Aku mengerti berani mencintai berani patah hati, berani mengenal yang namanya pacaran berarti aku juga harus mempersiapkan diriku untuk terluka, sebab yang abadi dari sebuah kisah hanyalah perpisahan. Dan apapun alasannya perpisahan bukanlah suatu hal yang menyenangkan.

Pagi ini, terlihat begitu cerah. Langit-langit berwarna biru laut tanpa banyak gumpalan putih disekitarnya. Tak ada yang kelabu, semuanya tampak sama dan bahagia. Di tempat ini pun semuanya tampak sama, tak banyak yang berbeda. Hari ini sama saja seperti hari kemarin, itulah doktrin yang selalu ku coba tanamkan dalam diriku sendiri.

Tapi sepertinya semuanya memanglah berbeda, aku merasa ada yang hilang dari hidupku, dari sebagian alasanku bahagia ku merasa itu hilang. Iya hatiku tak secerah langit diatas, kelabu, bagai tak ada alasan untukku tetap menyaksikan keindahan alam semesta, setidaknya itulah gambaran perasaanku saat ini.

Dua bulan yang lalu di tempat yang ku duduki sekarang ini menjadi saksi bisu bagaimana dia datang membawa kebahagiaan kepadaku, menjanjikan sebuah tempat istimewa dihatinya. Luar biasa kalimat yang ia lontarkan hingga aku bahkan lupa bahwa kami ini masih bocah ingusan, iya aku masih anak SMA yang ku pikir cinta yang ku sebut nyata hanyalah ada dalam khayalanku, kenapa aku berpikir seperti itu, karena semua hanyalah sesaat.

Aku adalah salah satu siswi SMA favorit di kotaku, sekolah ini menjadi saksi nyata perjalanan kisahku menuntut ilmu, bercanda gurau bersama teman-teman seusiaku hingga sekolah ini pun yang menjadi saksi bisu aku mengenal cinta sosok laki-laki yang membuatku serapuh ini.

Flash back dua bulan yang lalu, aku ingin sedikit berkisah tentang sosok makhluk Tuhan yang pernah mampir di hatiku. Dinda…, orang-orang biasa memanggil namaku, aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke 17 tahun yang biasa orang sebut dengan sweet seventen, dan itu ku rayakan bersama teman-teman sekolahku di sebuah room di sekitar letak sekolahku. ku langkahkan kaki ku memasuki sekolahku tercinta, dimana akan banyak kisah didalamnya yang akan ku ceritakan kali ini ialah tentang dia, iya dia yang pernah ku istimewakan.

Saat memasuki gerbang sekolah aku bersamaan dengan seorang yang belum ku kenal sebelumnya tapi entah kenapa dia tersenyum kepadaku, sebagai sesama murid di sekolah itu aku membalas senyuman itu, tanpa terlalu ku pikirkan aku terus melangkah masuk sampai ke kelasku tepatnya di lantai dua, karena aku ini sudah kelas tiga dan satu-satunya jurusan disekolahku ialah jurusanku, kelasku seperti istimewa, iya itu menurutku saja, karena kelas yang aku tempati sekarang adalah dulunya sebuah ruang laboratorium bahasa yang tentunya cukup bagus dan memadai sekali mengingat di angkatanku kelasku lah yang paling sedikit penghuninya.

