Cerpen “Dewantara”

Alangkah terkejutnya Pak Zul memindai seisi kelas yang di dalamnya hanya tersisa tiga orang yang sepertinya menunggu Pak Zul datang untuk memulai jam ketiga hari ini. Hari itupun terasa terik sekali. Panas mentari membakar kulit-kulit para pekerja bangunan yang telaten menyusun batu demi batu. Wajar saja, tempat Dewantara bersekolah sedang direhap beberapa ruangan. Menuju sekolah berakreditasi B yang diidamkan seluruh kalangan.

“Ehem, mana Imam, Firman, Taufiq, dan….oh yaa Dewantara? Kemana mereka semua?” ungkap Pak Zul yang berdehem seraya mempertanyakan keberadaan empat sekawan itu.

“Tii Tidak tahu pak. Tadi siang langsung keluar dan Tidak balik-balik,” kata salah seorang murid bernama Adel.

Adel terkenal dengan sikapnya yang blak-blakan dalam berkomunikasi. Berbeda dengan Adel, Alya saudari kembarnya adalah siswa yang pendiam, sangat jarang berkomunikasi kecuali diberi pertanyaan oleh guru. Mereka pun terkenal karena kembar identik fisik, dari wajah hingga atribut yang dikenakan.Tampang persis hingga pakaian yang selalu necis. Hingga mereka kadang sulit dibedakan satu sama lain. Satu-satunya yang membedakan mereka adalah kunciran rambut yang berbeda. Adel dengan rambut dikuncir dua sedang Alya dikuncir satu.

“Beneran tidak ada yang tahu mereka dimana?” Netra Pak Zul melotot seraya memastikan sekali lagi.

“Iya pak,” teriak tiga orang itu bersamaan.

Astaghfirullah, ada seorang lagi. Dia adalah Fadhel yang terkenal dengan rambut klimis di sisir kanan. Murid yang tidak pernah tidak mengerjakan tugas, selalu patuh bila dimintai pertolongan, dan tak pernah absen mengerjakan di papan tulis adalah rutinitas harian Fadhel.

“Ah mau kemana kita nih?” seru Dewantara yang memecah keheningan dengan memasang wajah memelas sembari memutar-mutarkan pena yang masih saja ia genggam.

“Tidak tahu nih, gak ada ide apa?” Firman balik bertanya, namun yang lainnya bungkam. Taufiq masih saja menendang-nendang botol yang berserakan di pinggir trotoar.

“Oh ya…Imam, kau ada bawa bola kan?” tanya Dewantara melihat Imam dengan tas ransel yang berada di pundaknya.

“Apa? bola?” Imam yang merasa kebingungan pun balik bertanya.

“Iya, yang tadi kita pakai pas jam istirahat pertama,”.

Imam mendongak. Memikirkan kembali perihal bola yang dibahas Dewantara. “Ohhhh kalau itu sih ada.”

“Nah tuh kan. Siapa yang bodoh?” canda Dewantara pada sahabatnya yang terkenal pelupa itu.

“Iya, tolol sekali kau ini,” tambah Firman.

“Yuk kita main!” seru Taufiq.

“Eh tunggu dulu, tapi mainnya dimana?” tanya Dewantara pada teman-temannya yang entah ingin bermain di mana.

“Eh eh Dewantara, itu bukannya abangmu yah?” tunjuk Firman pada gerombolan anak yang sedang berbincang di warung kopi. Ada yang rambutnya diikat, ada yang penuh coretan pena di tubuh, dan ada yang sedang khidmat mendengarkan sambil menyeruput segelas kopi hitam. Mereka adalah Doni dan kawan kawan. Doni ialah kakak kandung Tara yang masih menginjak kelas satu SMP yang bersekolah tidak jauh dari kediamannya. Juga kebiasaan yang tidak jauh berbeda dengan adiknya. Bolos sekolah lalu keluyuran entah kemana. Walau sudah ditegur oleh guru, tidak membuat dua saudara itu jera akan hukuman. Menurut mereka ngumpul bareng teman lebih penting dibanding sekolah yang tidak berpengaruh. Jelas pemikiran yang belum terbuka, mengingat usia mereka hanya memikirikan kesenangan semata.

“Aha..gimana kalau kita tanding aja dengan mereka?” usul ide cemerlang Dewantara.

“Iya iya, kita tanding saja,” disambut meriah oleh Firman, Imam, dan Taufiq.

“Kak?” ucap Dewantara pada kakaknya yang masih asyik bergelut dengan rubik kesayangannya.

“Apa? Lah kok kau ada disini, bolos kau yah?” tanya balik Doni spontan.

“Eleh, enggak usah banyak bacot deh,” jawab Dewantara yang tak ingin basa-basi dengan abangnya.

Netra Doni memindai ketiga sahabat karibnya. Adalah Alif, Farhan, dan Satrio. Teman seperjuangan yang tak pernah lepas sejak berseragam putih merah. Melihat respon temannya yang mengangguk setuju, Donipun tak ingin lama-lama mengiyakan tantangan adiknya.

Jadilah lapangan dekat stasiun kereta menjelma saksi perhelatan pertandingan beda kelas itu. Saksi bertaburnya calon bintang sepak bola masa depan milik Indonesia. Negeri ini bangga punya mereka. Saling adu permainan dan kemampuan dalam mengolah si kulit bundar. Tara dengan gocekan mautnya, terkenal dengan nama Neymarnya Desa Pajang, sedangkan yang ditakuti sebab tendangan jarak jauhnya yang terenal akurat.

Waktu tanding satu jam tak terasa bak lima menit. Bulir keringat mengucur membasahi seragam. Pulang ke rumah masing-masing dengan membawa hasil sama kuat.

Kring.. Kring.. Kring…

Telepon rumah berbunyi. Ada panggilan masuk. Ibu berjalan menuju telepon rumah yang bertengger di ruang tengah. Dengan telapak tangan yang masih belepotan dengan adonan kue, Ibu meletakkan gagang telepon di telinga seraya berucap ringan ,“Iya Assalamualaikum, dengan siapa?” tanya ibu.

