingin selalu menjadi pusat perhatian kalian”? (tambahku menangis kencang…) “sayang, bukankah selama ini kami selalu memberikan apa pun yang kamu mau, semua permintaan kamu selalu kami penuhi, itu karena kamu prioritas kami dan ayah sama bunda sayang banget sama kamu, jadi kamu ngga perlu khawatir kasih sayang kami akan hilang setelah kamu punya adik justru kamu kan lebih bahagia punya teman main nak” (kata ayah berusaha menghiburku) iya benar saja, selama hidupku aku tidak pernah mengalami yang namanya penolakan dari orang tuaku, mungkin itulah alasannya kenapa aku begitu manja dan keras kepala, aku tidak pernah memikirkan bagaimana selama ini orang tuaku membahagiakan diriku dengan penuh cinta.
ayah dan bunda berusaha membuatku mengerti tapi karena keegoisanku aku mengabaikan kata-kata mereka.

*…

Hari terus berlalu, minggu berganti minggu, bulan pun silih berganti, hari-hariku seperti dihantui rasa ketakutan, ketakutan akan kehilangan kasih sayang orang tuaku. Tapi karena itu juga memotivasiku untuk berusaha lebih baik lagi agar aku bisa selalu mendapatkan perhatian mereka, sejak saat itu juga sifat manjaku menjadi-jadi, aku tidak peduli mengenai  orang lain mengenai kemanjaanku, bagiku itu manusiawi terlebih aku ini perempuan dan only child. “anak tunggal pasti manja” ungkapan itu udah tak asing lagi di telingaku bahkan rasanya gendang telingaku sudah mati rasa setiap kali orang memanggilku si anak manja, but aku tidak perduli.

Aku selalu berpikir bagaimana aku selalu mencari perhatian ayah dan bunda agar mereka tidak mengabaikanku setelah mereka punya anak nantinya. Meski begitu aku selalu ingin jadi yang utama, aku tidak ingin ada yang menyaingiku, meski itu adalah saudaraku sendiri, benar-benar egois bukan? suatu hari aku memenangkan sebuah lomba di sekolahku,  hari itu benar-benar membuatku bahagia, tapi saat aku saksikan tamu undangan aku tidak melihat dua orang yang harusnya ada menyaksikanku, aku tidak mendapati orang yang seharusnya ada mendampingiku, ayah atau bunda tidak hadir, padahal aku sudah memberi tahunya jauh-jauh hari sebelum hari H lomba itu, mereka benar-benar merusak hariku, aku kecewa bahkan hari terpentingku pun mereka tidak ada yang hadir.

*…

“kamu kenapa?”, seseorang menepuk pundakku dari belakang, dialah Varis sosok laki-laki misterius.
“aku tidak papa, Cuma sedih aja orang tuaku ngga datang padahal keberhasilanku ini ingin ku tunjukkan pada mereka”
“kamu jangan sedih, mungkin mereka ada urusan penting makanya tidak bisa hadir” (Varis berusaha menenangkanku)
“kamu ngga ngerti Ris..,”(jawabku melirik Varis)
“Dinda, aku mengerti perasaanmu tanpa perlu kamu jelaskan” (Varis menatapku) tanpa berniat membalas ucapan Varis yang membuatku bingung, dia beranjak meninggalkanku. Sudahlah lagipula masalahku bukan pada Varis tapi pada diriku sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku akan memiliki saingan. Iya ku sebut ia saingan karna dia yang akan menyaingiku merebut perhatian orang tuaku.

Hari semakin sore, acara pun sudah di titik akhir, aku beranjak pulang kerumah. Sampai di rumah ku lihat ayah dan bunda turun dari mobil dengan wajah bahagia, perasaan kecewaku ku luapkan “ayah bunda kok ngga datang sih di acaraku, aku kan sudah bilang kalau acaranya hari ini” (kataku nyamperin mereka dengan perasaan jengkel) “maaf yah sayang, kami dari RS chek kandungan bunda” (kata ayah menjelaskan) “ohh jadi sekarang kalian udah berubah, kalian ngga peduli lagi sama aku, kalian lebih sayang sama calon buah hati kalian? Hha? Bunda, ayah, hari ini aku menang di loma yang aku ikuti dan aku ingin menunjukkannya pada kalian kalau aku bisa menjadi anak yang kalian inginkan, menjadi anak kebanggaan kalian tanpa harus kalian punya anak lagi, aku kecewa, ayah dan bunda jahat, kalian udah ngerusak hariku” (kataku menangis dan marah-marah) tanpa mendengar penjelasan dari mereka aku berlari meningalkan rumah, menangis sejadi-jadinya tanpa memperhatikan apa pun sampai “ bruukkkk….,” badanku terasa sakit dan terpental jauh, ku lihat orang-orang berkerumuh dan bunda memelukku sambil menangis, setelah itu aku tidak tahu lagi bagaimana, yang aku tahu aku di RS dan di samping tempatku terbaring lemah, aku melihat sosok yang tak asing, bunda? Aku kaget sosok itu bunda, “bunda kenapa?” aku menangis lagi dan lagi. Di sampingku ada Varis yang berusaha menenangkanku, meski pada saat itu aku masih sempat berfikir kenapa yah disaat-saat seperti ini Varis selalu ada, tapi aghh sudahlah, intinya saat aku sadar waktu itu, muncul berbagai pertanyaan dalam benakku! Aku kenapa? kenapa aku di opname? Kenapa ada bunda juga yang terbaringdi ruang perawatan? Karena kejadian terakhir waktu itu yang aku ingat adalah saat aku menangis dan marah besar kepada kedua orang tuaku.