*…

Aku memasuki ruang LAB TIK yang bersebelahan dengan kelasku, sosok itu dia? Dia adik kelasku, saking banyaknya murid di sekolahku aku jarang melihat dia meskipun pernah sih, iya wajarlah dia itu anak paskibraka, lagian aku ini salah satu murid yang suka mengelilingi sekolah sampai menjumpai semua orang yang ada di sekolah, itulah yang menjadi alasan lazim teman-temanku yang terkadang malas menemaniku jika aku mengajaknya keluar kelas karena jika aku sudah keluar aku bahkan lupa siapa yang ku temani jalan haha lucu bukan, iya itu karena aku akrab sama kebanyakan orang terlebih kepada adik kelasku sendiri, ehh sepertinya aku terlalu banyak mengoceh.., tadi yang aku bicarakan si dia, dia itu namanya Reza, Reza Aditya. Dia yang tadi pagi senyum padaku di pintu gerbang sekolah, ehh malah ketemu di LAB lagi dan parahnya lagi sekarang dia mengajakku bercanda, “jangan terlalu banyak senyum kak, senyum kamu bagus” aku hanya tersipu malu mendengar dia mengatakan itu, saat keluar dari LAB aku jadi kepikiran tentang dirinya, padahal selama ini banyak kok yang aku kenal laki-laki macam dia, apalagi yang bisanya cuma senyum dan gombal, di sekolah segede ini pasti banyak tapi emang entah karena apa aku seperti ingin mengenalnya, tapi sudahlah aku tidak ingin ambil pusing, “lagian siapa dia, Cuma adik kelas yang sok jaim di depan seniornya”, pikirku dalam hati. Keesokan harinya entah kebetulan, tapi ku pikir di dunia ini tidak ada yang kebetulan, bukankah semua sudah direncanakan oleh takdir Tuhan, aku bertemu lagi di tangga menuju kelasku, “kenapa dia kesini?, dia kan anak kelas dua, beda jurusan pula, kelasnya sangat jauh dari kelasku” pikirku dalam hati, “pagi kak” sapanya sambil tersenyum kepadaku”.., aku hanya membalas sapaannya dengan senyum tipis di bibirku, aku tidak peduli dia menganggapku cuek atau apalah, tidak ada urusan. Aku berlalu menuju ke kelasku tapi kenapa bayang-bayangnya masih ada. Astaga apa yang aku pikir..,

Hari ini guru matematiku tidak masuk, jadi kami bebas membuat kegaduhan di kelas, ya seperti itulah anak SMA, anak baru gede. Tiba-tiba ponselku berdering, ada permintaan pertemanan masuk di BBM, ku lihat namanya “Reza Aditya”, apa? Aku terkejut, dia lagi, ngapain, tapi tidak bisa ku pungkiri di satu sisi aku merasa senang, meskipun selama ini aku punya banyak teman lelaki dan sebagian adik kelasku sendiri entah mengapa dia ini aku merasa bahagia. Sedikit alay ya hahha….

Beberapa menit kemudian setelah ku terima permintaan pertemanannya, “PING” masuk di BBM, dengan berlaga cewek cuek aku hanya membalasnya “iy”, “hai kak, aku Reza Aditya anak kelas XI IPS 4”, dengan Pdnya dia memperkenalkan diri kepadaku, meskipun aku sudah tahu itu dia tapi aku sok tidak tahu gitu, aku bilang aja “ohya, emang kita pernah ketemu?” “itu kak yang selalu merhatiin kaka hahaha” balasnya sok akrab, dengan singkat aku membalasnya “lucu?” hahhaha itulah awal perkenalanku, berlanjut di acara akbar sekolahku “Milad Smansa 52”, sore hari sebelum hari H sebagian siswa di sekolahku datang ke sekolah untuk mempersiapkan kelas mereka masing-masing untuk memperebutkan gelar kelas terbaik, Reza…, ku dengar nama itu dipanggil dari luar jendela, aku pun menoleh ke luar jendela mengingat kelasku kan di atas, jadi aku bisa melihat orang lalu lalang di jalan raya. Saat ku lihat dia di luar jendela, anak itu terlihat sangat keren dengan kemeja kotak-kotak yang dikenakannya. “kamu memang ketua kelas andalan”, teriak Agung yang tidak lain adalah teman kelas Reza, aku baru tahu ternyata dia ketua kelas, “apa laki-laki seperti dia bisa diandalkan?” tanyaku dalam hati sembari senyum-senyum, “hai kak Dinda”, teriak Reza dari bawah, astaga aku benar-benar sangat malu ternyata aku yang sedari tadi memperhatikannya ketahuan, tanpa bilang apa-apa aku langsung meninggalkan tempat dimana aku berdiri memperhatikan cowok itu.

