Fri. Sep 25th, 2020

A’DINGING-DINGING, RITUAL TOLAK BALA MASYARAKAT KEPULAUAN SELAYAR

Selayar, Estetika – Ritual A’dinging-dinging merupakan warisan kebudayan turun-temurun di kalangan masyarakat Kampung Tenro, Desa Bontolempangang, Kecamatan Buki, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Letaknya sekitar 25 Km dari kota Benteng, Ibukota Kepulauan Selayar. Kebudayaan ini sudah ada sejak abad ke-17.

Tradisi ini digelar setiap hari Senin terakhir di bulan Muharram untuk memperingati hari lahirnya Kampung Tenro. Secara bahasa, A’dinging-dinging dapat diartikan sebagai aktivitas saling siram sehingga orang-orang yang melakukannya merasakan dingin karena terpapar air berkali-kali. Namun secara filosofi, ritual A’dinging-dinging adalah kegiatan yang dilakukan untuk menolak bala dengan air yang disiramkan kepada seseorang dan seisi kampung.

Ritual Penghormatan Arwah Para Leluhur

Prosesi ini diawali dengan ritual tolak bala yang dilaksanakan setiap tanggal sepuluh di bulan Muharram. Dalam prosesnya, terdapat rangkaian ritual penghormatan kepada arwah para leluhur dengan berziarah ke makam tua yang terletak di kompleks kampung Buki Tua, bekas perkampungan yang secara administratif masih berada di wilayah kampung Bo’dia, Dusun Tenro.

Pengambilan Air Suci di Buhung Latea    

Source: Int.

Rangkaian prosesi a’dinging-dinging selanjutnya, yakni masyarakat yang terdiri dari sembilan orang wanita dan dua orang bocah penabuh gendang diberangkatkan menuju Buhung Latea untuk mengambil air suci dengan menggunakan wadah bengki (Baca: tempat menyimpan dan membawa air yang terbuat dari tempurung kelapa). Buhung Latea sendiri adalah sebutan untuk sumur batu di Dusun Tanabau Tenro yang menjadi pusat ritual pengambilan air suci.

Menurut penuturan seorang tokoh masyarakat setempat, H.Lakka, konon Buhung Latea tercipta dari segenggam mata air yang dipindahkan dari sumur Tenro hanya dengan menggunakan tangkupan tangan (dikutip dari deniblog.wordpress.com).

Selama berlangsungnya ritual pengambilan air suci dimulai, pelaku ritual dilarang untuk berbicara sepatah kata pun kecuali suara gendang yang mengiringi upacara sakral ini. Iringan gendang akan terus ditabuh sampai para pelaku ritual kembali ke kampung dengan membawa tujuh buah wadah bengki berisi air suci. Di posisi depan, seorang wanita membawa dupa mengiringi langkah para pelaku ritual. Setiba di kampung, wadah bengki kemudian diletakkan di lantai rumah kayu yang merupakan tempat digelarnya ritual pembuatan dan pengisian mantra-mantra  ke dalam wadah bengki yang berisi air suci. Sebelum diletakkan, wadah penampungan air menyerupai gentong berbahan baku tanah liat ini terlebih dahulu diberikan alas daun pisang.

Ritual Pengisian Mantra-Mantra

Source: Int.

Setelah disemayamkan selama kurang lebih lima jam, barulah pada malam harinya digelar ritual pengisian mantra-mantra oleh dua orang pelaku pembuat air suci yang terdiri dari seorang lelaki dan perempuan yang menggunakan pakaian adat. Rangkaian upacara sakral tersebut terlebih dahulu diawali dengan pembakaran dupa yang ditandai dengan tabuhan gendang oleh dua orang bocah laki-laki. Bahan pelengkap adalah dua buah wadah pa’du’pa’ang yang berisi kemenyam, daun sirihm dan padi sangrai. Sejumlah wanita berbusana adat baju bodo kemudian datang dari arah pertengahan rumah dengan membawa selembar kain panjang, kemudian dibentangkan di tengah-tengah pelaku pembuat air suci sembari berkeliling dan melantunkan tujuh buah syair lagu dide’.  Kebanyakan syair lagu dide’ adalah kata mutiara yang menggambarkan berbagai sisi kehidupan masyarakat Kepulauan Selayar. Namun kadang juga termuat lontaran kata-kata jenaka dalam penyampaiannya. Langgamnya mirip alunan lagu dari seorang sinden.

