[intense_dropcap]p[/intense_dropcap]erkenalkan namaku khadijah, aku berasal dari kota bandung dan aku anak ke dua dan aku adalah seorang dokter . Dahulu, aku hidup dengan keluargaku yang lengkap dan di dalamnya terdapat benih-benih kebahagian terlebih lagi aku diberikan kasih sayang yang lebih dari orang tua dan saudara perempuanku. Ayahku selalu menyatakan “Nak, ayah ingin selalu melihat kau bahagia, ayah tidak suka melihat setetes air mata mu jatuh di pipi hanya karena orang lain yang melukai mu”. Kata-kata itu selalu ku ingat dan kukenang sampai sekarang. Hari-hari yang ku lewati bersama dengan keluarga kecilku.

Sejak itu aku berfikir, aku di lahirkan sangatlah beruntung terlebih lagi tuhan berikan ayah dan ibu yang selalu memahami ku dan kakakku yang sangat sayang padaku. Aku seperti malaikat berada di dalam keluarga kecil ku. Bahkan, ketika kakakku telah menjadi seorang dokter aku pun sangat bahagia, usia ku dulu kira-kira 11 tahun. Aku masih ingat ketika kakakku berkata pada ku” khadijah, kamu juga harus seperti kakak suatu hari nanti, agar kita bisa merawat orang tua kita yang sedang sakit”. Sejak saat itulah aku ingin juga menjadi seorang dokter, bukan hanya orang tuaku saja yang bisa ku rawat tapi juga masyarakat yang kurang mampu untuk pergi kerumah sakit berobat.

Hari demi hari, tahun demi tahun kulewati bersama dengan keluarga kecil ku yang tak henti-hentinya di karuniai kebahagian yang luar biasa. Pada tahun 2012, tepatnya pada tanggal 25 November 2012  kehidupan keluarga ku yang dulunya sangatlah menyenangkan kini diselimuti dengan kedukaan. Yah, tepatnya pada jam 9 malam ayahku meninggal dunia dalam kondisi sakit yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun. Aku tak menyadari jika ayahku yang selalunya membuat keluarga ku setiap harinya tersenyum menyimpan sakit yang parah. Terkhususnya ibuku, ia sangat terpukul ketika memeriksa lemari bajunya, ia mendapat sepucuk surat yang isinya curahan hati ayahku.

 

Di kertas tersebut tertulis, “Sekian lama ku menyembunyikan penyakit jantungku ini kekeluargaku, aku hanya tidak ingin menyakiti perasaan mereka. Hingga nantinya aku sudah tiada di bumi, aku hanya ingin melihat senyuman keluarga kecil ku tidak memudar hanya karena kepergianku. Susah payah aku menghiasi keluargaku dengan rasa penuh kebahagiaan dan canda-tawa malah aku nantinya akan merusak kebahagiaan yang aku ciptakan. Aku hanya ingin melihat anak-anakku menjadi orang yang sukses kalau pun aku tidak berada di samping mereka lagi nanti. Terkhusus untuk istriku, maafkan suamimu ini yang menyembunyikan penyakitnya padamu, kau tak perlu risau sebab inilah takdir tuhan. Aku akan bahagia jika kalian terus bersama-sama meski suatu saat nanti kita dipisahkan dengan alam yang berbeda”

Setelah surat tersebut ku baca bersama kakakku, aku sangat terpukul bahkan hatiku ini serasa tertusuk duri, sakit tapi tak berdarah. Begitu cepatnya ayah meninggalkan keluarga kecil kami. Disinilah kisah hidupku mengalami perubahan yang begitu amat menyakitkan dimulai. Kakakku yang memutuskan untuk menikah pun akhirnya mengikuti suaminya ke palembang, tinggallah aku bersama ibuku dirumah. Bertahun-tahun aku lewati hidupku berdua saja dengan ibuku, awalnya komunikasi kami dengan saudara perempuanku lancar tetapi entah mengapa dia menghilang kabar.

Pada tahun 2015, aku menginjakkan kakiku di perguruan tinggi tepatnya di salah satu universitas di bandung dan mengambil jurusan kedokteran, selama empat tahun kulewati masa-masa kuliahku tanpa adanya biaya dari kakakku dan selama itu juga ibuku berusaha bekerja keras untuk membiayaiku kuliah sampai-sampai ibuku berjualan sayur keliling kompleks untuk membiayai ku. Pada saat itu juga, terlintas di benakku tentang kata-kata almarhum ayahku dulu “ ayah ingin kau dan kakakku menjadi orang berhasil dan selalu sama-sama saling melengkapi”, ujar ayahku. Aku tidak ingin membuat ayahku kecewa. Setelah lulus kuliah sebagai lulusan terbaik, aku putuskan untuk mencari pekerjaan di palembang terlebih lagi aku ingin mencari keberadaan saudaraku dan mengapa ia selama ini hilang kabar dan tak mnengirimi aku dan ibuku uang? Banyak sekali pertanyaan yang terlintas dipikiranku untuk kakakku.