*…

Hari H milad sekolahku tiba, hari ini orang-orang di sekolah terlihat semangat menyambut ulang tahun sekolah kami yang sudah berumur 52 tahun, aghh sudahlah bukan itu yang ingin aku bicarakan, tapi si bocah tengil itu, iya dia Reza. Di lapangan kami semua berkumpul tapi satu yang tidak nampak ku lihat, “Kemana dia?” Pikirku dalam hati, “hai kakak cantik”, tiba-tiba dari belakang ada yang memegang bahuku dan aku langsung gugup kok dia bisa ada disini, apa dia tahu aku sedang mencarinya, ohh Tuhan perasaan macam apa ini, “Za… sini dulu,” seorang cewek memanggilnya, “aku kesana duku yah kak”.. tanpa basa-basi dia meninggalkanku, “ehh Din..,” Putri mengagetkanku dari belakang, “kamu deket yah sama Reza?” tanya Putri, “hahaha (tawaku dengan kencang)”, aku ini tipe orang yang susah menyembunyikan perasaan aku ya bisa dibilang aku terlalu jujur.., ya meskipun aku juga sering bohong ku pikir itu manusiawi bukan., setelah itu Putri menceritakan kepadaku tentang Reza, ternyata dia adalah mantan kekasih teman lamanya Putri, dan sekarang dia juga punya pacar, entah kenapa aku merasa bad mood setelah Putri menceritakan itu kepadaku, aku jadi bingung apa sebenarnya tujuan Reza selama ini mendekatiku dengan godaan-godaannya itu, apakah dia hanya sekedar ingin berteman baik denganku? Apakah dia hanya ingin menjadikan aku pengisi kekosongannya? Atau dia sedang main-main dengan perasaanku? Berbagai pertanyaan pun timbul dalam benakku, entah apa sebenarnya yang dia mau. Jujur ku akui selama ini dari sekian banyak cowok yang berusaha mendekatiku, baru kali ini lagi aku merasa sangat nyaman dengan perlakuannya padaku, padahal jika aku mau aku bisa saja punya pacar sebelum Reza mendekatiku, tapi aku bukan tipe cewek yang gampang dipacari, yang jika ada yang menyukaiku sebagai seorang perempuan dia lantas bisa menjadi kekasihku, iya memang mudah dekat denganku karena aku ini orang yang mudah bergaul dan gampang akrab sama orang tapi untuk senyaman aku sama Reza itu sungguh sulit, tapi aku juga tidak ingin berpikir terlalu jauh, aku tidak ingin berharap apa-apa dari dia, lagian dia itu adik kelasku juga, tentu pikirannya masih kekanak-kanakan dibanding denganku.

*…

“jangan keseringan hubungi saya dek”, kataku sama Reza sebagai kakak kelasnya, “kenapa kak?” Reza membalas pesan singkat itu dengan cepat, “aku tidak ingin kamu ada masalah sama pacar kamu”, dengan berusaha meyakinkan Reza kalau apa yang dia lakukan selama ini dengan selalu berusaha mendekatiku itu salah, iya dia memang sangat care dalam hal apa pun padaku, bahkan dia selalu menawarkanku untuk diantar pulang dari sekolah tapi aku selalu menolak dengan berbagai alasan, padahal sebenarnya aku juga mau tapi disatu sisi sebagai perempuan aku tidak ingin kalau sampai pacarnya Reza tahu itu meskipun ya Cuma sekedar antar atau jemput, tapi tetap saja aku selalu menghindari Reza karena ya aku benar-benar tidak bisa menyakiti hati orang lain yaitu pacarnya Reza, karena aku sendiripun tidak bisa membayangkan kalau seandainya aku yang ada di posisinya, mengetahui pacar kita sedang berusaha mendekati perempuan lain itu sakit bukan, sesama perempuan aku mengerti sekali hal tersebut.

*…

“pagi kakak cantik” chat pertama di BBM yang ku buka, dan itu dari si tengil Reza, ya biasa aja sih, tapi pas aku buka ngga sengaja aku lihat status BBMnya Reza sibuk. Apa dia sudah putus dari pacarnya? Kok bisa? Kenapa? bukan gara-gara aku kan? Pertanyaan itu muncul di kepalaku, di satu sisi aku terkejut tapi disisi lain ada perasaan bahagia. Huuu aku jadi serba salah, aku ingin menanyakannya tapi aku juga tidak ingin kalau dia bilang aku kepo banget sih. Sudahlah intinya dia sudah putuskan, itu saja, tapi aku masih tidak tenang, aku harus memastikan penyebabnya, jam istirahat di sekolah aku memberanikan diri menanyakan hal itu “kamu kenapa putus sama pacar kamu”? tanyaku gugup, “udah ngga sejalan, capek juga LDR” iya dia dan pacarnya maksud aku mantannya itu memang berjauhan sehingga untuk sering tatap muka itu tidak memungkinkan, “bukan gara-gara aku kan?” aku melanjutkan pertanyaanku, “ya ngga lahh kaka, santai aja lah” aku pun hanya tersenyum mendengar apa yang baru saja yang ia lontarkan dari mulutnya.