Sayup-sayup terdengar dari seberang “Waalaikumussalam, benar dengan Ibu Doni?, ini dari Pak Abdul, wali kelas Doni,” jawab Pak Abdul.

“Oh iya pak, kalau boleh tahu ada apa ya pak?” tanya Ibu balik.

“Gini bu, Doni tidak berada di area sekolah sejak jam ketiga tadi,” jawab Pak Abdul singkat.

“Ya Allah. Iya pak nanti akan saya beri tahu Doninya. Gusti, anak itu yah bener-bener,” tutur Ibu dengan menghembuskan nafas perlahan. Marah tentunya.

“Makasih Bu atas ketegasannya.”

“Iya pak, saya juga minta maas atas kelakuan anak saya di sekolah.”
“Iya bu, saya mengerti. Sekali lagi makasih bu, Wassalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.” Ucap Ibu sembari meletakkan gagang telepon. Tidak berselang lama, telepon rumah kembali berbunyi. Dengan nada seperti biasanya.

“Aduh, siapa lagi nih.” Batin Ibu. Ibu kembali ke ruang tengah, tempat telepon rumah biasa bertengger. Meletakkan gagang telepon di telinga seraya berucap ringan “Iya Assalamualaikum. Kalau boleh tahu ini siapa ya?”
Sayup-sayup terdengar dari seberang “Waalaikumussalam. Ini dengan Pak Zul, wali kelas Doni.”
“Oh iya pak, ada apa yah?” tanya Ibu pada wali kelas Dewantara.

“Gini bu, Dewantara terindikasi bolos pada jam ketiga pelajaran. Saya sudah mencari di seluruh area sekolah dan memanggil lewat toa sekolah. Dan pada akhirnya, saya beranggapan bahwa memang betul Dewantara bolos bersama tiga kawannya juga tidak berada di area sekolah.”

Astaghfirullah pak. Saya jadi merasa gimana yah. Saya mohon maaf atas kelakuan anak saya.”

“Iya bu, saya ngerti. Tidak apa-apa.”

“Terima kasih atas informasi yang Bapak berikan.”
“Iya, sama-sama bu. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Wassalamualaikum.”
“Waalaikumussalam,” jawab Ibu dengan membanting gagang telepon rumah.”

Ibu marah dengan berita kedua yang diterimanya. Mendengar kedua anaknya tidak berada di lingkungan sekolah adalah berita buruk. Di waktu yang bersamaan, kedua putranya melakukan hal yang sama sekali tidak mencerminkan sifat keluarganya. Keluarganya yang biasa melakukan hal-hal terpuji, kini dilanggar oleh anak di bawah umur tiga belas tahun. Mungkin wajar, mengingat usia yang dimana pemikirannya belum terbuka. Ibu kembali ke dapur. Bergelut dengan segala pernak-perniknya. Menunggu kedua putranya datang mengetuk pintu lalu menjelaskan perihal dari mana.

“Assalamualaikum,” Doni dan Dewantara mengucapkan salam sembari mendorong pintu rumah perlahan. Hening.

Terdengar sayup-sayup dari belakang.Dapur lebih tepatnya.“Waalaikumussalam.”
Doni langsung masuk kamar, sedangkan Dewantara masih heran dengan seisi rumah yang dirasa hening. Sepi sekali. Netra Dewantara memindai seluruh isi rumah. Ada adiknya, Aisyah yang sedang serius menjelajahi sebuah buku ringan.Imajinasinya sedang berkelana.Ya, Aisyah, si anak bungsu dari tiga bersaudara memang gemar membaca. Berpuluh halaman bisa ia baca dalam waktu satu malam. Usianya baru mengincak sembilan tahun, tapi kegemaran yang entah dari mana datangnya membuatnya tak bisa memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Salam kakaknya yang tak dijawab contohnya.

Dewantara menuruskan langkah, sadar tak ingin mengganggu adiknya yang sedang berkelana entah dimana.Dewantara melewati dapur. Piring, gelas, dan segala peralatan dapur sedang berdentingan. Seirama dengan tiupan angin menyibak rerumputan belakang rumah. Ibunya sedang sibuk. Dewantara meneruskan langkah, membiarkan ibu menyelesaikan pekerjaannya. Dewantara memasuki kamar, kakanya sudah tertidur pulas dengan dengkuran yang terdengar jelas. Merebahkan tubuh dan melihat atap kamar. Sadar, bahwa hari ini adalah hari yang melelahkan. Sejalan dengan kesalahan yang ia perbuat. Bolos sekolah. Sinar mata Dewantara mulai meredup, tambah meredup, menutup, lalu tertidur pulas.

Bruuaakkk.

Ibu memukul Dewantara dan Doni yang membuat mereka berdua terbangun dari mimpi masing-masing. Sadar akan perihnya pukulan Ibu, Dewantara dan Doni sontak berteriak, “Sakiiit Buuu.”

Netra Dewantara memicing. Melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima pagi. “Masih pagi sekali, belum saatnya ia dibangunkan,” katanya.

“Ayo sigap bersiap, kalian berdua hari ini membantu Ibu dan Ayah mengurus kebun,” seru Ibu.

“Haahh?” Dewantara dan Doni keheranan. Mendengar apa yang terucap dari bibir ibunya. “Tidak sekolah, Bu?, bukannya ini masih hari Rabu?” ucap Dewantara blak-blakan.

“Sudah, ikut saja dengan perkataan Ibu,” kalimat terakhir Ibu sebelum melangkah keluar kamar.

Meski agak sedikit terkejut, Dewantara senang hari ini bisa bebas dari segala hiruk pikuk sekolahan. Doni yang tak menggubris sepatah katapun langsung melonjak meraih handuk lalu sigap masuk kamar kecil. Percikan air terdengar seirama, dengan suasana hati yang terasa menggembirakan.