Aku semakin bingung saat Ku lihat ayah dari kaca pintu jendela kamar terlihat sedih, ada apa ini? Ku lihat ke arah bunda, dia pun menangis. Apa karena keadaanku atau ada hal lain? Aku semakin bingung dengan situasi ini. Kemudian Varis menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi, dari aku kecelakaan lalu dibawa ke rumah sakit, saat tiba di rumah sakit dokter mengatakan bahwa aku kekurangan banyak darah hingga membutuhkan donor darah pada saat itu dan kebetulan sekali darah yang cocok denganku hanya bunda, saat itu tanpa berpikir panjang bunda mendonorkan darahnya untukku, selang beberapa jam aku berhasil tertolong, namun ketika aku diselamatkan, kebahagiaan lain harus ayah dan bunda ikhlaskan, karena lemah usai transfusi darah, bunda harus kehilangan buah hati yang sempat membuatnya tersenyum bahagia, perasaan kecewa terlihat dari wajah ayah, namun apa boleh buat mereka hanya bisa pasrah yang terpenting bunda tidak kenapa-kenapa, di sisi lain aku merasa sangat bersalah entah aku harus senang atau sedih karna jelas sekali telingaku tidak salah tangkap bahwa ketakutanku mempunyai saudara telah hilang karena calon adikku itu telah meninggal dalam kandungan, meski aku tidak pernah mengharapkan kehadirannya entah kenapa perasaan sakit, sedih teramat dalam aku rasakan, aku seperti kehilangan sesuatu yang amat sangat berharga dalam hidupku, aku benar-benar menyesal atas apa yang aku lakukan sama ayah dan bunda, Varis yang selalu menemaniku berusaha menjelaskan padaku bahwa aku seharusnya tidak merasa tersaingi dengan calon adikku itu, orang tuaku akan tetap menyayangiku meski mereka punya anak lagi, tapi apa yang bisa ku lakukan saat ini, aku hanya bisa menangis, karena keegoisanku orang tuaku bersedih, karna kemanjaanku aku kehilangan sesuatu yang amat berharga, maafkan aku bun, maafkan aku yah…

Ayah tiba-tiba menghampiriku, cairan bening jatuh di pipinya menunjukkan perasaan luka, aku benar-benar tidak sanggup menatap matanya, aku takut ayah marah padaku, tapi ternyata tidak , ayah bahkan memelukku dengan kehangatan penuh cinta, “ya Allah apa yang telah ku lakukan, aku telah melukai perasaan orang tuaku” (batinku lirih), “kamu harus tahu nak, meski kamu kelak punya adik baru, ayah dan bunda akan tetap menyayangi kamu, kami tidak akan membeda-bedakan anak kami, justru kami mau kamu punya teman dirumah supaya kamu tidak sendirian main, punya teman curhat, teman main, dan teman berantem, (ucap ayah dengan senyuman tipisnya), kemudian dari belakang ayah bunda didorong dengan kursi roda oleh Varis, lagi dan lagi aku merasa tertampar dengan menyaksikan wajah bunda, aku pasrah jika bunda akan memarahiku karna sifatku selama ini yang begitu egois, tapi pada kenyataannya bunda pun akhirnya melakukan hal yang sama dengan ayah , memelukku dan menasehatiku. Dari kejadian yang menimpa keluargaku ini aku benar-benar merasa sangat bersalah pada diriku sendiri terlebih pada orang-orang yang begitu menyayangiku, banyak sekali orang yang memperhatikanku selama ini sementara aku justru begitu rakus akan perhatian orang-orang yang sudah pasti akan memperhatikanku., ayah bunda aku merasa bersalah karena hanya melihat apa yang salah dari kalian tanpa pernah aku pikir pengorbanan kalian selama ini membahagiakan aku, Varis maafkan aku karena tak pernah melihatmu yang selalu ada di saat-saat aku butuh seseorang untukku…

 

Penulis:

Rini Amriani, biasa dipanggil Rini, lahir pada tanggal 03 Maret 1999. Gadis remaja ini berasal dari Kabupaten Soppeng, dengan hoby membaca novel dan menulis cerpen. Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Watansoppeng, sekarang dia melanjutkan studinya di Universitas Negeri Makassar jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar.

Estetika Tim