*…19 Oktober 2016

Berselang dua minggu setelah dia dan pacarnya putus, akhirnya dia memberanikan diri menyatakan perasaannya padaku, 19 Oktober 2016 menjadi saksi nyata bagaimana dia mengungkapkan perasaannya padaku, satu hal bahwa aku merasa sangat bahagia, aku memilikinya tanpa perlu takut ada orang lain dihatinya dan tanpa perlu takut ada yang menyaingiku. Hari-hari kami lewati seperti pasangan pada umunya, tiada hari yang ku lewati tanpa menyaksikan senyum di bibirnya di sampingku dan didepan mataku, iya mungkin itulah remaja yang sedang dimabuk cinta, ku akui sebelum sama Reza aku bahkan tidak ingin pacaran dengan siapapun, teman-temanku bahkan menjadikan itu bahan bercandaan,” kamu tuh yah banyak banget gebetannya tapi kok ngga ada yang nyangkut sih” kalimat itu sudah menjadi hal yang lazim terlontar dari mulut teman-temanku, ya aku sih biasa aja toh aku juga lebih senang punya banyak teman laki-laki daripada punya banyak pacar hahahaha…, maksudnya daripada menjadikan salah satu diantara mereka pacar aku merasa lebih nyaman jika dikatakan bersahabat, tapi sungguh sejak kenal dengan Reza dan dia membuatku senyaman ini, menjadikannya sahabat sungguh kejam bagi perasaanku sebab aku mencintainya, iya jika biasanya akulah yang membuat orang lain baper kali ini justru aku yang dibaperin, itulah cinta bahkan kita tidak tahu selanjutnya seperti apa dan aku sudah merasa seakan dunia ini hanya milikku, alay banget kan…,

Suatu hari aku menemukan pesan dari ponsel Reza, pesan itu tidak lain dari mantannya, kedua mantannya belum juga ia hapus pesannya, saat ku baca obrolan singkat Reza dengan mantannya aku merasa terenyuh, merasa terkejut, seluruh badanku terasa kaku, aku sedih sebagai perempuan, Ya..Allah laki-laki yang sangat aku cintai selama ini pernah menyakiti perasaan perempuan-perempuan yang ku anggap tidak bersalah, iya bagaimana tidak perempuan mana yang tidak sakit hatinya saat ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya, obrolan pertama dari mantan pertama, sangat jelas perempuan yang pernah bersama Reza selama dua tahun itu tidak ingin memutuskan hubungannya begitu saja, di pesan itu ia bahkan mengatakan bahwa dirinya tidak akan lagi mau pacaran setelah Reza memutuskan hubungannya, “Za, kamu dimana?”, “Za, ketemu yuk aku kangen sama kamu”, “Za, Hp aku jatuh dijalan, dan sekarang aku kehujanan, kita bisa ketemu sekarang ngga?” “Za, aku ngga mau putus sama kamu, aku udah sayang banget sama kamu, kamu cowok terbaik yang aku dapat”, “Za, aku sadar mungkin aku ngga pantas buat cowok sebaik kamu dan aku tidak ingin pacaran selain sama kamu, I Love You”, Za, Hp aku rusak, kalau kamu mau hubungin aku di nomor ini aja yah” tapi tak satupun chat ia balas, entah apa salahnya Reza secara tidak sengaja telah melukai perasaannya, tapi tetap saja hubungan mereka sudahlah berakhir dan setelah itu Reza punya pacar lagi, pesan kedua dari mantan kedua sebelum pacaran denganku “Za.., kok kamu minta putus? Ada apa” dengan singkat dan jelas Reza hanya membalas bahwa dia tidak ingin pacaran jarak jauh dan lagi kesibukan keduanya membuat mereka jarang bertemu, tidak banyak pesan dari perempuan itu, ia cukup menerima dengan lapang keputusan Reza memutuskan dirinya. Tapi saat aku scrool ke bawah obrolan Reza denagn teman-temannya, ada pesan yang aku baca ialah pesan dari Mia teman kelas Reza, di obrolan tersebut ia mengatakan bahwa jika kamu suka sama kak Dinda kamu harus mutusin Dian (pacarnya sebelum aku), iya mantan kedua yang aku ceritakan, setelah membaca semua teks pesan itu sebagai seorang perempuan aku merasa bersalah, pantas saja setelah aku resmi pacaran dengan Reza mantannya yang dua tahun itu mendadak menjadi stalkers sejatiku, semua akun sosmedku dia add.