“Ayo bergegaslah,” seru Ibu dengan nada antusias. Bapak hanya tersenyum melihat dua anaknya yang sepertinya gembira tak mengenakan seragamnya masing-masing. Bapak mengerti apa yang mereka rasakan.

Maka bergegaslah Tara dan Doni menyusul kedua orang tuanya yang sudah terlampau cukup jauh di depan. Mereka saling memandang, menandakan batinnya sedang berkata “ada apa?” tanyaya.

Maka sampailah mereka pada kebun kopi milik orang tua mereka. Kedua orang tua Dewantara adalah satu satunya penduduk desa Pajang yang memiliki kebun kopi. Di antara seluruh penduduk desa yang rata-rata hanya memiliki sawah sebagai ladang pencaharian. Kebun kopi seluas tiga hektar terhampar luas di mata Dewantara dan Doni.Kagum.

Sudah lama netra mereka tak melihat pemandangan seindah ini, menghirup udara pagi yang sejuk bercampur aroma kopi yang menyegat indera penciuman.Menusuk. Ditariknya nafas dalam-dalam, sebagai tanda syukur sudah di beri kesempatan menghirup udara sesejuk ini. Kesempatan yang di berikan sang Esa, yang belum tentu bisa dirasakan banyak orang. Ayah dan Ibu memakai mantel yang biasa digunakan untuk berjelajah di antara hamparan kopi.

Ibu menyerahkan dua mantel yang berukuran sedang kepada dua anaknya itu seraya berkata “Pakailah sigap, banyak kopi yang akan kita panen hari ini.”

Dewantara dan Doni memasukkan dua lengan kecilnya pada mantel pemberian Ibu. Kebesaran. Bapak yang menangkap momen itu hanya tersenyum kecut lalu mendatangi mereka berdua. Dirangkulnya Dewantara dan Doni sembari memberikan dua keranjang yang nantinya akan menjadi wadah kopi lalu dibawa pulang. Keluarga kecil itu menyusuri kebun kopi nan indah dengan Bapak yang antusias menjelaskan perihal kopi dan manfaatnya, pada Dewantara dan Doni tentunya. Dewantara dan Doni khidmat memasang telinga.Sama antusiasnya. Seiring berjalannya sang waktu, dua keranjang terisi penuh dengan biji kopi yang siap dibawa pulang.

Dewantara dan Doni menggendong keranjang masing-masing. Berat rasanya, sangat berat. Ini dirasakannya untuk kali pertama yang saat itu melihat orang tuanya sambil memikul keranjang di punggung tak semudah yang dilihat mata. Tak terasa, tiga kali sudah Dewantara dan Doni bolak-balik membawa keranjang yang selalu terisi penuh.

“Ini kopi tidak ada habisnya yah?” Dewantara membatin karena rasa lelah yang menumpuk. Ini keranjang keempat yang dibawanya menuju rumah. Pada situasi ini, Dewantara bisa alami yang namanya bungkuk, karena beban lebih di atas pundak yang teramat sering.

Pada perjalanan menuju rumah, Netra Dewantara mendapati teman sekolahnya sedang pulang menuju rumah yang berbincang mengenai tugas sekolah yang susah, Pak guru menjelaskan tak ada yang mendengar, hingga jam istirahat yang selalu menjadi ajang kejar-kejaran antar siswa.

Jam istirahat tak pernah terdengar sepi, tak lepas dari suara-suara teriakan masa depan anak negeri. Momen seperti inilah yang mereka kenang dikala dewasa. Dewantara terpukul. Mengingat sekolah ternyata lebih asik dibanding memikul keranjang kopi tiap harinya. Lelah. Berbeda dengan sekolah, yang tugas kita hanya duduk, mendengar lalu mengerjakan tugas. Dengan bekal itu saja, kita dapat meraih sukses sesuai yang kita ingin.

Jika ada orang sukses yang dulunya hidup susah dengan bekerja di kebun, pematang sawah, atau bertaruh di samudera luas, itu wajar saja. Karena mereka hidup di zaman yang memang pendidikan belum di anggap sebagai sesuatu yang emas. Tapi karena tekad kuat yang membuat mereka berani keluar dari zona tersebut dan nekat pergi jauh demi mengenyam dunia pendidikan.

Berbeda dengan sekarang, jarang kita temui hal seperti itu. Orang tua zaman sekarang tidak lagi meminta anaknya untuk bekerja di kebun, pematang sawah, bahkan mencari penghidupan di samudera luas. Tidak, sama sekali tidak. Orang tua zaman sekarang lebih meminta agar anaknya bersekolah. Demi masa depannya sendiri. Bukankah apa yang mereka tanam itu yang mereka tuai?

Dewantara kembali ke kebun dengan wajah yang lesu. Raut kecewa terlukis jelas. Di jalan setapak yang dilaluinya, ia berpapasan dengan pamannya. Paman Nasrun namanya. Ia adalah paman dari sang Ibu.

“Eh lagi ngapain keponakanku yang ganteng?” tanya Paman dengan nada menggoda.

“Sedang memanen kopi paman, lelah sekali rasanya,” jawabnya singkat.

“Loh emangnya kamu tidak sekolah hari ini?”
“Tidak paman.”
“Lah kenapa?”
“Tidak tahu Ibu, paman.Tadi pagi langsung disuruh bersiap untuk membantu di kebun.”
Pamannya hanya mengangguk berusaha memahami.

“Padahal kamu bisa menolak loh untuk tetap sekolah. Bukan untuk melawan orang tua yah Tara. Dan paman yakin Ibumu pasti akan mengertiperihal tersebut. Lihat itu adek sepupumu baru pulang, dia langsung bercerita tentang segala hal yang terjadi di sekolahnya.Seru sekali. Paman khidmat mendengarkan. Minggu depan dia ikut dalam kejuaraan matematika se Kota Kabupaten,” jelas Paman.

“Wah seru sekali Paman,” kata Dewantara.

“Oh iya Dewantara, tadi dia bercerita kalau dia berpapasan dengan Pak Zul. Wali kelasmu,” Paman Nasrun melanjutkan kalimatnya.