Tidak jauh dari tempat duduk para tokoh masyarakat dan aparat pemerintahan yang diundang, terdapat sebuah meja dipenuhi dengan sejumlah piring kecil berisikan buah pisang, tebu, kulit jagung berisi tembakau, padi sangrai, dan lipatan daun sirih beralaskan dua buah bantal kepala, serta sebuah payung yang dipasang pada bagian atas meja guna menaungi piring-piring yang berada di bawahnya. Disamping meja, terdapat buah kelapa muda berwarna merah yang pada bagian atas dan sisi kiri-kanannya diberi hiasan daun sirih, bunga kayu karaeng, buah tebu, dan pisang masak.

Ketika memasuki pertengahan malam, para pelaku ritual secara bergantian akan melemparkan padi sangrai ke arah tamu yang hadir dalam ritual itu. Sebelumnya , mulut dua orang pelaku ritual pembuatan air suci terus menerus berkomat-kamit membaca mantra disertai pembacaan doa kehadirat Tuhan sebagai akhir dari rangkaian ritual. Ritual pembuatan air suci baru resmi berakhir setelah salah seorang sesepuh masyarakat masuk ke tengah-tengah pelaku ritual dan menyalami para pelaku ritual dengan sejumlah rupiah sebagai simbol rasa syukur serta bentuk penghargaan perwakilan warga masyarakat atas berjalan lancarnya seluruh rangkaian acara.

Kesurupan Hingga Tak Sadarkan Diri Warnai Ritual A’dinging-Dinging

Ritual A’dinging-dinging sering diwarnai oleh orang kesurupan, pingsan, hingga orang yang tak sadarkan diri. Dari penuturan sesepuh masyarakat setempat diketahui proses kesurupan biasanya bermula dari tingkah laku atau perbuatan segelintir warga masyarakat yang dinilai melanggar nilai-nilai adat dan asas kepatutan yang berlaku di kampung Tenro. Diakhir acara digelar permainan ketangkasan seperti mancapa’dang, permainan kartu, a’tojeng, dan penampilan tradisi dide’.

Prosesi Anrio-rio

Source: Int.

Keesokan harinya, air suci dan seluruh bentuk sesaji diangkat dan dipindahkan ke sejumlah lokasi yang akan menjadi tempat digelarnya prosesi anrio-rio. Sesaji berupa buah pisang, daun sirih, tebu, padi sangrai, kelapa muda merah, telur dan sesaji lain ditempatkan di tiga titik berbeda yaitu, makam tua Opu Bakka Tenro, Daeng Lempangang, Karaeng Langkasa, dan lokasi lain yang oleh masyarakat setempat diistilahkan dengan Pa’ Opu-Opuang serta Posi’na Tanaiya (pusat bumi).

Prosesi anrio-rio diawali dengan mengupas tobo muda yang sesekali diwarnai oleh teriakan histeris sejumlah warga masyarakat sebagai bentuk puji-puji kepada pemilik makam semabari berkeliling sebanyak tujuh kali. Usai mengelilingi lokasi makam dengan melantunkan syair lagu dide’, pelaku ritual anrio-rio berjalan ke arah lokasi pa’opu-opuang yang telah diberi hiasan berupa lengkungan nyiur berdaun muda lengkap dengan sesaji berupa nasi, telur dan kue cucur yang dipersembahkan untuk arwah pemilik makam.

Setelah itu, para pelaku anrio-rio kembali berjalan kaki menuju ke ujung kampung, tempat diletakkannya sesaji lain. Sekembalinya dari ujung kampung, barulah acara inti anrio-rio digelar secara resmi dengan iringan lagu dide’ dan tabuhan gendang.

Budaya anrio-rio ini diyakini oleh warga setempat sebagai ritual pengobatan berbagai jenis penyakit non medis melalui perantara doa dari pelaku anrio-rio bernama Daeng Tallasa. Biasanya ritual ini diakhiri dengan pagelaran manca pa’dang yaitu kesenian bela diri yang menggunakan alat pertahanan diri berupa pedang, a’tojeng yaitu berayun di atas ayunan raksasa dengan tinggi tiang penyangganya sekitar lima sampai semilan meter dan jamuan makan bersama bagi para tamu undangan kehormatan seperti pejabat daerah serta tamu dari luar kampung.

Reporter: Suhartini Lestari

Leave a Reply

Skip to toolbar