Saat bertemu Reza aku berusaha menanyakan kenapa dia putus sama mantannya yang dua tahun itu dan pacarnya sebelumku, dia hanya mengatakan udah ngga ada kecocokan, aku cukup menerima alasan itu, lagian aku tidak ingin mengekannya dengan menuntut masa lalunya, bagiku dia sekarang milikku, itu saja.

Hari-hari kami lewati bersama, sampai suatu ketika aku mengalami kecelakaan di depan sekolah, seorang anak SMP menabrak motor yang aku kendalikan saat itu, saat itu aku baru saja pulang sekolah dan lagi ramai-ramainya di depan aku mengalami itu, semua tampak mengagetkan, aku pusing, tapi aku masih sadarkan diri, sampai seseorang ingin mengangkatku dengan sok kuatnya aku bilang “tolong jangan pegang saya”, sebab dia seorang laki-laki dan aku bahkan tidak ingin disentuh laki-laki manapun dengan satu alasan aku menjaga perasaan Reza, orang yang aku berikan kepercayaan. Tapi aku sempat tidak sadarkan diri sampai aku tidak tahu lagi kejadian selanjutnya, tiba-tiba saja saat aku bangun Reza sudah ada di sampingku, saat itu sakit yang aku rasakan pun mendadak hilang, lucu bukan cinta bisa menyembuhkan sakit dan bukan lagi dokter. Setelah kejadian itu Reza selalu khawatir jika aku yang harus mengendarai motor sendirian, sampai-sampai setiap pagi dia harus menjemputku dan mengantarku pulang dari sekolah dan bimbingan belajar, hmm cukup romantis di kalangan remaja seusiaku, bahkan pernah sekali hujan-hujan aku mengalami kecelakaan kecil bersama Reza tapi kami malah tertawa, ya itulah cinta monyet. Pernah sekali Reza sengaja tidak membalas pesanku, saat itu aku benar-benar jengkel pas aku tanya ehhh dia malah bilang lagi main game terus ketawa lagi, “kamu tu yah suka banget sih main-main, aku serius nih” terus dia megang tangan aku dan menatap mataku, bilang “aku memang suka main-main tapi soal perasaan aku ke kamu aku ngga pernah main-main” kalimat itu selalu meluluhkan hatiku saat Reza membuatku jengkel.

*… satu bulan berlalu

Satu bulan berlalu aku menjalani hubungan kekasih dengan seorang cowok yang bernama Reza, aku merasa cewek paling bahagia, dia mengajakku keluar setelah aku latihan nyanyi di sekolah dan saat aku masuk di mobilnya aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa, dimobil itu terdapat sebuah kue tar yang diatasnya tertulis “happy anniv sayang” Reza merayakan anniversary kami. Padahal ini baru satu bulan kami pacaran, tapi selama satu bulan itulah aku merasa sangat bahagia telah diistimewakan olehnya, sejak saat itu aku sudah benar-benar yakin bahwa akulah satu-satunya perempuan dihati Reza, kepercayaan sepenuhnya ku berikan pada laki-laki itu sampai suatu ketika orang tua Reza ke luar kota dan dia memintaku datang kerumahnya tapi aku ngga mau, terus dia bilang “ya udah ngga usah, nanti juga ada teman aku party”. Itu balasan terakhir dari dia sampai keesokan harinya dia mengirimkanku foto bersama seorang cewek yang memakai seragam sekolah tapi anehnya perempuan itu pagi-pagi banget sudah ada dirumah Reza ngapain, tapi Reza bilang kalau perempuan itu tidak lain adalah sepupunya, ya aku percaya lagipula dia pacarku yang selama ini aku percayai, tidak ada alasan untukku menaruh curiga padanya setelah apa yang dia lakukan selama ini. Tapi hari itu juga aku tidak lagi bersama Reza berangkat ke sekolah, terlebih lagi ia malah post foto sama cewek di mobilnya, cewek yang ia bilang sepupu dan inilah mula permasalahannya.