“Oh ya paman? Terus?” Dewantara khidmat memasang indera pendengaran. Antusias akan apa yang hendak keluar dar mulut pamannya.

“Pak Zul selalu bertanya perihal kamu. Katanya Pak Zul terlihat gusar karena salah satu muridnya tidak masuk karena alasan yang tidak jelas.”

“Begitu ya Paman?”
“Iya, Dewantara.Sekolah itu penting, penting sekali.Sama halnya dengan situasi negeri yang makin genting.Negeri ini genting pendidikan, genting moral.Maka dari itu kita harus atasi dengan mengenyam dunia pendidikan sebaik mungkin.”

Dewantara hanya merunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Terpukul.
“Mungkin itu saja yang bisa paman sampaikan. Paman masih banyak pekerjaan. Kau juga harus secepatnya kembali, Ibumu pasti sedang mencari. Paman jalan dulu. Assalamualaikum,” tutur Paman Nasrun.

“Iya Paman, Waalaikumussalam.”
Dewantara kembali dengan semangat yang berkobar.Berniat memberitahu Ibu soal keinginannya kembali sekolah. Sesampainya di pelataran rumah, Dewantara tak ingin berlarut-larut dalam menyampaikan keinginannya. Ia pun dengan lantang berkata, “Bu, Dewantara ingin kembali bersekolah.”

Netra Ibu membelalak, sontak melihat Dewantara dengan alis yang melengkung. Heran.
“Sudah, kamu masuk dulu Dewantara. Doni juga,” Bapak menengahi dengan meminta kedua putranya untuk duduk di ruang tengah.

“Pokoknya Dewantara mau kembali bersekolah.Dewantara tidak mau tahu.”
Bruaakkk

“Dewantara!” Ibu memukul meja dan berteriak menyebut nama Dewantara. Mendengar anaknya yang membentak. “Sekarang Ibu tanya, kenapa kalian berdua bolos sekolah? Kalian berdua menyianyiakan jerih payah Ayah dan Ibu menyekolahkan kalian. Kalian tega dengan Ibu dan Ayah.” Ibu semakin emosional dengan tangan Ayah yang perlahan mendarat di pundak Ibu, mengusapnya perlahan. Berusaha menenangkan.

“Apa yang ingin kalian persembahkan untuk Ibu dan Ayah jika dewasa kelak, Ibu tak ingin kaian berdua menghadiahkan Ibu dan Ayah dengan ketidakjelasan kalian diwaktu dewasa. Ibu mendengar kabar dari guru kalian masing-masing kalau kalian bolos pada jam ketiga. Apa ini yang mau kalian hadiahkan ke Ibu? Nilai merah dan berita kalau kalian tidak berada di area sekolah? Ibu kecewa dengan kalian,” Ibu melanjutkan perkataanya panjang lebar.

Memukul perasaan Dewantara dan Doni yang senantiasa merunduk.Ibu sigap masuk bilik. Tak ingin menampilkan kesedihan di depan putra-putranya.

“Dewantara bolos karena tidak suka dengan sikap guru yang mengajar waktu itu. Yang tidak pernah menggubris saat Dewantara bertanya. Hanya karena sikap Dewantara yang seringkali ugal-ugalan. Dewantara nakal dan dibedakan dengan kawan yang lain. Dewantara punya niat yang kuat untuk belajar, Pak.” terang Dewantara blak-blakan. Menjelaskan tentang guru Ips yang seakan menjadi bumerang bagi Dewantara. Pengajar Ips itu seakan tebang pilih dalam mengajar. Bapak khidmat mendengarkan. Suara Dewantara perlu didengarkan.

“Kalau kamu Doni?” tanya Bapak pada Doni yang belum menjelaskan perihal penyebab bolos.

“Doni diajak temen, Pak,” jelas Doni langsung pada intinya.

Ibu keluar bilik dengan netra memerah melebam. Dengan isakan pelan, Ibu bertanya pada dua anaknya “Jadi, kalian mau kembali bersekolah atau bantu saja Ibu di kebun?”

Dewantara dan Doni sontak teriak “Sekolah Bu, itu pilihan mereka.

“Mulai besok kalian boleh sekolah kembali,” seru Bapak singkat.

Mata Dewantara berbinar. Seakan melihat cahaya di depan mata. “Serius Pak?”
“Eits, tapi dengan satu syarat.” pinta Bapak.

“Apa Pak? Dewantara janji bakal nepatin.Kak Doni juga. Iya kan kak?” Netra Dewantara menatap kakaknya yang sedari tadi hanya diam dan mengikut apa yang akan terjadi. Doni sontak menjawab, “Iya pak, Doni juga.”

“Okeh. Kalian berdua janji enggak bakal bolos lagi. Bapak tidak minta hadiah sebuah nilai di atas kertas, Bapak hanya meminta kalian patuh sama dan belajar dengan baik di sekolah. Perhatikan setiap perkataan yang diucapkan guru kalian. Perkataan yang diucapkan guru kalian itu laksana emas yang sebaiknya kalian ambil. Rugi jika kalian tidak nurut.Ini emas loh, ” Wejangan Bapak kepada dua putranya sambil mengepalkan tangan.

Dewantara dan Doni terbakar dengan wejangan dari Bapak. Mereka berdua saling menatap dan berkata mantap, “Iya, kita janji!”
Dewantara

Alangkah terkejutnya Pak Zul memindai seisi kelas yang di dalamnya hanya tersisa tiga orang yang sepertinya menunggu Pak Zul datang untuk memulai jam ketiga hari ini. Hari itupun terasa terik sekali. Panas mentari membakar kulit-kulit para pekerja bangunan yang telaten menyusun batu demi batu. Wajar saja, tempat Dewantara bersekolah sedang direhap beberapa ruangan. Menuju sekolah berakreditasi B yang diidamkan seluruh kalangan.