Tak lama kemudian, aku mendapatkan pekerjaan sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit di Palembang walau rumah sakitnya masih relatif sederhana, tetapi aku mempunyai kewaiban sebagai dokter untuk melayani pasienku dengan baik. Melalui pekerjaan itulah aku bisa sedikit meringankan beban ibuku, terlebih lagi setiap sebulan aku mengirimkan ibuku kabar dan uang walau itu tak seberapa. Di Palembang tak henti-hentinya aku mencari kakakku, sebetulnya aku tidak mengetahui alamat rumah suami kakakku dimana karena mereka baru pindah menurut tetangga lamanya yang pernah kutemui. Selang waktu dua tahun, akhirnya aku menemukan keberadaan kakakku dan ternyata dia dipekerjaan di rumah sakit yang terkenal di kota Palembang. Pada hari itu juga, aku langsung bergegas pergi kerumah sakit tersebut dan menunggunya di ruang tunggu.

Sudah delapan menit ku menunggu di ruang tunggu,  tak lama kemudian tiba-tiba ada yang mengepakkan tangannya di pundak ku. “maaf, adek mau cari siapa?” katanya dari belakangku.” aku langsung membalikkan badanku dan memeluknya, ”kakak kemana saja, kenapa kakak tidak pernah lagi mengabariku dan ibu di Bandung?”kataku. “ada apa kau disini, seharusnya kau jaga ibu di Bandung lagian untuk apa kau sibuk mencariku?” katanya dengan nada agak marah. “sejujurnya kakak kenapa kasar denganku? apa salahku kakak?, apa? sambil memegang tangan kakakku. “kau tak perlu mencariku lagi, lagian aku tak akan kembali, kau harus menjaga ibu karena aku tak sanggup harus menjaga ibu. Aku sibuk menjaga kedua orang putriku dan suamiku, pergi sana?. Kata kakakku sambil mengeretku keluar dari ruang tunggu rumah sakit.

Semenjak kejadian itu, aku sangat terpukul dan memutuskan untuk kembali lagi ke Bandung. Perasaanku saat itu seperti ada badai yang tak kunjung redah dalam hati dan perasaanku. Setibanya dirumah, aku memberitahu ibuku tentang kejadian yang ada di rumah sakit ketika aku di Palembang. Semenjak itu pula, ibuku menjadi orang yang pendiam dan pada akhirnya ibuku menjadi stres karena kelakuan kakakku selama ini. Pada saat itu juga, aku tak bisa lagi berbuat apa-apa dengan kondisi ibuku yang selalu diam dan ingin bunuh diri, aku tak tahu apa aku salah membawa ibu kerumah sakit jiwa sementara? karena dengan kondisinya aku tidak bisa lagi menahan sakit ku hanya karena kakakku yang tega menelantarkan ku dengan ibuku dan akhirnya ibuku menjadi gila.

Kulalui ini dengan perasaan campur aduk, perasaan bagai hampa terlebih lagi ayahku pernah berpesan “ Jika ayah telah tiada kamu harus menjaga ibumu dengan baik, dan tetap tersenyum. Jangan buat dia menangis dan terluka” kata ayahku. Sembari ku merenungi pesan ayahku dan berkata, ” maafkan khadijah ayah, aku tidak becus menjaga ibu dan telah membuatnya terluka, aku tak tahu lagi harus berbuat apa? keluh kesah yang selama ini kurasakan dan air mata ini selalu turun bertahun-tahun lamanya setelah ayah sudah tiada lagi di bumi, ku mohon ayah maafkan aku” air mataku tak henti-hentinya mengalir. Inilah akhir cerita sebuah keluarga, yang telah susah payah membahagiakan anaknya hingga mencapai cita-citanya, tetapi malah melupakan orang tua dan adiknya.

 

Penulis : RAHMANIA , lahir di kota Parepare pada tanggal 27 Desember 1999. Saya Salah satu mahasiswa di Universtas Negeri Makassar (UNM) angkatan 2017 dan mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobi saya menulis, entah itu cerpen ataupun puisi. Motto saya yaitu, : “Kesuksesan itu tidak diukur dari seberapa banyak materi kita .Tapi, berawal dari seberapa besar impian yang tercapai dan seberapa besar usaha kita menjalani ujian hidup. Karena, orang sukses tidak akan dikatakan sukses bila dia tidak merasakan pahit manis nya perjalanan dalam meraih kesuksesannya”.

Estetika Tim