*…

Reza jarang lagi menghubungiku semenjak orang tuanya ke luar kota dan semenjak teman-temannya selalu nongkrong dirumahnya, tapi aku selalu berpikir positif namun ku pikir aku juga manusia biasa yang dinamakan curiga adalah suatu hal yang tidak bisa kututupi, sampai temanku mengatakan jangan terlalu percaya pada laki-laki meski dia pacarmu. Disitulah aku selalu kepikiran, apakah benar Reza setia dan apakah benar cewek yang ia post itu adalah keluarganya, batinku seperti tidak menerima itu. Satu minggu berlalu sudah tidak seperti biasanya, kami jarang lagi sama di sekolah dan diluar sekolah pun jarang, aku pun mengajaknya untuk bertemu berusaha menjelaskan kenapa selama ini ia jaraang menghubungiku, tapi percuma tidak ada yang ia ungkapkan, selalu saja alasannya karena ia sibuk dengan tugas sekolah, omong kosong sekali, Reza selama ini tidak pernah disibukkan dengan tugas sekolah bahkan akulah yang justru sibuk mengerjakan tugas-tugasnya.

*…10 November 2016

Setiap hari mikirin dia, dikelas mikirin dia, sama temen-temen malah ngga mood, dirumah bawaannya marah, hari-hari galau, Cuma karena apa? Mikirin Reza, ia dialah bad boy di sekolahku, entah baru kali ini aku merasa senyaman dia memperlakukan aku sebagai perempuan yang istimewa, iya dari banyaknya cowok yang dekat denganku dialah yang bisa membuatku sebahagia dan sesedih ini, aku selalu merindukannya, merindukan tentangnya, dan kesalahan terbesarku menjadikannya alasan segala rindu, tapi cukup aku tidak lagi ingin menyiksa batinku, aku tidak ingin mengekang jiwaku, sudah cukup aku terbebani dengan perasaan ini, hanya aku yang memikirkannya lantas dia tidak ku pikir itu omong kosong, sampai tibalah…

Aku menunggu Reza di parkiran sekolah, iya sengaja ingin bertemu langsung dengannya, kali ini dia harus menjelaskan dengan sejelas-jelasnya apa yang selama ini ia lakukan sampai ia bahkan tidak punya waktu lagi menghubungiku, saat dia keluar kelas aku hanya melihatnya seakan tatapan itu menununjukkan aku memanggil namanya, dia datang padaku dengan tatapan yang berbeda, seolah tatapan kosong tak ada harapan lagi, “kamu kenapa sih selalu sedihin aku” pertanyaan itu langsung keluar dari mulutnya “kamu masih bisa nanya kenapa aku sedih karena kamu?, kamu yang kenapa, selama ini ngga pernah hubungin aku, ya aku mengerti kamu sama teman-teman kamu party kan tapi setidaknya jangan cuekin aku sampai lama begini, aku bahkan tidak sanggup Za.., kamu ngerti ngga sih…” panjang lebar aku menjelaskan unek-unekku akhir-akhir ini, tiba-tiba dari belakang Mia dan Agung datang, seketika Mia memelukku dan dia bilang sama aku “sabar yah kak Dinda..,” aku bingung apa maksud pelukan dan kalimat ini, kemudian Agung dengan nada tidak enak mengatakan “kak Din, yang selama ini ada di rumah Reza, yang selalu foto bareng Reza sebenarnya bukan sepupunya, tapi gebetan barunya”, saat itu aku bagai disambar petir, seluruh badanku terasa kera, aku tidak tahu lagi harus bilang apa hanya tetesan air mata yang mampu mengungkapkan perasaanku, perasaan kecewaku sementara itu Reza hanya terdiam dan lama kemudian dia berbicara,”aku minta maaf yah Din, aku udah bohongin kamu, sebenarnya aku memang udah mau jujur sama kamu soal ini tapi aku ngga tega ngeliat kamu sakit hati karena aku”, “Za.., asal kamu tahu yah bahkan setelah tahu kamu punya rencana nyakitin aku, aku masih berharap sama kamu, seandainya kamu senidiri ngga bilang ini dan aku hanya mendengarnya dari orang lain, aku akan tetap mempercayaimu karena bagiku kepercayaan itu penting bahkan saat aku sadar telah dibohongi”, kataku sambil menangis.., iya andaikan saja dia tidak mengakui itu dan membela dirinya aku pasti akan tetap mempercayainya tapi tak ada pembelaan yang ia lakukan, itu menandakan bahwa memang dialah yang ingin mengakhiri hubungan ini, kemudian laki-laki itu menatap mataku dan bilang “maafkan aku Din, aku khilaf dan aku serahkan semua sama kamu apakah kamu ingin melanjutkan hubungan ini atau tidak”, “sebenarnya aku akan selalu memaafkan kamu, bukankah itu salah satu kewajibanku sebagai kekasihmu, memaafkan kesalahanmu, tapi jika kamu berjanji tidak akan mengulangi lagi” jelasku padanya, tapi kemudian matanya melihat kebawah menunduk, sudah jelas itu menandakan bahwa ia secara tidak langsung ingin mengakhiri hubungan ini meskipun ia sempat menanyakan keputusanku, “baiklah jika itu mau kamu, kita akhiri saja, daripada aku dan kamu sama-sama tersiksa, aku berusaha mempertahankan orang yang memperjuangkan orang lain itu terdengar sangat tidak adil”, kataku berusaha tegar,” Dinda, kita sahabat yah sekarang, kamu jangan pernah lupain aku” katanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa gitu, “gampang banget yah Za kamu bilang kayak gitu, aku butuh waktu Za untuk nenangin diri, aku ngga akan benci sama kamu, sebab memaafkan itu mudah saja bagiku tapi untuk melupakan itu butuh waktu” aku mengatakan itu dengan berusaha tegar. Setelah itu Reza ingin mengantarku pulang, tapi aku menolak. Bahkan setelah pengkhianatan yang ia lakukan padaku dia masih bisa tertawa setelahnya, benar-benar tidak habis pikir dan setelah itu aku kemudian menelpon temanku untuk menjemputku padahal waktu itu aku bawa motor sendiri tapi karena habis nangis bahkan aku tidak ingin bawa motor sendirian setelah aku merasakan pahitnya kehilangan, saat orang yang aku lagi sayang-sayangnya meninggalkanku, saat kepercayaan yang aku berikan didustai aku benar-benar merasa rapuh. Itulah akhir dari kisahku, kisah singkat seperti kembang api yang menyala saat awal-awalnya saja lantas kemudian musnah, begitulah terkadang cinta, orang yang awalnya sangat manis dihadapan kita boleh jadi dialah yang juga akan menyakiti kita.