“Ehem, mana Imam, Firman, Taufiq, dan….oh yaa Dewantara? Kemana mereka semua?” ungkap Pak Zul yang berdehem seraya mempertanyakan keberadaan empat sekawan itu.

“Tii Tidak tahu pak. Tadi siang langsung keluar dan Tidak balik-balik,” kata salah seorang murid bernama Adel.

Adel terkenal dengan sikapnya yang blak-blakan dalam berkomunikasi. Berbeda dengan Adel, Alya saudari kembarnya adalah siswa yang pendiam, sangat jarang berkomunikasi kecuali diberi pertanyaan oleh guru. Mereka pun terkenal karena kembar identik fisik, dari wajah hingga atribut yang dikenakan.Tampang persis hingga pakaian yang selalu necis. Hingga mereka kadang sulit dibedakan satu sama lain. Satu-satunya yang membedakan mereka adalah kunciran rambut yang berbeda. Adel dengan rambut dikuncir dua sedang Alya dikuncir satu.

“Beneran tidak ada yang tahu mereka dimana?” Netra Pak Zul melotot seraya memastikan sekali lagi.

“Iya pak,” teriak tiga orang itu bersamaan.

Astaghfirullah, ada seorang lagi. Dia adalah Fadhel yang terkenal dengan rambut klimis di sisir kanan. Murid yang tidak pernah tidak mengerjakan tugas, selalu patuh bila dimintai pertolongan, dan tak pernah absen mengerjakan di papan tulis adalah rutinitas harian Fadhel.

“Ah mau kemana kita nih?” seru Dewantara yang memecah keheningan dengan memasang wajah memelas sembari memutar-mutarkan pena yang masih saja ia genggam.

“Tidak tahu nih, gak ada ide apa?” Firman balik bertanya, namun yang lainnya bungkam. Taufiq masih saja menendang-nendang botol yang berserakan di pinggir trotoar.

“Oh ya…Imam, kau ada bawa bola kan?” tanya Dewantara melihat Imam dengan tas ransel yang berada di pundaknya.

“Apa? bola?” Imam yang merasa kebingungan pun balik bertanya.

“Iya, yang tadi kita pakai pas jam istirahat pertama,”.

Imam mendongak. Memikirkan kembali perihal bola yang dibahas Dewantara. “Ohhhh kalau itu sih ada.”

“Nah tuh kan. Siapa yang bodoh?” canda Dewantara pada sahabatnya yang terkenal pelupa itu.

“Iya, tolol sekali kau ini,” tambah Firman.

“Yuk kita main!” seru Taufiq.

“Eh tunggu dulu, tapi mainnya dimana?” tanya Dewantara pada teman-temannya yang entah ingin bermain di mana.

“Eh eh Dewantara, itu bukannya abangmu yah?” tunjuk Firman pada gerombolan anak yang sedang berbincang di warung kopi. Ada yang rambutnya diikat, ada yang penuh coretan pena di tubuh, dan ada yang sedang khidmat mendengarkan sambil menyeruput segelas kopi hitam. Mereka adalah Doni dan kawan kawan. Doni ialah kakak kandung Tara yang masih menginjak kelas satu SMP yang bersekolah tidak jauh dari kediamannya. Juga kebiasaan yang tidak jauh berbeda dengan adiknya. Bolos sekolah lalu keluyuran entah kemana. Walau sudah ditegur oleh guru, tidak membuat dua saudara itu jera akan hukuman. Menurut mereka ngumpul bareng teman lebih penting dibanding sekolah yang tidak berpengaruh. Jelas pemikiran yang belum terbuka, mengingat usia mereka hanya memikirikan kesenangan semata.

“Aha..gimana kalau kita tanding aja dengan mereka?” usul ide cemerlang Dewantara.

“Iya iya, kita tanding saja,” disambut meriah oleh Firman, Imam, dan Taufiq.

“Kak?” ucap Dewantara pada kakaknya yang masih asyik bergelut dengan rubik kesayangannya.

“Apa? Lah kok kau ada disini, bolos kau yah?” tanya balik Doni spontan.

“Eleh, enggak usah banyak bacot deh,” jawab Dewantara yang tak ingin basa-basi dengan abangnya.

Netra Doni memindai ketiga sahabat karibnya. Adalah Alif, Farhan, dan Satrio. Teman seperjuangan yang tak pernah lepas sejak berseragam putih merah. Melihat respon temannya yang mengangguk setuju, Donipun tak ingin lama-lama mengiyakan tantangan adiknya.

Jadilah lapangan dekat stasiun kereta menjelma saksi perhelatan pertandingan beda kelas itu. Saksi bertaburnya calon bintang sepak bola masa depan milik Indonesia. Negeri ini bangga punya mereka. Saling adu permainan dan kemampuan dalam mengolah si kulit bundar. Tara dengan gocekan mautnya, terkenal dengan nama Neymarnya Desa Pajang, sedangkan yang ditakuti sebab tendangan jarak jauhnya yang terenal akurat.

Waktu tanding satu jam tak terasa bak lima menit. Bulir keringat mengucur membasahi seragam. Pulang ke rumah masing-masing dengan membawa hasil sama kuat.

Kring.. Kring.. Kring…

Telepon rumah berbunyi. Ada panggilan masuk. Ibu berjalan menuju telepon rumah yang bertengger di ruang tengah. Dengan telapak tangan yang masih belepotan dengan adonan kue, Ibu meletakkan gagang telepon di telinga seraya berucap ringan ,“Iya Assalamualaikum, dengan siapa?” tanya ibu.

Sayup-sayup terdengar dari seberang “Waalaikumussalam, benar dengan Ibu Doni?, ini dari Pak Abdul, wali kelas Doni,” jawab Pak Abdul.

“Oh iya pak, kalau boleh tahu ada apa ya pak?” tanya Ibu balik.

“Gini bu, Doni tidak berada di area sekolah sejak jam ketiga tadi,” jawab Pak Abdul singkat.

“Ya Allah. Iya pak nanti akan saya beri tahu Doninya. Gusti, anak itu yah bener-bener,” tutur Ibu dengan menghembuskan nafas perlahan. Marah tentunya.

“Makasih Bu atas ketegasannya.”

“Iya pak, saya juga minta maas atas kelakuan anak saya di sekolah.”
“Iya bu, saya mengerti. Sekali lagi makasih bu, Wassalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.” Ucap Ibu sembari meletakkan gagang telepon. Tidak berselang lama, telepon rumah kembali berbunyi. Dengan nada seperti biasanya.

“Aduh, siapa lagi nih.” Batin Ibu. Ibu kembali ke ruang tengah, tempat telepon rumah biasa bertengger. Meletakkan gagang telepon di telinga seraya berucap ringan “Iya Assalamualaikum. Kalau boleh tahu ini siapa ya?”
Sayup-sayup terdengar dari seberang “Waalaikumussalam. Ini dengan Pak Zul, wali kelas Doni.”
“Oh iya pak, ada apa yah?” tanya Ibu pada wali kelas Dewantara.

“Gini bu, Dewantara terindikasi bolos pada jam ketiga pelajaran. Saya sudah mencari di seluruh area sekolah dan memanggil lewat toa sekolah. Dan pada akhirnya, saya beranggapan bahwa memang betul Dewantara bolos bersama tiga kawannya juga tidak berada di area sekolah.”

Astaghfirullah pak. Saya jadi merasa gimana yah. Saya mohon maaf atas kelakuan anak saya.”

“Iya bu, saya ngerti. Tidak apa-apa.”

“Terima kasih atas informasi yang Bapak berikan.”
“Iya, sama-sama bu. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Wassalamualaikum.”
“Waalaikumussalam,” jawab Ibu dengan membanting gagang telepon rumah.”

Ibu marah dengan berita kedua yang diterimanya. Mendengar kedua anaknya tidak berada di lingkungan sekolah adalah berita buruk. Di waktu yang bersamaan, kedua putranya melakukan hal yang sama sekali tidak mencerminkan sifat keluarganya. Keluarganya yang biasa melakukan hal-hal terpuji, kini dilanggar oleh anak di bawah umur tiga belas tahun. Mungkin wajar, mengingat usia yang dimana pemikirannya belum terbuka. Ibu kembali ke dapur. Bergelut dengan segala pernak-perniknya. Menunggu kedua putranya datang mengetuk pintu lalu menjelaskan perihal dari mana.

“Assalamualaikum,” Doni dan Dewantara mengucapkan salam sembari mendorong pintu rumah perlahan. Hening.

Terdengar sayup-sayup dari belakang.Dapur lebih tepatnya.“Waalaikumussalam.”
Doni langsung masuk kamar, sedangkan Dewantara masih heran dengan seisi rumah yang dirasa hening. Sepi sekali. Netra Dewantara memindai seluruh isi rumah. Ada adiknya, Aisyah yang sedang serius menjelajahi sebuah buku ringan.Imajinasinya sedang berkelana.Ya, Aisyah, si anak bungsu dari tiga bersaudara memang gemar membaca. Berpuluh halaman bisa ia baca dalam waktu satu malam. Usianya baru mengincak sembilan tahun, tapi kegemaran yang entah dari mana datangnya membuatnya tak bisa memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Salam kakaknya yang tak dijawab contohnya.

Dewantara menuruskan langkah, sadar tak ingin mengganggu adiknya yang sedang berkelana entah dimana.Dewantara melewati dapur. Piring, gelas, dan segala peralatan dapur sedang berdentingan. Seirama dengan tiupan angin menyibak rerumputan belakang rumah. Ibunya sedang sibuk. Dewantara meneruskan langkah, membiarkan ibu menyelesaikan pekerjaannya. Dewantara memasuki kamar, kakanya sudah tertidur pulas dengan dengkuran yang terdengar jelas. Merebahkan tubuh dan melihat atap kamar. Sadar, bahwa hari ini adalah hari yang melelahkan. Sejalan dengan kesalahan yang ia perbuat. Bolos sekolah. Sinar mata Dewantara mulai meredup, tambah meredup, menutup, lalu tertidur pulas.

Bruuaakkk.

Ibu memukul Dewantara dan Doni yang membuat mereka berdua terbangun dari mimpi masing-masing. Sadar akan perihnya pukulan Ibu, Dewantara dan Doni sontak berteriak, “Sakiiit Buuu.”

Netra Dewantara memicing. Melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima pagi. “Masih pagi sekali, belum saatnya ia dibangunkan,” katanya.

“Ayo sigap bersiap, kalian berdua hari ini membantu Ibu dan Ayah mengurus kebun,” seru Ibu.

“Haahh?” Dewantara dan Doni keheranan. Mendengar apa yang terucap dari bibir ibunya. “Tidak sekolah, Bu?, bukannya ini masih hari Rabu?” ucap Dewantara blak-blakan.

“Sudah, ikut saja dengan perkataan Ibu,” kalimat terakhir Ibu sebelum melangkah keluar kamar.

Meski agak sedikit terkejut, Dewantara senang hari ini bisa bebas dari segala hiruk pikuk sekolahan. Doni yang tak menggubris sepatah katapun langsung melonjak meraih handuk lalu sigap masuk kamar kecil. Percikan air terdengar seirama, dengan suasana hati yang terasa menggembirakan.

“Ayo bergegaslah,” seru Ibu dengan nada antusias. Bapak hanya tersenyum melihat dua anaknya yang sepertinya gembira tak mengenakan seragamnya masing-masing. Bapak mengerti apa yang mereka rasakan.

Maka bergegaslah Tara dan Doni menyusul kedua orang tuanya yang sudah terlampau cukup jauh di depan. Mereka saling memandang, menandakan batinnya sedang berkata “ada apa?” tanyaya.

Maka sampailah mereka pada kebun kopi milik orang tua mereka. Kedua orang tua Dewantara adalah satu satunya penduduk desa Pajang yang memiliki kebun kopi. Di antara seluruh penduduk desa yang rata-rata hanya memiliki sawah sebagai ladang pencaharian. Kebun kopi seluas tiga hektar terhampar luas di mata Dewantara dan Doni.Kagum.