Awalnya susah sekali melupakan dia yang begitu ku sayang, yang teramat ku cintai, yang ku memberikan kenangan terindah, yang selalu ku banggakan di depan teman-temanku, tidak pernah ada laki-laki yang membuatku serapuh ini, iya baru kali ini hatiku benar-benar hancur saat dia mengungkit soal perpisahan itu, tapi aku tidak ingin terus menerus terjebak dalam perasaan ini, aku punya hak dan kewajiban untuk membahagiakan diriku sendiri, sebelum kedatangannya bukankah aku baik-baik saja, jadi setelah kepergiannya pun aku harus tetap baik-baik saja, bukankah aku selalu meminta yang terbaik pada Tuhan dan jika dia pergi berarti dia bukanlah yang terbaik untukku, itu yang selalu aku tekankan pada diriku. Perlahan aku mulai mengikhlaskan semua yang telah terjadi, aku berpikir bahwa itu suatu pelajaran yang sangat berharga untukku, bahwa di dunia ini apa yang kamu anggap baik belum tentu sepenuhnya baik untukmu.

 

Penulis: Rini Amriani, lahir pada tanggal 03 Maret 1999, ia berasal dari Kabupaten Soppeng yang sekarang melanjutkan studinya di Universitas Negeri Makassar jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, dari SMP Rini memang hobi menulis, baik itu artikel, puisi dan cerpen, dia senang mengikuti lomba menulis cerpen, baginya tujuannya bukanlah menang tapi bagaimana ia merasa nyaman dan berusaha memberikan yang terbaik dari sekedar hobinya itu, cita-citanya sebenarnya bukan menjadi guru, tapi kenapa dia mengambil jurusan ini karena ia merasa nyaman dan merasa disinilah potensinya, baginya kesuksesan seseorang tidak ditentukan dari jurusannya saat ia kuliah tapi bagaimana ia menjalani proses dan soal hasil serahkan saja pada Tuhan, Man Jadda Wa Jada, soal cita-cita dia mengikuti saja apa yang ditentukan Tuhan padanya, menjadi guru atau apa pun ia menerima jika itu memang yang Allah kehendaki untuk dirinya.

Estetika Tim