Sudah lama netra mereka tak melihat pemandangan seindah ini, menghirup udara pagi yang sejuk bercampur aroma kopi yang menyegat indera penciuman.Menusuk. Ditariknya nafas dalam-dalam, sebagai tanda syukur sudah di beri kesempatan menghirup udara sesejuk ini. Kesempatan yang di berikan sang Esa, yang belum tentu bisa dirasakan banyak orang. Ayah dan Ibu memakai mantel yang biasa digunakan untuk berjelajah di antara hamparan kopi.

Ibu menyerahkan dua mantel yang berukuran sedang kepada dua anaknya itu seraya berkata “Pakailah sigap, banyak kopi yang akan kita panen hari ini.”

Dewantara dan Doni memasukkan dua lengan kecilnya pada mantel pemberian Ibu. Kebesaran. Bapak yang menangkap momen itu hanya tersenyum kecut lalu mendatangi mereka berdua. Dirangkulnya Dewantara dan Doni sembari memberikan dua keranjang yang nantinya akan menjadi wadah kopi lalu dibawa pulang. Keluarga kecil itu menyusuri kebun kopi nan indah dengan Bapak yang antusias menjelaskan perihal kopi dan manfaatnya, pada Dewantara dan Doni tentunya. Dewantara dan Doni khidmat memasang telinga.Sama antusiasnya. Seiring berjalannya sang waktu, dua keranjang terisi penuh dengan biji kopi yang siap dibawa pulang.

Dewantara dan Doni menggendong keranjang masing-masing. Berat rasanya, sangat berat. Ini dirasakannya untuk kali pertama yang saat itu melihat orang tuanya sambil memikul keranjang di punggung tak semudah yang dilihat mata. Tak terasa, tiga kali sudah Dewantara dan Doni bolak-balik membawa keranjang yang selalu terisi penuh.

“Ini kopi tidak ada habisnya yah?” Dewantara membatin karena rasa lelah yang menumpuk. Ini keranjang keempat yang dibawanya menuju rumah. Pada situasi ini, Dewantara bisa alami yang namanya bungkuk, karena beban lebih di atas pundak yang teramat sering.

Pada perjalanan menuju rumah, Netra Dewantara mendapati teman sekolahnya sedang pulang menuju rumah yang berbincang mengenai tugas sekolah yang susah, Pak guru menjelaskan tak ada yang mendengar, hingga jam istirahat yang selalu menjadi ajang kejar-kejaran antar siswa.

Jam istirahat tak pernah terdengar sepi, tak lepas dari suara-suara teriakan masa depan anak negeri. Momen seperti inilah yang mereka kenang dikala dewasa. Dewantara terpukul. Mengingat sekolah ternyata lebih asik dibanding memikul keranjang kopi tiap harinya. Lelah. Berbeda dengan sekolah, yang tugas kita hanya duduk, mendengar lalu mengerjakan tugas. Dengan bekal itu saja, kita dapat meraih sukses sesuai yang kita ingin.

Jika ada orang sukses yang dulunya hidup susah dengan bekerja di kebun, pematang sawah, atau bertaruh di samudera luas, itu wajar saja. Karena mereka hidup di zaman yang memang pendidikan belum di anggap sebagai sesuatu yang emas. Tapi karena tekad kuat yang membuat mereka berani keluar dari zona tersebut dan nekat pergi jauh demi mengenyam dunia pendidikan.

Berbeda dengan sekarang, jarang kita temui hal seperti itu. Orang tua zaman sekarang tidak lagi meminta anaknya untuk bekerja di kebun, pematang sawah, bahkan mencari penghidupan di samudera luas. Tidak, sama sekali tidak. Orang tua zaman sekarang lebih meminta agar anaknya bersekolah. Demi masa depannya sendiri. Bukankah apa yang mereka tanam itu yang mereka tuai?

Dewantara kembali ke kebun dengan wajah yang lesu. Raut kecewa terlukis jelas. Di jalan setapak yang dilaluinya, ia berpapasan dengan pamannya. Paman Nasrun namanya. Ia adalah paman dari sang Ibu.

“Eh lagi ngapain keponakanku yang ganteng?” tanya Paman dengan nada menggoda.

“Sedang memanen kopi paman, lelah sekali rasanya,” jawabnya singkat.

“Loh emangnya kamu tidak sekolah hari ini?”
“Tidak paman.”
“Lah kenapa?”
“Tidak tahu Ibu, paman.Tadi pagi langsung disuruh bersiap untuk membantu di kebun.”
Pamannya hanya mengangguk berusaha memahami.

“Padahal kamu bisa menolak loh untuk tetap sekolah. Bukan untuk melawan orang tua yah Tara. Dan paman yakin Ibumu pasti akan mengertiperihal tersebut. Lihat itu adek sepupumu baru pulang, dia langsung bercerita tentang segala hal yang terjadi di sekolahnya.Seru sekali. Paman khidmat mendengarkan. Minggu depan dia ikut dalam kejuaraan matematika se Kota Kabupaten,” jelas Paman.

“Wah seru sekali Paman,” kata Dewantara.

“Oh iya Dewantara, tadi dia bercerita kalau dia berpapasan dengan Pak Zul. Wali kelasmu,” Paman Nasrun melanjutkan kalimatnya.

“Oh ya paman? Terus?” Dewantara khidmat memasang indera pendengaran. Antusias akan apa yang hendak keluar dar mulut pamannya.

“Pak Zul selalu bertanya perihal kamu. Katanya Pak Zul terlihat gusar karena salah satu muridnya tidak masuk karena alasan yang tidak jelas.”

“Begitu ya Paman?”
“Iya, Dewantara.Sekolah itu penting, penting sekali.Sama halnya dengan situasi negeri yang makin genting.Negeri ini genting pendidikan, genting moral.Maka dari itu kita harus atasi dengan mengenyam dunia pendidikan sebaik mungkin.”

Dewantara hanya merunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Terpukul.
“Mungkin itu saja yang bisa paman sampaikan. Paman masih banyak pekerjaan. Kau juga harus secepatnya kembali, Ibumu pasti sedang mencari. Paman jalan dulu. Assalamualaikum,” tutur Paman Nasrun.

“Iya Paman, Waalaikumussalam.”
Dewantara kembali dengan semangat yang berkobar.Berniat memberitahu Ibu soal keinginannya kembali sekolah. Sesampainya di pelataran rumah, Dewantara tak ingin berlarut-larut dalam menyampaikan keinginannya. Ia pun dengan lantang berkata, “Bu, Dewantara ingin kembali bersekolah.”

Netra Ibu membelalak, sontak melihat Dewantara dengan alis yang melengkung. Heran.
“Sudah, kamu masuk dulu Dewantara. Doni juga,” Bapak menengahi dengan meminta kedua putranya untuk duduk di ruang tengah.

“Pokoknya Dewantara mau kembali bersekolah.Dewantara tidak mau tahu.”
Bruaakkk

“Dewantara!” Ibu memukul meja dan berteriak menyebut nama Dewantara. Mendengar anaknya yang membentak. “Sekarang Ibu tanya, kenapa kalian berdua bolos sekolah? Kalian berdua menyianyiakan jerih payah Ayah dan Ibu menyekolahkan kalian. Kalian tega dengan Ibu dan Ayah.” Ibu semakin emosional dengan tangan Ayah yang perlahan mendarat di pundak Ibu, mengusapnya perlahan. Berusaha menenangkan.

“Apa yang ingin kalian persembahkan untuk Ibu dan Ayah jika dewasa kelak, Ibu tak ingin kaian berdua menghadiahkan Ibu dan Ayah dengan ketidakjelasan kalian diwaktu dewasa. Ibu mendengar kabar dari guru kalian masing-masing kalau kalian bolos pada jam ketiga. Apa ini yang mau kalian hadiahkan ke Ibu? Nilai merah dan berita kalau kalian tidak berada di area sekolah? Ibu kecewa dengan kalian,” Ibu melanjutkan perkataanya panjang lebar.

Memukul perasaan Dewantara dan Doni yang senantiasa merunduk.Ibu sigap masuk bilik. Tak ingin menampilkan kesedihan di depan putra-putranya.

“Dewantara bolos karena tidak suka dengan sikap guru yang mengajar waktu itu. Yang tidak pernah menggubris saat Dewantara bertanya. Hanya karena sikap Dewantara yang seringkali ugal-ugalan. Dewantara nakal dan dibedakan dengan kawan yang lain. Dewantara punya niat yang kuat untuk belajar, Pak.” terang Dewantara blak-blakan. Menjelaskan tentang guru Ips yang seakan menjadi bumerang bagi Dewantara. Pengajar Ips itu seakan tebang pilih dalam mengajar. Bapak khidmat mendengarkan. Suara Dewantara perlu didengarkan.

“Kalau kamu Doni?” tanya Bapak pada Doni yang belum menjelaskan perihal penyebab bolos.

“Doni diajak temen, Pak,” jelas Doni langsung pada intinya.

Ibu keluar bilik dengan netra memerah melebam. Dengan isakan pelan, Ibu bertanya pada dua anaknya “Jadi, kalian mau kembali bersekolah atau bantu saja Ibu di kebun?”

Dewantara dan Doni sontak teriak “Sekolah Bu, itu pilihan mereka.

“Mulai besok kalian boleh sekolah kembali,” seru Bapak singkat.

Mata Dewantara berbinar. Seakan melihat cahaya di depan mata. “Serius Pak?”
“Eits, tapi dengan satu syarat.” pinta Bapak.

“Apa Pak? Dewantara janji bakal nepatin.Kak Doni juga. Iya kan kak?” Netra Dewantara menatap kakaknya yang sedari tadi hanya diam dan mengikut apa yang akan terjadi. Doni sontak menjawab, “Iya pak, Doni juga.”

“Okeh. Kalian berdua janji enggak bakal bolos lagi. Bapak tidak minta hadiah sebuah nilai di atas kertas, Bapak hanya meminta kalian patuh sama dan belajar dengan baik di sekolah. Perhatikan setiap perkataan yang diucapkan guru kalian. Perkataan yang diucapkan guru kalian itu laksana emas yang sebaiknya kalian ambil. Rugi jika kalian tidak nurut.Ini emas loh, ” Wejangan Bapak kepada dua putranya sambil mengepalkan tangan.

Dewantara dan Doni terbakar dengan wejangan dari Bapak. Mereka berdua saling menatap dan berkata mantap, “Iya, kita janji!”

Karya Muhammad Awal Rafi, siswa SMA Islam Terpadu Ar Rahmah Makassar.

Latest articles

GELAR KAJIAN KORIDOR PERDANA, PUSDAMM BAHAS BERISLAM DENGAN AKAL

Parangtambung, Estetika - Pusat Studi dan Dakwah Mahasiswa Muslim (Pusdamm) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar Kajian Koridor...

DEMA JBSI LAKSANAKAN KAJIAN DIKSI, PEMANTIK DISKUSI: SASTRA TIDAK KAKU

Parangtambung, Estetika - Dewan Mahasiswa (Dema) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan...

UNM GELAR WISUDA PERIODE FEBRUARI 2020

Makassar, Estetika – Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar wisuda periode Februari 2020 di pelataran Gedung Phinisi UNM, Jalan A.P Pettarani, Makassar, Selasa (25/2).

RIAK-RIAK MENUJU PEKAN SASTRA III, HMPS SASINDO ADAKAN SASTRA BERBAGI CERIA

Makassar, Estetika – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sastra Indonesia (Sasindo) Dewan Mahasiswa (Dema) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Fakultas Bahasa...
14.1k Followers
Follow

Related articles

Leave a Reply